Home Seni Budaya Menggugah Jiwa Jakarta, KLB Luncurkan dan Bedah Buku Enam Simfoni Aksara di PDS HB Jassin

Menggugah Jiwa Jakarta, KLB Luncurkan dan Bedah Buku Enam Simfoni Aksara di PDS HB Jassin

41
0
SHARE
Menggugah Jiwa Jakarta, KLB Luncurkan dan Bedah Buku Enam Simfoni Aksara di PDS HB Jassin

Keterangan Gambar : Peluncuran Buku, Diskusi & Musikalisasi Puisi, Enam Simfoni Aksara, di PDS HB Jassin, Kamis (23/07/2026) (sumber foto : rat/pp)

JAKARTA - Parahyangan Post– Mengambil momentum untuk terus merawat api literasi di tengah modernisasi megapolitan, Komunitas Literasi Betawi (KLB) sukses menggelar acara peluncuran dan bedah buku antologi terbaru mereka yang bertajuk "Enam Simfoni Aksara". Perhelatan ini berlangsung khidmat sekaligus semarak di Aula Utama Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, pada Kamis (26/7/2026).

Karya enam pengurus KLB, yaitu Irawan Sandhya Wiraatmadja, Sam Muktar Chaniago, Yahya Andi Saputra, Wahyu Toveng, Nurhadi Maulana Saibin, Piet Yuliakhansa.

Acara ini dihadiri oleh Pembina KLB, Irawan Sandhya Wiratmadja, Ketua PDS HB Jassin, Diki Lukman Hakim, Ketua Panitia Wahyu Toveng, Pianis dan Komponis Ananda Sukarlan, para sastrawan senior, budayawan Betawi, akademisi, mahasiswa, hingga para pencinta literasi urban Jakarta. Kehadiran karya ini dinilai sebagai angin segar sekaligus pembuktian bahwa identitas kultural tidak lantas terkikis oleh zaman, melainkan mampu bersimbiosis secara kreatif lewat aksara.

Harmoni Enam Sudut Pandang, dalam kesempatan tersebut Irawan Sandhy Wiraatmadja dari Komunitas Literasi Betawi menyampaikan bahwa "Enam Simfoni Aksara" bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan sebuah manifesto. Buku ini merangkum suara dan perspektif yang saling berkelindan dalam memotret dinamika, keresahan, serta romantisme manusia Betawi modern yang hidup di tengah pusaran arus globalisasi.

Sebagai simbol integrasi karya ke dalam lini masa sastra nasional, prosesi peluncuran ditandai dengan penyerahan buku secara simbolis dari perwakilan penulis kepada pengelola PDS HB Jassin untuk diarsipkan, dan juga kepada perwakilan komunitas satra.

Memasuki sesi yang paling dinantikan, yakni bedah buku, diskusi mengalir hangat dipandu oleh narasumber Saifur Rohman (Akademisi) dan Ikhsan Risfandi, serta moderator Yahya A Saputra, yang membedah karya ini dari berbagai sudut pandang estetika dan sosiokultural.

Saiful Rahman lebih menyoroti bagaimana buku ini berhasil mendobrak batas stereotip lama. Selama ini, narasi Betawi dalam budaya populer kerap diidentikkan dengan humor instan atau karakter yang karikatural. Namun, "Enam Simfoni Aksara" hadir dengan pendekatan yang berbeda. Penulis dalam antologi ini dinilai mampu menyuguhkan narasi yang kontemplatif, mendalam, dan reflektif mengenai realitas sosial masyarakat Jakarta saat ini.

Dari aspek linguistik, Saiful Rahman memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian para penulis yang secara organik menyisipkan dialek dan idiom Betawi—baik Betawi Tengah maupun Betawi Ora (pinggiran). Langkah ini dinilai sebagai bentuk resistensi budaya dan upaya konkret untuk menyelamatkan kekayaan kosakata lokal agar tidak asing di telinga Generasi Z dan Alpha.

Sementara itu secara struktural,menurut Ikhsan Risfandi menilai bahwa karya-karya di dalam buku ini tidak lagi terpaku pada gaya penulisan folklore atau cerita rakyat tradisional yang konvensional. Sebaliknya, gaya yang ditawarkan sangat eksperimental, memadukan realisme magis dengan napas pop perkotaan (urban pop), sehingga terasa sangat relevan dengan pembaca muda.

"Buku ini membuktikan bahwa menjadi Betawi tidak berarti harus gagap menghadapi modernitas. Enam Simfoni Aksara adalah bukti nyata bagaimana tradisi dan kontemporeritas bisa berdansa dengan sangat elok dalam satu panggung sastra," ujarnya di sela-sela pemaparannya.

Di akhir sesi, kedua narasumber sepakat dan menegaskan bahwa peluncuran ini tidak boleh menjadi titik akhir. Rekomendasi besar ditekankan agar buku ini menjadi salah satu referensi penting dalam kajian sastra urban di PDS HB Jassin. Selain itu, KLB diharapkan terus melanjutkan estafet ini melalui lokakarya penulisan kreatif di akar rumput agar ekosistem literasi Betawi tetap bergerak dinamis dan melahirkan regenerasi penulis baru.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif antara peserta dan penulis, dilanjutkan dengan ramah tamah serta foto bersama. – (rat/pp)

Video Terkait: