Oleh: Ihsaniah Fauzi Mardhatillah,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Assalamu’alaikum, Bestie sobat Muslim! Gimana kabarnya hari ini? Pasti hal pertama yang kamu pegang pas bangun tidur itu smartphone, kan? FYI aja nih, buat kita para milenial dan Gen Z, media sosial itu sudah kayak nafas sendiri. Bukan cuma soal posting foto estetik atau cari hiburan, tapi medsos sudah jadi tempat kita mencari identitas dan bangun relasi.
Tapi tahu enggak sih, gaes? Data terbaru di akhir 2025 menunjukkan ada sekitar 180 juta pengguna medsos di Indonesia. Itu artinya sekitar 62,9% dari total populasi kita nggak bisa lepas dari dunia digital! Serunya lagi, ternyata pengguna ini didominasi oleh kaum hawa sebesar 56,3%. Rata-rata kita menghabiskan waktu 2–4 jam sehari, bahkan ada yang sampai lebih dari 8 jam hanya buat scrolling!
Masalahnya, pergeseran cara kita cari info ini bukan cuma soal gaya hidup. Ini soal "perang" pemikiran. Jangan sampai kita cuma jadi objek algoritma yang disetir tanpa punya kendali. Yuk, kita intip lebih dalam gimana medsos ini sebenarnya memengaruhi jiwa kita sebagai Muslim!
Ruang digital itu ibarat pisau bermata dua. Tapi jujurly, sistem Sekuler-Kapitalisme yang kita jalani sekarang bikin medsos jadi tempat yang toxic. Kenapa? Karena sistem ini cuma peduli soal cuan (profit), bukan moral.
Bedah realita (The "So What?" Layer): Sobat Muslim harus tahu, "Final Boss" di balik medsos adalah para kapitalis raksasa. Bayangkan, kekayaan CEO Meta, Mark Zuckerberg, tembus USD267 miliar atau sekitar Rp4.375 triliun! Itu angkanya melebihi belanja APBN Indonesia tahun 2025, Gaes! Gila banget, kan? Mereka membidik kita sebagai pasar buat menumpuk harta dengan cara menyebarkan budaya konsumerisme dan liberalisme.
Hasilnya? Pertama, jeratan pinjol. Ada 222 juta unduhan aplikasi pinjol, hampir menyaingi jumlah penduduk kita! Dan 54,06% korbannya adalah anak muda (19–34 tahun). Mirisnya, 58% dari mereka pakai pinjol cuma buat gaya hidup dan hiburan. Ini bukti kita dipaksa jadi hamba materi.
Kedua, krisis mental. 48% anak Indonesia kena cyberbullying dan 1 dari 3 remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Kita jadi haus validasi, kena FOMO, dan hobi membandingkan diri sama orang lain.
Ketiga, jebakan kebenaran relatif. Pernah dengar orang bilang "Kebenaran itu relatif, tergantung sudut pandang"? Hati-hati, Bestie! Itu adalah narasi sekuler yang dipopulerkan tokoh Barat seperti Charles Kimball. Mereka mau bikin kita ragu sama agama sendiri dengan alasan "metode ilmiah". Padahal bagi kita, kebenaran itu mutlak dari Allah SWT.
Berikut perbandingannya biar kamu makin smart menyaring konten berdasarkan viral, Tujuan utama popularitas dan cuan (materi), kebenaran relatif (metode ilmiah/netizen), gaya hidup hedonisme dan konsumerisme (pinjol) dan dampaknya menjadi mental fomo dan haus validasi.
Nah, Bestie coba kita bandingkan dengan standar syariat (Islam) tujuan utama ridha Allah dan manfaat umat, kebenaran mutlak wahyu Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 147 yang artinya, "Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Karena itu janganlah sekali-kali kalian menjadi orang yang ragu", ditambah gaya hidup sederhana dan terikat syariat sehingga berdampak mental tenang dan percaya diri (qanaah).
Gaes, kita ini bukan cuma objek yang bisa dijajah secara digital! Kita adalah subjek perubahan. Jangan mau cuma jadi Digital Slave yang cuma ikut-ikutan tren dance nggak jelas.
Aksi nyata (transformasi) gunakan jempolmu buat amar ma'ruf nahi munkar. Jadikan medsos senjata untuk membongkar kebobrokan sistem saat ini dan menyuarakan pembelaan buat saudara kita di Palestina. Ini namanya kepedulian ideologis!
Role model challenge lupakan influencer yang pamer flexing. Kita punya real influencer yang vibes-nya jauh lebih berkelas seperti Ali bin Abi Thalib, pemuda cerdas yang berani ambil risiko besar demi Islam. Usamah bin Zaid, panglima perang termuda (18 tahun) yang disegani dunia. Ditambah ashabul Kahfi, geng pemuda yang berani ghosting dari sistem yang rusak demi menjaga iman.
Medsos syari check-list, niatkan setiap postingan sebagai tabungan pahala/dakwah, zero hoax, pastikan konten valid dan tidak mengandung ujaran kebencian, tutup aurat dan jaga kehormatan dalam setiap konten visual, edukasi teman-temanmu tentang Islam yang kaffah (menyeluruh) dan suarakan isu umat, bukan cuma isu personal yang receh.
Sobat Muslim, perjuangan individu itu penting, tapi kita butuh perlindungan sistemik. Saat ini, pemerintah memang sudah mengeluarkan PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas) melalui Menkomdigi Meutya Hafid. Tapi, langkah ini masih bersifat pragmatis alias cuma "obat pening" sementara, karena akarnya (sistem sekuler yang memuja materi) belum dicabut.
Visi masa depan Islam sebagai perisai digital dalam Islam, negara itu berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (perisai). Negara enggak cuma sibuk membatasi akses, tapi membangun ekosistem digital yang sehat.
Tiga pilar perlindungan digital dalam Islam, yakni: Pertama, pendidikan aqidah. Membentuk mindset generasi agar punya filter otomatis terhadap konten negatif. Pintar digital, kuat iman.
Kedua, penegakan hukum syara'. Negara bertindak tegas menghapus konten pornografi, penipuan, dan liberalisme dengan sanksi yang bikin jera.
Ketiga, kemandirian teknologi. Ini yang paling keren! Khilafah akan membangun infrastruktur mandiri, mulai dari hardware, sistem operasi, AI, sampai keamanan siber sendiri. Tujuannya agar umat Islam nggak terjajah secara budaya dan politik oleh platform asing. Teknologi dalam Islam adalah alat penguatan umat, bukan instrumen penjajahan!
Bestie sobat Muslim, medsos itu cuma alat. Di tangan yang salah, dia jadi jeratan riba dan krisis mental. Tapi di tangan pemuda yang sudah glow up imannya, medsos bisa jadi kunci kebangkitan peradaban!
Waktunya kita ambil langkah nyata, ikut pembinaan Islam secara kaffah. Hanya dengan pemahaman Islam yang utuh, kita bisa punya identitas kuat dan nggak gampang disetir algoritma kapitalis. Manfaatkan potensi hebatmu sekarang!
"Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum datang masa tuamu" (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).
Ayo jadi bagian dari generasi pejuang yang bakal membawa kembali kemuliaan Islam. Kamu siap jadi pelopor perubahan? Let's go! (*)






LEAVE A REPLY