Home Ekbis Poniman: Selain Solusi Pengendalian Sampah Organik, Ternak Ulat MAGOT Menguntungkan

Poniman: Selain Solusi Pengendalian Sampah Organik, Ternak Ulat MAGOT Menguntungkan

316
0
SHARE
Poniman: Selain Solusi Pengendalian Sampah Organik, Ternak Ulat MAGOT Menguntungkan

JAWA TENGAH -- Parahyangan Post -- Pemerintah Daerah, baik mulai tingkat Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya hingga tingkat Propinsi hendaknya melirik upaya yang dilakukan oleh kaum muda tani di Dusun Simpangsari, Desa Kasmaran, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Mereka yang tergabung dalam Kelompok Tani BERKAH KINARYO merupakan kelompok tani yang dimotori oleh petani muda yang dinamis. 

"Bila ada usaha ternak MAGOT bolehlah kami tukar informasi terkait beternak ulat ????, karena kami ingin mencoba di daerah dingin juga di Pulosari, Pemalang, Jawa Tengah?" Tanya Reporter. 

"Boleh kami juga masih belajar,daerah dingin menyesuaikan pakan. Pada prinsipnya, suhu di Desa Kasmaran tidak mempengaruhi usaha ternak MAGOT." Jawab anggota Bidang Kewirausahaan dari Kelompok Tani Berkah Kinaryo, Poniman. 

"Barusan kami ketemu Imam di lokasi peternakan dan mendapat informasi baru 2 bulan terakhir usaha ternak ulat MAGOT?" Tanya Reporter kembali.

"Bisa jelaskan Kelompok Tani milenial yang punya satu satunya usaha ternak ulat MAGOT ini ada usaha apa saja?" Kejar Reporter semangat. 

"Kami juga membuat kopi, namanya Kasmarandana dengan jenis Arabica Coffee. Kopi bubuk Arabica ini berasal dari jenis biji Arabika. Slogan "Kenangan Indah dalam Kehangatan Kopi"  demi mendekatkan kopi produk kami kepada masyarakat luas. Kopi kami sudah beredar luas di Jawa Tengah meski dalam skala kecil, " tambah Poniman.

Menurut Poniman selama ini sampah organik hanya dibuang begitu saja di tempat pembuangan sampah. Tapi, sejak 2 bulan terakhir ada solusi menarik yaitu sampah organik tersebut diambil dan diberikan kepada ulat magot yang ada di Dusun Simpangsari.

Poniman yakin, andai dalam skala kecil saja masyarakat di Dusun Simpangsari, Desa Kasmaran bisa menanggulangi masalah sampah organik, niscaya Pemprop Jawa Tengah pun mampu lakukan hal yang sama.

"Semua sampah setelah dipilah, mana yang organik dan mana yang non organik maupun sampah B3,  maka yang masuk klasifikasi sampah organik bisa kita berikan kepada ulat MAGOT," tutur Poniman.

Sementara itu eks Penyuluh Pertanian di Tembilahan, Indragiri Hilir, Riau (1983 -1985) Suta Widhya SH berkomentar bahwa dirinya saat ini sedang melakukan studi banding antara Desa Kasmaran dan Desa/Kecamatan Pulosari, Pemalang, Jawa Tengah terkait ternak ulat MAGOT.

"Ada persepsi iklim di kedua daerah ini dingin (18-24°C) sehingga akan menjadi kendala untuk berkembang-biaknya ulat magot. Nyatanya tidak. Ulat super ini asal suplai makanan cukup maka tetap bisa hidup di daerah panas (Jakarta) dan dingin sekalipun. Oleh karena kami himbau agar pemerintah melirik budi daya magot. Ulat ini membantu mengurai sampah organik dengan dihabiskan tanpa sisa. Lihatlah, bangkai unggas pun jadi tidak bauk saat ditaruh di tempat magot, karena langsung digerogoti oleh kumpulan magot yang memakan saja kerjanya sepanjang waktu, " tutup Suta.

(hans/pp)