Home Opini TIGA HIKMAH AMANAH KETUA UMUM PENGURUS BESAR AL WASHLIYAH DI AKHIR DESEMBER 2021

TIGA HIKMAH AMANAH KETUA UMUM PENGURUS BESAR AL WASHLIYAH DI AKHIR DESEMBER 2021

331
0
SHARE
TIGA HIKMAH AMANAH KETUA UMUM PENGURUS BESAR  AL WASHLIYAH DI AKHIR DESEMBER 2021

Oleh: H. J. FAISAL *)

Ada tiga hal yang sangat esensial dan krusial, yang diamanatkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iayatul Waashliyah, yaitu Dr. KH. Masyhuril Khamis, kepada warga anggota organisasi Al Jam’iyatul Washliyah (Washliyin) dalam acara wisuda mahasiswa Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan, dan acara pemberian beasiswa kepada 50 siswa berprestasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah di kota Medan, pada tanggal 21 dan 22 Desember 2021 yang lalu.

Di dalam kedua acara tersebut, Dr. KH. Masyhuril Khamis mengamanatkan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan oleh para anggota Washliyin, khususnya para pelajar, mahasiswa, dan seluruh akademisi di lingkungan Al Washliyah, yaitu pentingnya peningkatan sumber daya manusia para anggota organisasi Al Washliyah tanpa terkecuali, kemudian menanamkan rasa bangga dan menggunakan cara-cara berorganisasi yang cerdas terhadap organisasi Al Washliyah, dan terakhir adalah penguasaan teknologi digital dan informasi di lingkungan pendidikan dan akademisi Al Washliyah.

Peningkatan Sumber Daya Manusia Anggota Organisasi

Seperti kita ketahui bersama, jika kita jabarkan sedikit,  bahwa sumber daya manusia merupakan sumber daya yang utama bagi sebuah organisasi untuk menjalankan roda kegiatannya dalam upaya pencapaian tujuan organisasi tersebut. 

Ada berbagai upaya di dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di dalam sebuah organisasi, antara lain dengan melakukan pelatihan manajemen berorganisasi, melakukan peningkatan kualitas jenjang pendidikan para anggota organisasi, baik secara jenjang, maupun dengan peningkatan kualitas keilmuannya. 

Cara berikutnya adalah dengan melakukan rekrutmen anggota organisasi dengan proses yang berkualitas berdasarkan hasil uji kelayakan terlebih dahulu terhadap calon anggota organisasi. Dari proses input yang berkuaitas tersebut, maka diharapkan akan terjadi sebuah proses yang berkualitas pula, sehingga pastinya akan mendapatkan output yang baik, sehingga tujuan organisasi dapat cepat tercapai. 

Berikutnya, adalah dengan mengadakan perubahan sistem manajemen organisasi untuk lebih berpihak kepada peningkatan sumber daya manusia itu sendiri. Seorang pemimpin yang visioner sebenarnya tidak perlu takut untuk merubah sistem manajemen organisasi yang sudah ada, jika memang sistem tersebut sudah usang, tidak mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia anggota organisasi, apalagi tidak sesuai dengan keadaan dan situasi jaman yang sedang berlangsung. 

Perubahan sistem organisasi yang telah usang juga bertujuan untuk meminimalisir, bahkan dapat menutup celah konflik yang akan terjadi di antara sesama anggota organisasi. Karena sebuah organisasi tidak akan pernah mendapatkan hasil baru yang berbeda, jika dilakukan dengan cara yang lama. 

Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan penghargaan (reward) kepada anggota organisasi yang memang telah memberikan bukti prestasi yang nyata, serta memberikan kesempatan (opportunity) kepada anggota organisasi yang memang dianggap layak untuk maju sebagai pemimpin yang baru. Dengan demikian maka akan tercipta sebuah regenerasi organisasi yang sehat, yang berlandaskan kepada kemampuan riil, dan bukan regenerasi atau suksesi kepemimpinan yang  berdasarkan kepada pertemanan dekat semata.

Penanaman Rasa Bangga Terhadap Organisasi

Rasa bangga dan rasa memiliki yang tinggi dari setiap anggota organisasi terhadap organisasinya merupakan sebuah hal yang sangat biasa. Namun hal tersebut menjadi sangat luar biasa ketika rasa bangga tersebut juga diiringi dengan kualitas berorganisasi yang lebih baik pula. 

Ketika ada rasa bangga yang berlebihan terhadap organisasi naungannya, bahkan sampai kepada tahap taklid buta (ashobiyah), maka akan muncul ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan.  

Rasa bangga yang seimbang adalah rasa bangga yang diiringi dengan peningkatan kualitas atau peningkatan prestasi dari anggota organisasi tersebut. Ketika prestasi dan kualitas yang dihasilkan oleh organisasi tersebut memang telah diakui kenyataannya oleh pihak lain, juga telah dirasakan langsung manfaatnya oleh orang banyak, maka disitulah rasa kebanggaan yang sebenarnya muncul.

Artinya, kebanggaan tersebut merupakan kebanggaan yang seimbang antara, kosep, harapan, dan kenyataan. 

Seperti yang pernah dikatakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iayatul Waashliyah, yaitu Dr. KH. Masyhuril Khamis, rasa bangga itu harus dibina dan dibentuk dari anggota organisasi yang terkecil, baik dalam bentuk perorangan maupun kelompok, dari pelajar Al Washliyah di tingkat satuan pendidikan yang terkecil sampai dengan yang paling tinggi, begitu juga di kalangan pengurus, yaitu pengurus daerah sampai kepada pengurus pusat.

Para pelajar dari seluruh tingkat satuan pendidikan ini, harus diperhatikan pendidikannya agar ketika mereka telah selesai mencapai tingkat pendidikan yang tertinggi, mereka akan merasa sangat bangga untuk mengamalkan ilmu-ilmu mereka di lingkungan pendidikan Al washliyah kembali.

Dengan proses pembentukan kaderisasi dan regenerasi organisasi yang berkualitas pula, merupakan salahsatu cara menanamkan rasa bangga yang cerdas, rasa bangga yang sesuai antara harapan dan kenyataan atau berimbang, dan rasa bangga yang dapat meningkatkan harga diri organisasi.

Penguasaan Teknologi Digital

Amanah Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iayatul Waashliyah berikutnya adalah memulai proses digitalisasi di lingkungan pendidikan Al Washliyah secepatnya, mulai dari satuan tingkat pendidikan yang paling kecil, sampai kepada satuan tingkat pendidikan yang paling tinggi. Tentu saja amanah ini sangatlah beralasan untuk dilakukan secara cepat.  

Pada dasarnya, digitalisasi adalah sebuah keadaan zaman yang tidak bisa dihindarkan keberadaannya saat ini. dan satu hal yang perlu kita ketahui bersama pula, bahwa sesungguhnya, proses teknologi yang berdasarkan kepada proses digitalisasi bukanlah proses teknologi yang baru.

Sejak ilmuwan Islam yang bernama Al Khwarizmi menemukan angka 0 di tahun 883 M, dan disempurnakan dengan bilangan binary oleh ilmuwan Jerman yang bernama Gotfried Wilhem Liebniz pada tahun 1700-an M, maka artinya dunia dan kehidupan manusia sudah memasuki zaman digitalisasi, yang artinya semua proses teknologinya menggunakan proses teknologi digital, termasuk teknologi informasi yang kemajuannya sedang kita nikmati saat ini.

Maka, digitalisasi kehidupan manusia di segala bidang, khususnya bidang pendidikan Islam merupakan sebuah hal yang tidak bisa tertolak keberadaannya. Kemajuan teknologi informasi dan teknologi lainnya juga merupakan ekses dari kemajuan teknologi yang berdasarkan digitalisasi teknologi.

Ketika kita sebagai umat Islam mampu untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi digitalisasi ini, maka artinya kita mampu untuk menjadikan kemajuan teknologi ini sebagai alat untuk mencapai tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri, yaitu menjadikan Islam dan umatnya sebagai Rahmatan lil 'alamin.

Sesungguhnya teknologi di dalam Islam bukanlah tujuan, tetapi hanyalah merupakan alat untuk menjadikan proses pendidikan Islam semakin mudah di dalam prosesnya, dan semakin berkualitas dari sisi output nya, sehingga misi dakwah dan syiar Islam yang terdapat di dalam tujuan pendidikan Islam semakin cepat tercapai dan semakin mudah tergapai oleh seluruh umat manusia.

Tetapi ketika umat Islam tidak mampu  atau bahkan salah di dalam memanfaatkan teknologi berbasis digitalisasi ini, maka pendidikan Islam akan menemukan hambatan di dalam kemajuannya.

Untuk itulah, maka sangatlah ditekankan kepada seluruh satuan tingkat pendidikan di lingkungan Al Washliyah agar mulai menggunakan teknologi digitalisasi ini untuk membantu proses pembelajaran di kelas dan luar kelas, memperlancar dan mempermudah proses administrasi sekolah, termasuk administrasi keuangannya, juga untuk mempermudah proses input, proses inti, dan proses output sekolah, dan juga universitas. 

Untuk itu pula, maka sudah seharusnya dan sudah sewajarnya para pendidik atau guru-guru di lingkungan Al Washliyah tidak lagi gagap teknologi, apalagi sampai tertinggal  dengan kemajuan teknologi digitalisasi ini. 

Karena mau tidak mau, suka tidak suka, mulai abad ke-21 ini, umat manusia hidup di dalam era digitalisasi yang sangat canggih dan sangat cepat perubahannya,  sehingga kita harus mampu untuk beradaptasi dengannya.

Teknologi bukan untuk dihindari, tetapi untuk digunakan sebagai alat yang justru membuat pendidikan Islam semakin berkembang, dan dapat mensyiarkan Islam lebih baik lagi.

Jayalah Al Washliyah Zaman Berzaman

Wallahu’allam bisshowab

Jakarta,   26 Desember  2021

*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor/ Anggota Majelis Pendidikan Pengurus Besar (PB) Al Washliyah.