Home Seni Budaya Terlambat Sudah..

Terlambat Sudah..

#Cerpen

310
0
SHARE
Terlambat Sudah..

Oleh : Eka Handayani *)


Wow segar rasanya…., 

Setelah  beberapa hari ini dapat menghirup udara di pantai.  Ya, pantai Balangan di Jimbaran, Bali ini, memang terkenal, banyak wisatawan asing, ada diantara mereka yang Surfing, sebagian lagi menikmati terik mentari sembari berjemur pada pagi sampai siang hari, dan ada juga yang sekedar duduk-duduk menikmati keindahan pantai. 

Para wisatawan begitu menikmati suasana pantai Balangan, ini. Seolah enggan untuk pulang ke negeri asalnya yang tidak pernah akan ditemukan suasanya seperti disini. 

Tetapi untuk kali ini Pantai Balangan tidaklah begitu ramai, pandemic Covid-19, sangat dirasakan pengaruhnya bagi dunia pariwisata, tidak terkecuali di Pantai Balangan ini. Memang ada beberapa wisatawan masih tinggal disini, dan semua aktivitasnya diharuskan mentaati protokol kesehatan, demi keamanan menghindari penularan Virus Corona yang konon mematikan itu. 

Pandemi Covid-19 ini benar-benar berdampak bagi Pulau Dewata yang andalan utamanya dari sektor wisata, semoga pandemic ini segera berakhir, dan wisata di Pulau Dewata kembali bangkit. 

Tiba-tiba angin pantai berhembus begitu kencang, seolah ingin menyapa setiap yang ada disana, hingga desiran anginya itu sampai melepaskan ikatan rambutku, yang akhirnya terurai menutup setengah wajahku. Akupun segera menyeka rambut, agar tidak menutupi mataku yang sedang memandangi suasana pantai yang begitu elok. 

Sementara dari kejauhan deburan ombak bergulung, menerjang batu karang, deburan airnya menimbulkan riak-riak suara bagaikan alunan musik, bergemuruh,  sementara itu, burung-burung camar diatas sana saling berkejaran, riang gembira. 

Saup-sayup alunan gendang dan musik tradisional khas Pulau Dewata dari sebuah Pura terdekat, terdengar begitu nyaring, mendera kalbuku, dan akupun tersadar. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu di Pantai Balangan ini. 

Ku lihat jam tanganku menunjukan jam enam sore Waktu Indonesia Tengah (Wita), perlahan aku bangkit dari tempat dudukku dipinggir pantai itu, berjalan kearah yang bisa untuk melihat sunsest, dilagit yang begitu cerah sore itu. 

Dari kejauhan aku terpana dengan keindahannya, begitu menakjubkan. Dalam hati kecilku, membathin betapa indahnya alam ciptaan yang Maha Kuasa, Sang Pengatur Alam Semesta. 

Inilah salah satu panorama negeriku yang begitu indah disaat mentari akan beradu ke-pembaringanya, perlahan terbenam, tinggal sinarnya yang  merona diufuk sana dan perlahan-lahan hilang, haripun berganti malam, gelap, digantikan oleh sinar-sinar listrik warna warni. 

Seraya, akupun berucap syukur atas segala anugerah Sang Maha Kaya. 

Seiring dengan terbenamnya mentari, akupun bergegas meninggalkan pantai yang mulai gelap, menuju ke Villa. Ya, Vila ini tidak begitu besar, tetapi cukup untuk diriku yang tinggal seorang diri. Disini ada kolam renang, di tengah ada ruang tamu, beberapa lukisan yang begitu indah, serasi dengan penempatan diruanganya, semuanya tertata begitu rapi, bagus dan enak dipandang. 

Aku melepas rasa penatku, seraya menyandarkan diri disebuah sofa disudut ruang tamu sambil menonton televisi. Aku memencet remot tv untuk mencari chanel yang kusukai, akhirnya aku melihat salah satu saluran tv swasta nasional yang sedang menayangkan acara ‘garis tangan’ dengan pemandu acara Robi Purba dan Roy Khyosi, acara ini cukup menarik bagiku. 


Intinya dalam acara tersebut menggambarkan tentang cinta dan kesetian, yang dibumbui dengan nuansa magics, cukup seru.  Begitu ada jeda iklan, aku gunakan kesempatan itu untuk ke dapur, membuat mie rebus, karena aku sudah malas untuk keluar lagi beli makanan malam. 

Ditengah keseriusan itu, tiba-tiba benda pipih bergetar, HP-ku berbunyi, aku melongok sambil melihat siapa gerangan yang menelpon. 


“Dikrans Takvorian, is calling….” 

Wow, aku terperanjat…!!! 

Bagaimana aku tau,  kalau Dikrans sudah kembali ke Bali, aku bertanya dalam hati kecilku. Sudah lama aku tidak bertemu denganya kira-kira hampir sepuluh tahun, setelah dia tidak lagi bekerja di perusahaan kakaknya. 

“Dikrans Takvorian”, ya begitu biasa dipanggil dengan nama depanya saja ‘Dikrans’, profesinya designer Jewlery, salah satu perusahaan di California (USA). 

Dia memang ahlinya dibidang itu, aku masih ingat saat terakhir kali aku bertemu dengan-nya. Dirans membuatkan aku kalung yang bagus dengan liontin Batu Safir, juga sebuah cicin yang bertatahkan Batu Permana Jamrut Hijau yang dikelilingi dengan berlian, indah sekali. 


*** Flash Back *** 

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, aku bertemu ‘Dikrans’ di salah satu diskotik ternama di Bali, tepatnya di ‘Bounty Club’. Waktu itu aku kesana dengan seorang teman dari Pulau Batam, tetapi aku tidak tahu, tiba-tiba teman dari Batam itu menghilang begitu saja, dan aku mencarinya kesana kemari,  di sekeliling diskotik, tidak ada. 

Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, melewati lorong dan menuruni sebuah tangga. Ketika sampai dipertengahan,  tiba-tiba seseorang menabrakku, ….brakh..!!! 

Aku terkejut, dan juga sempat berteriak, kepada pria asing itu. 

“What are you doing,.. dan akhirnya di bilang. “I am so sorry, …I am drunk..” 

Saya bangkit, sepertinya ada yang lecet di lutut, karena aku pakai celana panjang yang terbuat dari kain, bukan berbahan jeans. 

Selang beberapa saat, sepertinya dia memperhatikanku, lalu bilang, 


Are you oke..!!’ 

Dan, akupun menjawab, ‘Sorry I am not ok..!!, cause have injury in my leg…. Akhirnya dia setengah berjongkok, dan bilang, I will help you, this my fault. 

Setengah meringis, menahan sakit, aku dibantu untuk berjalan menuju sebuah restoran yang masih di aera Bounthy, tiba-tiba seorang waitres, mendatangi kami dengan membawa bill menu, aku memesan Orange Juice, sementara Dikrans bertanya, why…juice…are you not drink alcohol..?? 

Akupun menjawab, not sorry I am not drink alcohol..!! 

Lantas Dikrans memesan satu botorl Bir Bintang yang kecil. Setelah kami menghabiskan minum, akhirnya akupun pulang dengan menyetop taxi di depan Bounthy. 

Tetapi sebelum aku sempat melaju dengan taxi, tanpa basa-basi Dikrans menanyakan nomor telponku. Ah…oke, aku kasih nomor selulerku kepadanya. 

Pagi itu, dua hari setelah kejadian itu,  aku bangun kesiangan, karena semalam aku diajak dugem sama teman, tetapi dimana, dia….pikirku… 
Tiba-tiba hp-ku berdering, aku pikir itu temanku yang telephone, tetapi woow, …surprise,… ternyata Dikrans menelponku. 


Dia menanyakan bagaimana keadaan kakiku yang cidera, aku menjawab, is ok getting better not so seriusy.. 

Akhirnya panjang lebar, Dikrans bicara di telephone, dia bilang untuk menebus kesalahanya, sebagai gantinya Dikrans mengajaku dinner, dan akupun tidak bisa menolaknya.. 

*** 

Tepat pukul tujuh malam ketika aku baru selesai merias diri, tiba-tiba bel Villa dimana aku tinggal brbunyi, seraya aku menuju ke pintu dan membukanya, oh, ternyata Dikrans Takvorian.. 

Lelaki itu kelihatan segar dan ganteng sekali, sungguh aku takjub melihatnya, karena waktu aku bertemu malam yang malang itu, cahaya cukup remang-remang, jadi sejujurnya aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. 

Aku persilahkan dia masuk, dan aku melanjutkan memakai sepatu, tetapi dengan hill yang tidak begitu tinggi. Kami berdua melangkah keluar menuju mobil Avansa warna silver, dan meninggalkan Villaku. 

Kami berdua, dinner di salah satu restoran di pinggir pantai dengan Candy Ligth, memilih meja yang menghadap ke laut, suasana malam hari saat itu begitu menyenangkan, suasana yang romatic sekali, meskipun kami baru saling bertemu, pada suatu malam yang tidak disengaja. 


Sambil tersenyum, Dikrans bertanya, “Your are happy with an atmosphere like this..?? Aku Cuma menganggukkan kepalaku, sungguh indah sekali, diiringi deburan ombak, aku berharap jangan sampai turun hujan…

*** 

Waktu berlalu begitu cepat, semenjak Dikrans tidak lagi bekerja di perusahaan kakaknya, dia tidak pernah datang lagi ke Bali, dan akupun kehilangan kotak dengannya. 

Dan, pada akhirnya akupun memutuskan untuk tetap fokus pada aktivitas dan pekerjaanku. Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di Surabaya, tepatnya di PT.Siemen yang bergerak dalam bidang kelistrikan, dengan posisi jabatan sebagai salah satu sekrertaris di perusahaan itu. 

Karena suatu hal, aku tidak lagi memperpanjang kontraku di perusahaan yang bergerak di kelistrikan itu. Aku memutuskan untuk datang dan menetap lagi di Pulau Dewata, hal ini karena ada salah satu keluarga mempunyai Villa di Bali, sehingga aku putuskan untuk tinggal disana, tepatnya di daerah Pecatu, dekat dengan Pantai Balangan. 

Dan, entah mengapa waktu itu aku sempat terbesit wajah Dikrans Takvorian sekilas di depan mataku, dan tak selang beberapa hari tiba-tiba dia menelponku, sungguh suatu kejutan yang luar biasa bagiku. 

Ketika aku mengangkat telepone, ya sambil aku bertanya dan pura-pura lupa, 


Who are you…!! 

Dan, dia menjawab, ‘Long time to hear about you..???. How are you…??
Aku menjawabnya, I am fine, thanxs and how about you ..?? 
Dia, menjawab, Everything is the same…never change…, dan akhirnya kita memutuskan untuk bertemu kembali. 

**


Dikrans Takvorian, tidaklah seperti yang pertama waktu kami saling bertemu, aku melihatnya sekarang, dia tampak lebih dewasa dan matang. Tentu tidak banyak yang dibicarakan, tetapi diantara kita bisa bernostalgia. Dan dia mengajak ke sebuah restoran yang pernah kami kunjungi beberapa tahun yang lalu. 

Tetapi suasana restoran itu kini lain, yang biasanya banyak wisatwan, kini tidak begitu ramai, ditengah suasana pandemic Covid-19, semuanya dalam kondisi prihatin, untuk bisa bertahan saja masih untung. 

Ditengah keheningan malam, Dikrans pun menceritakan, kalau selama ini dirinya berada di Lombok, untuk membuat kerajinan dari mutiara. Bekerja sama dengan temanya yang dari Perancis dan beristrikan orang Lombok. Dia, bilang selama ini menghilang, karena ingin fokus pada bisnisnya yang baru dirintis. 


Dan, sekarang, ada di Bali, karena dia memimpikan diriku, katanya. Dia, bilang, I am so sad and so sorry I am late to telling you, … I wanna married with you… if you agree and still love me.. 

Bak, tersambar petir disiang bolong, bagaimana sepuluh tahun yang lalu dia tidak pernah bicara tentang pernikahan, dan akupun menyadarinya, cuma kekasih yang patah hati, ditinggalkan, tapa kabar rimbanya, dan tiba-tiba datang dan bilang mau menikahiku. 

Dan, aku mengataka, Why you broke my heart, is to late.., you deram is true I am already married with some one els….and at the momen is come to his country is Italy. 

Dengan rasa bersalah, dia menitikan air matanya dipangkuanku, dan bilang, ‘come to me’Aku menjawab, is impposible, lalu dengan menegadah dia memeluku, dengan tangisan yang terseduh, seperti anak kecil yang kehilangan mainannya… 

Keesokan harinya, dia datang ke Villa, dan dia berpamitan akan kembali ke Lombok, seraya  berkata, ‘If one day his leave you, I am ready for you….my love’ 
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena pada kenyataanya, aku sudah jadi istri orang lain…!! 

Note : Apabila cinta datang jangan diabaikan, karena cinta adalah anugerah dari Tuhan. Dan ketika engkau sadar, semuanya sudah terlambat…!! 

(Penulis : Eka Handayani, aktif dalam bidang kegiatan pariwisata, dan juga pengelola, Hanny Green Restoran, Kuta, Bali).