Home Disaster Tak Ingin Jadi Korban Saat Meliput Bencana, Puluhan Jurnalist Ikuti Pelatihan SOD For Jurnalist

Tak Ingin Jadi Korban Saat Meliput Bencana, Puluhan Jurnalist Ikuti Pelatihan SOD For Jurnalist

651
0
SHARE
Tak Ingin Jadi Korban Saat Meliput Bencana, Puluhan Jurnalist Ikuti Pelatihan SOD For Jurnalist

Keterangan Gambar : Rangkaian Survival On Disaster For Jurnalist, Pelatihan Evakuasi Korban Di Laut (Foto : ist/pp)

JAKARTA - www.parahyangan-post.com - Diawali dengan informasi yang disampaikan oleh petugas dari Pusdalops BNPB, bahwa telah terjadi gempa bumi dengan skala M 6,9 di salah satu pulau yang berada ditengah laut. Banyak korban yang  terdampak akibat gempa tersebut. 

Masing-masing kantor media menugaskan timnya untuk meliput kejadian tersebut, salah satu kapal yang membawah para awak media justru mengalami trouble, kecelakan ditengah laut, beberapa awak media menjadi korbanya.

Sementara kapal yang lainya bisa mencapai pulau tersebut dan menemukan bahwa banyak korban dengan luka-luka dan patah tulang. Para awak media mengalami dilema, disatu sisi dituntut melaporkan situasi dan kondisi dilapangan, untuk reportase medianya, disisi lain nilai kemanusiaan juga menjadi panggilan bathin sebagai jurnalist tangguh bencana. 

Namun akhirnya bersama para relawan kemanusiaan lainnya, awak media ikut membantu melakukan pertolongan kepada para korban, sekaligus melakukan reportasenya, dan akhirnya semua korban bisa dievakuasi. 


Itulah sekilas gambaran simulasi yang digelar dalam rangkaian kegiatan Survival On Disaster For Jurnalist, di Pantai Ancol, Jakarta Utara pada Minggu (25/06/2023). 

Koordinator Unit Siaga SAR Bekasi, Rizky Dwianto selaku tim pemateri dalam kegiatan simulasi tersebut, mengatakan bahwa para jurnalis harus memahami prosedur dalam peliputan darurat bencana. 

Langkah pertama saat akan meliput darurat bencana, awak media terlebih dahulu harus melapor ke Pos Komando Tanggap Darurat baik untuk kejadian bencana di tingkat nasional maupun daerah. Dan terkait untuk data, biasanya di Pos Komando Tangap Darurat ada bidang Humas dan Media Center, dimana untuk rillis data dikeluarkan oleh bidang tersebut.

“Terlebih dahulu teman-teman melaporkan diri ke Pos Komando, penanganan darurat bencana yang ada. Disamping itu teman-teman juga harus melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD), sesuai dengan jenis kejadian bencananya,”ujar Rizky. 

Lebih lanjut, pria yang biasa disapa Danki, banyak kejadian dilapangan teman-teman media tidak diperkenankan masuk kelokasi bencana, bukan karena dilarang, tetapi pertimbangannya justru demi keselamatan teman-teman sendiri. 

Oleh karena itu menurut Rizky, bahwa pemahaman terkait kebencanaan, dan mempersiapkan diri saat mendapat penugasan kelokasi bencana sangatlah penting. 


Belajar dari Pengalaman 

Belajar dari berbagai pengalaman dan kejadian yang memilukan, saat awak media meliput kejadian bencana,dimana justru dirinya ikut menjadi korban ditengah bencana itu sendiri. Kondisi seperti ini sering dialami oleh para jurnalis yang meliptut keloaksi bencana. 

Berdasarkan data dari buku Pedoman Perilaku dan Peliputan Krisis di Indonesia yang diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia bekerjasama dengan Save The Children. 

Bencana gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004, setidaknya 25 pekerja media meninggal dunia atau hilang. Ini merupakan jumlah kematian terbanyak yang dialami pekerja media di Indoensia dalam satu kejadian. 

Satu wartawan televisi hilang dan satu lainnya meninggal di rumah sakit karena tenggelam saat meliput evakuasi terbakarnya KM Levina pada 2007. Berikutnya, satu wartawan meninggal saat meliput letusan Gunung Merapi di Yogyakarta pada tahun 2010. Pada tahun 2014, seorang wartawan meninggal dunia karena erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara. 

Terbaru, dalam peliputan Covid-19, puluhan wartawan telah terinfeksi dan sebagian di antaranya telah meninggal dunia. Situasi ini menunjukkan, wartawan di Indonesia sangat rentan terdampak bencana. 

Sebab, kesalahan dalam memberitakan situasi dan kondisi bencana memiliki dampak 24 Ruang Lingkup sosial terhadap masyarakat sekitar dan masyarakat luas. Kasus-kasus kesalahan jurnalis dan media massa dalam memberitakan bencana perlu menjadi pelajaran. 

Contoh kasus seorang reporter salah satu stasiun televisi swasta nasional tak bisa membedakan suhu panas atau hujan abu dengan awan panas saat peristiwa erupsi gunung Merapi di Yogyakarta pada November 2010 silam. 

Akibat kesalahan pemberitaan tersebut terjadi kepanikan di masyarakat, bahkan seorang warga meninggal tertabrak truk karena panik. Kemudian kesalahan lainnya, reporter salah satu stasiun televisi salah menyebut hujan abu vulkanik sebagai whedus gembel. Padahal whedus gembel adalah istilah lokal masyarakat di sekitar Gunung Merapi menyebut awan panas, bukan hujan abu vulkanik. Kesalahan menyebut whedus gembel menyebabkan kepanikan warga sekitar Gunung Merapi dan Yogyakarta 

Saat terjadi bencana dan krisis, jurnalis harus melakukan riset terlebih dahulu, mempelajari situasi dan kondisi di lokasi bencana dan krisis. Kemudian juga perlu mempelajari kultur sosial masyarakat setempat. Hal ini penting sebagai bekal pengetahuan dasar bagi jurnalis yang hendak turun ke lapangan untuk meliput kejadian. 

Berikutnya jurnalis harus menggunakan perlengkapan untuk pelindung dan keamanan diri yang standar untuk turun ke lapangan. Misalnya perlengkapan P3K, kostum sesuai standar seperti sepatu, sarung tangan, masker, atau alat pelindung diri (APD) lainnya berdasar kebutuhan. 

Yang tak kalah penting adalah jurnalis perlu menyiapkan logistik untuk kebutuhan pribadi selama di lokasis bencana dan krisis. Semua kebutuhan perlengkapan pribadi liputan itu harus disediakan dan dibantu oleh perusahaan media tempat jurnalis bekerja. 

Jangan sampai jurnalis saat meliput di lokasi bencana tidak mengunakan peralatan dan pelindung diri yang standar, sehingga membahayakan diri sendiri dan orang lain. 

Belajar dari peristiwa bencana dan krisis yang terjadi di beberapa daerah sebelumnya, tak sedikit jurnalis yang dating ke lokasi kejadian tanpa dibekali perlengkapan yang memadai. Sehingga tak jarang jurnalis di lapangan justru menjadi korban baru di tengah situasi bencana dan krisis. 

Sebagai contoh tragedi Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu, sejumlah jurnalis media online dari Jakarta berangkat ke lokasi bersama rombongan relawan dan aparat TNI tanpa perlengkapan pribadi. Bahkan ada yang datang ke lokasi bencana hanya pakaian di badan tanpa bawa baju ganti dari Jakarta ke Palu. Tidak heran selama beberapa hari jurnalis tersebut tak ganti pakaian dan terserang penyakit. 

Berikutnya jurnalis perlu mengedepankan jurnalisme sensitif bencana. Tidak mendramatisir situasi yang terjadi di tempat bencana, misalnya menghindari pengambilan gambar dan video yang ekstrim (warga yang berdarah-darah). Kemudian menghindari mewawancarai anak dalam kondisi trauma. 

Plt.Kepala Pusat Data,Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari dalam pemaparanya juga menyampaikan pentingnya jurnalisme humanis, dengan mengambil pembelajaran dari kejadian tsunami di Jepang, dimana dirinya melihat langsung kondisi masyarakat di Jepang saat kejadian tersebut. 

Sementara itu Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dra. Prasinta Dewi, M.A.P., yang secara langsung membuka kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa jurnalis memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. 

Senada dengan Deputi Bidang Pencegahan, Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Pangarso Suryotomo, menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada para Jurnalist yang sudah mau ikut pelatihan ini. Lebih lanjut, pria yang biasa disapa Pak Papang ini berharap, bagaimana media bisa mengedukasi masyarakat saat darurat bencana. 

“Media bisa menjadi aplikator dan penghubung antara stake holder kepada masyarakat,”ujarnya. 

Disisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia CARE, Lukman Azis Kurniawan mengatakan, pelatihan “Survival on Disaster for Journalist” yang baru pertama kali digelar ini dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan jurnalis dengan baik saat di medan bencana. 

"Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas wartawan dalam pemahaman penanggulangan serta pengurangan risiko bencana," ujarnya. 

Lukman berharap para peserta mendapatkan manfaat yang besar dari sesi-sesi pelatihan yang disajikan oleh para narasumber, praktisi dan pelatih yang berpengalaman di bidangnya. 


Kegiatan Survival On Disaster For Jurnalist, berlangsung dari, Jumat s.d Minggu, 23 – 25 Juni 2023, di di Paint Ball, Eco Park, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, diikuti oleh 47 Jurnalist dari berbagai media nasional dan daerah. 

Kegiatan ini diinisiasi oleh Indonesia CARE dan didukung oleh BNPB, BASARNAS, Squad PBI, Tagana/Dinas Sosial Prov.DKI Jakarta, AGD Dinkes Prov.DKI Jakarta, Imani Care, Human Inisiative dan disponsori oleh dunia usaha PPLI, Eiger, Taman Impian Jaya Ancol. 


(ratman/dbs/pp)