Home Edukasi Synergy Policies Didukung oleh Tanoto Foundation Lakukan Studi

Synergy Policies Didukung oleh Tanoto Foundation Lakukan Studi

Untuk Tingkatkan Sebaran Pendidikan Berkualitas

214
0
SHARE
Synergy Policies Didukung oleh Tanoto Foundation Lakukan Studi

Synergy Policies Didukung oleh Tanoto Foundation Lakukan Studi

Untuk Tingkatkan Sebaran Pendidikan Berkualitas

Jakarta, parahyangan-post.com-Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, para pemangku kepentingan perlu berkolaborasi dalam penyebarluasan inovasi-inovasi yang ditemukan. Synergy Policies, lembaga penelitian dan konsultasi kebijakan publik, didukung oleh Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981, melakukan studi untuk mengumpulkan praktik-praktik baik dan inovasi pendidikan.  Studi ini dilakukan selama 1 Oktober sampai 1 Desember 2022 di lima provinsi mitra Program PINTAR Tanoto Foundation yaitu Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Jambi, dan Riau.

Temuan dan rekomendasi hasil studi ini adalah:

  • Perlunya meningkatkan komunikasi antar sesama tenaga pendidik, lintas kelompok kepentingan, lintas wilayah administratif, dan lintas sektor agar lebih efektif dengan membentuk forum bersama sebagai wadah urun rembuk yang melibatkan seluruh instansi pemerintahan terkait, mitra pembangunan, dan masyarakat.
  • Perlunya regulasi untuk memastikan keberlanjutan inovasi pendidikan yang sudah mulai terbentuk di tataran kabupaten/kota dan provinsi.
  • Pelatihan dari Program PINTAR Tanoto Foundation ternyata menjadi salah satu pemberi inspirasi pada guru dan kepala sekolah tentang apa makna dari pembelajaran aktif dan kerja sama antar guru dan kepala sekolah.

Temuan dan rekomendasi ini dipaparkan pada acara Rembuk Nasional dengan tajuk “Peningkatan Sebaran Pendidikan Berkualitas: Merumuskan Konsensus Pemerintah, Sekolah & Guru di Indonesia” hari Rabu, 14 Desember 2022.

Forum ini adalah kerja sama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Agama (Kemenag), bersama Synergy Policies dan Tanoto Foundation.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengungkapkan kebahagiaan dan apresiasinya kepada seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyusunan dokumen inovasi dan aspirasi para guru, kepala sekolah dan pengawas yang bermanfaat untuk meningkatkan persebaran pendidikan berkualitas di Indonesia.  “Inovasi kreatif dan solutif yang dibuat para guru, kepala sekolah dan pengawas dari Provinsi Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Riau, dan Jambi yang terlibat dalam Program PINTAR ini merupakan karya para guru Indonesia berkat terobosan Merdeka Belajar. Dan saya yakin bahwa semangat yang sama juga sudah dimiliki oleh semua guru di seluruh penjuru nusantara,” ungkap Nadiem saat memberikan sambutan dalam Rembuk Nasional bertajuk Peningkatan Sebaran Pendidikan Berkualitas, di Kantor Kemendikbudristek Jakarta pada Rabu (14/12/2022).

Menurut dia, ruang untuk saling belajar dan berbagi di antara sesama guru semakin terbuka lebar. Mulai dari yang didorong oleh program pendidikan guru seperti Guru Penggerak difasilitasi oleh Kurikulum Merdeka sampai yang tercipta dari terobosan teknologi seperti platform Merdeka Mengajar dengan semua keleluasaan yang dimiliki guru Indonesia. Saat ini, lanjut dia, sistem pendidikan di Indonesia memasuki babak baru. Di mana, para guru berlomba-lomba untuk terus belajar, berkarya dan berinovasi. “Kami di Kemendikbudristek menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu ditingkatkan khususnya dalam hal penyebaran informasi ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung guru untuk saling belajar dan berbagi serta tindak lanjut dari terobosan yang telah dilakukan atau diciptakan oleh para guru kita kami terus berupaya untuk mengoptimalkan implementasi kebijakan Merdeka Belajar di seluruh daerah di Indonesia,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan tujuan di atas, Nadiem mengaku kementeriannya tidak  bisa bekerja sendiri. Menurut dia, komitmen pemerintah daerah (pemda) dan dinas pendidikan untuk memprioritaskan kemajuan pendidikan dan mengutamakan kebutuhan guru merupakan kunci kesuksesan Merdeka Belajar. Dia meminta kepada pemda untuk selalu berpihak kepada guru dengan menjalankan formasi ASN P3K dan menempatkan yang sudah lolos passing grade. Nadiem juga mengharapkan agar mengangkat Guru Penggerak sebagai kepala sekolah dan pengawas. Memasuki usia 3 tahun gerakan Merdeka Belajar sudah semestinya para guru sudah merasakan manfaatnya di semua jenjang pendidikan di semua daerah di Indonesia. “Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada para guru yang sudah berani mengambil resiko mendobrak batas-batas dan menciptakan kebaruan dalam mendorong peningkatan kualitas pembelajaran dengan mengedepankan semangat berkolaborasi untuk mewujudkan inovasi bergerak serentak mewujudkan Merdeka Belajar,” tandasnya.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek, Anindito Aditomo mengungkapkan berbagai praktik baik yang telah ada akan dapat lebih berkelanjutan jika didukung oleh pemerintah daerah. Menurut dia, dukungan pemda tidak harus diwujudkan dengan memberikan anggaran yang besar. Namun, bisa dilakukan dengan dukungan regulasi terhadap kemajuan pendidikan.  “Anggaran terkait kebutuhan guru dan formasi P3K sudah dialokasikan dan ditransfer ke pemerintah daerah. Dana ini tidak boleh digunakan untuk belanja lainnya, sehingga jika tidak digunakan harus dikembalikan ke kementerian,” ungkap Anindito.

Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Republik Indonesia, Amich Alhumami mengakui kompleksitas masalah pendidikan Indonesia memang luar biasa. Karena itu, dia sangat mengapresiasi ternyata di tengah berbagai tantangan yang ada, tetap ada banyak praktik baik yang memberikan inisiatif bagi perbaikan pendidikan. “Pendidikan merupakan public goods, sehingga perlu disediakan kepada siswa dan masyarakat serta perlu dikoordinasikan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Selain itu, kemitraan strategis dengan public sector seperti Tanoto Foundation perlu tetap dirawat dan diteruskan,” ungkap Amich Alhumami.

Sementara itu, Direktur Utama Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, Ph.D, dalam kunjungan ke lima provinsi ada banyak praktik baik yang ditemukan di tengah berbagai tantangan kurangnya fasilitas pendidikan. “Di semua provinsi yang kami kunjungi, ada saja guru dan kepala sekolah yang berinovasi menciptakan suasana belajar yang nyaman, membuat anak senang membaca dan merumuskan temuan-temuan mereka secara oral maupun visual. Peralatan yang mereka gunakan sederhana, ada yang dari bahan bekas, ada yang dari sumbangan orang tua murid, tetapi hasilnya begitu semarak sehingga memunculkan rasa bangga dari siswa, apalagi ketika dipajang di kelas dan dilombakan,” ungkap Dinna.

Dinna melanjutkan bahwa pelatihan dari program PINTAR  ternyata memberi inspirasi pada mereka tentang apa makna dari pembelajaran aktif dan kerjasama antar guru dan kepala sekolah. Catatan mereka adalah karena jumlah guru dan kepala sekolah yang mendapat kesempatan belajar belum merata, di sejumlah daerah sebaran inovasinya masih relatif terbatas. PINTAR merupakan program Tanoto Foundation dalam upaya meningkatkan pendidikan dasar di Indonesia dengan memperbaiki kualitas pembelajaran dan kepemimpinan sekolah.

“Di sisi lain, ketika guru dan kepala sekolah duduk bersama dan berdialog dari hati ke hati, terungkap komitmen seputar pengembangan regulasi, kebijakan yang mendukung bertumbuhnya faktor-faktor pemungkin bagi guru dan kepala sekolah dalam menyebarkan metode pembelajaran yang berpusat pada pengembangan potensi siswa,” papar Dinna.

J. Satrijo Tanudjojo, CEO Global Tanoto Foundation dalam kesempatan yang sama mengatakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan membutuhkan kerja sama sejumlah pihak baik sekolah, masyarakat, pemerintah daerah, maupun mitra pembangunan. “Tanoto Foundation berkomitmen mendukung peran dan program prioritas pemerintah sepenuhnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan. 2 dari 10 guru yang kami latih telah menjadi Guru Penggerak. 75% sekolah mitra Tanoto Foundation juga telah menerapkan Kurikulum Merdeka,” sebut Satrijo.

Satrijo menambahkan bahwa Program PINTAR mengumpulkan praktik baik dari lapangan yang dilakukan di tingkat kelas maupun kebijakan. “Kami harap Rembuk Nasional ini dapat memfasilitasi kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, masyarakat, dan mitra pembangunan untuk menyebarluaskan praktik baik tersebut.”

Membangun ekosistem pendidikan berkualitas dan berkelanjutan juga menjadi salah satu fokus pembahasan dalam diskusi yang menghadirkan perwakilan Kemendikbudristek, Kemenag dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).


 

Tentang Synergy Policies & Tanoto Foundation:

Synergy Policies (oleh PT Cipta Inspirasi Nusantara) adalah perusahaan konsultan yang berlokasi di Jakarta dengan visi mengembangkan sinergi lintas bidang ilmu dan kepentingan demi kebijakan publik yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi seluas-luasnya masyarakat. Dibangun oleh kaum profesional berpengalaman di bidang ilmu sosial, politik, dan ekonomi, Synergy Policies melakukan kajian dan evaluasi kebijakan, pelatihan interaktif bagi pengambil kebijakan, dan fasilitasi penyelenggaraan kegiatan. Berkembang pesat sejak didirikan pada tahun 2014, mitra-mitra Synergy Policies berskala internasional maupun nasional.

Tanoto Foundation adalah sebuah organisasi filantropi independen yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto atas dasar keyakinan bahwa setiap individu harus mempunyai kesempatan untuk mewujudkan potensinya secara penuh. Tanoto Foundation memulai kegiatannya pada 1981, saat pendiri mendirikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Besitang, Sumatra Utara. Pada 2018, Tanoto Foundation meluncurkan Program PINTAR untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Indonesia dengan memperbaiki kualitas pembelajaran dan kepemimpinan sekolah.