Home Disaster Satu Gereja Masih Berdiri Kokoh di Pulau Ruang, Akibat Dampak Erupsi GA Ruang.

Satu Gereja Masih Berdiri Kokoh di Pulau Ruang, Akibat Dampak Erupsi GA Ruang.

65
0
SHARE
Satu Gereja Masih Berdiri Kokoh di Pulau Ruang, Akibat Dampak Erupsi GA Ruang.

Keterangan Gambar : Satu gereja, GMIST Patmos, di Desa Laingpatehi masih berdiri kokoh, namun atapnya yang terbuat dari seng baja ringan terlihat bolong-bolong, banyak lubang disana sini.  terdampak erupsi Gunung Api Ruang (sumber foto : ist/pp)

KEPULAUAN SITAROParahyangan Post - Satu gereja, GMIST Patmos, di Desa Laingpatehi masih berdiri kokoh, namun atapnya yang terbuat dari seng baja ringan terlihat bolong-bolong, banyak lubang disana sini. 

Menurut Yakobus, salah satu penjaga gereja disana, menuturkan bahwa kejadian erupsi Gunung Api Ruang yang terakhir begitu mencekam, abu dan batu-batu kerikil berhamburan disertai kilatan api.

Bersyukur dirinya dan keluarga selamat, karena mengikuti anjuran pihak berwenang untuk segera evakuasi ke pos pengungsian yang lebih aman, beberapa hari sebelum kejadian erupsi yang terakhir.

Siang itu, Sabtu (11/05/2024) Yakobus bersama istri dan beberapa warga lainya tampak sedang mengemasi barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan, untuk dibawah ke Pos Pengungsian di Apengsala, Tagulandang, Kab.Sitaro, Sulawesi Utara, menggunakan kapal nelayan.

Yakobus dan beberapa warga yang sedang mengemasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan mengaku beruntung ditempatkan di pos pengungsian Apengsala, karena masih berada di Pulau Sitaro, sehingga bisa bolak balik ke Pulau Ruang untuk mengambil barang-barang yang bisa dimanfaatkan.

Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang kebetulan siang itu (Sabtu, 11/05/2024) juga sedang melakukan survey lapangan menyampaikan bahwa, sebenarnya aktivitas warga belum diperbolehkan di Pulau Ruang ini.

“Mengingat status Gunung Api Ruang masih berstatus Awas (LevelIV), PVMBG merekomendasikan ;  Masyarakat di sekitar G. Ruang dan pengunjung/wisatawan agar tetap waspada dan tidak memasuki wilayah radius 5 km dari pusat kawah aktif G. Ruang,” sebagaimana rillis yang dipublikasikan oleh PVMBG.

Kristanto, salah satu tim dari PVMBG mengatakan bahwa kedua desa yang terdampak sangat masif di Pulau Ruang, yaitu Desa Laingpatehi dan Desa Pumpete posisinya ada di radius 2 (dua) km dari puncak kawah gunung api. Seharusnya warga masyarakat belum diperbolehkan memasuki Desa Laingpatehi dan Desa Pumpete di Pulau Ruang ini, jelasnya.

Senada dengan tim PVMBG, Dadi Setiadi salah satu tim dari BNPB menghimbau agar warga masyarakat mematuhi himbuan yang telah direkomendasikan oleh PVMBG, untuk tidak memasuki radius 5 (lima) kilometer dari kawah gunung api, selain itu siapapun yang memasuki  P. Ruang di-usahakan memakai masker, untuk melindungi diri dari debu-debu yang begitu tebal.

Berdasarkan keterangan dari Kapitalau (Lurah-red) Laingpatehi, Hardye Manutho, di Pulau Ruang ini ada dua desa, yaitu Desa Laingpatehi dan Desa Pumpete, kedua desa tersebut saat ini kondisinya hancur, rumah-rumah tertimbun pasir dan material erupsi gunung api, pepohonan kering, terbakar. Sepanjang mata memandang hanya puing-puing, debu dan batu-batu kerikil.

Di Pulau Tagulandang sendiri terdapat 2 kecamatan, sebanyak 15 desa terdampak material vulkanik, sementara di dua desa yang ada di Pulau Ruang, yaitu, Desa Laingpatehi dan Desa Pumpete, kondisinya sangat memprihatinkan.

Di desa Laingpatehi, lanjut Kapitalau ada sebanyak ; 165 KK dan 504 jiwa, sebanyak ; 119 unit rumah terdampak, 3 unit rumah ibadah, 1 unit fasilitas kantor, 2 unit Gedung sekolah, 1 unit bangunan fasilitas kesehatan dan 1 unit bangunan lainnya terdampak rusak parah.

Sementara untuk di Desa Pumpete, terdiri dari 105 KK dan 329 jiwa, sebanyak 79 unit rumah terdampak, 2 unit rumah ibadah, 1 unit fasilitas kantor, 2 unit fasilitas sekolah, 1 unit fasilitas kesehatan dan 1 unit bangunan lainnya terdampak cukup parah.

Sebagai solusi untuk mengatasi kondisi seperti ini pemernintah daerah dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Sitaro berencana akan merelokasi warga yang ada di dua desa tersebut, yaitu warga Desa Laingpatehi dan Warga Desa Pumpete.

Mengingat lokasinya yang masuk daerah rawan bahaya erupsi gunung api, kedua desa tersebut nantinya tidak diperbolehkan untuk di tinggali oleh warga. Pulau Ruag akan diperuntukan untuk pertanian dan perkebunan saja, bukan sebagai hunian, demikian penjelasan PJ.Buati Sitaro dalam rapat koordinasi penanganan tanggap darurat erupsi Gunung Api Ruang.

Namun titik temu antara pemerintah daerah dan warga belum sepenuhnya clear, pihak pemerintah daerah berencana akan merelokasi warga dari kedua kelurahan tersbeut ke Boloaangmongondow Selatan (Bolsel).

Sementara beberapa warga masih ada keinginan untuk direlokasi tetap di Pulau Tagulandang, mengingat mata pencaharian mereka sebagaian sebagai nelayan, dan sudah familiar dengan kondisi wilayah di Pulau Tagulandang.

Persoalan dampak dari erupsi Gunung Api Ruang, di Kab.Sitaro, Prov.Sulawesi Utara, tidak sesederhana apa yang kita bayangkan, banyak hal yang harus dipikirkan, sampai saat ini kondisi sekolah masih diliburkan, entah sampai kapan, belum ada kejelasan dari pihak yang berwenang.

Sehubungan dengan akan berakhirnya masa perpanjangan tanggap darurat Erupsi Gunung Ruang selama 14 hari yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sitaro dari tanggal 30 April hingga 14 Mei 2024, pemerintah memnjamin trepenuhinya kebutuuhan dasar bagi warga masyarakat yang terdampak akibat erupsi gunung api tersebut.

(rd/pp)