Home Nusantara Reuni dan Temu Kangen Alumni Pengajian Pegangsaan Angkatan 1980 Sampai 1990

Reuni dan Temu Kangen Alumni Pengajian Pegangsaan Angkatan 1980 Sampai 1990

1,083
0
SHARE
Reuni dan Temu Kangen Alumni Pengajian Pegangsaan Angkatan 1980 Sampai 1990

CISARUA (Parahyangan-Post.com) – Jalan Pegangsaan di Menteng, Jakarta Pusat menjadi saksi kreativitas para pemusik legendaris di era 70-an. Berlokasi di rumah Saidi Hasjim Nasution yang tak lain ayah dari keluarga musisi Nasution, seperti Keenan, Zulham dan Debby Nasution (alm), repetoar-repetorar melegenda Indonesia lahir disana. 

Di sanalah, musisi yang  kini kita kenal sebagai legendaris Indonesia kerap nongkrong, berbagai mimpi dan angan untuk musik Indonesia. Keenan Nasution, Debby Nasution (alm), Chrisye, Gauri Nasution, Guruh Soekarno Putra, Eros Djarot, adalah beberapa nama mereka yang kerap kongkow di jalan Pegangsaan tersebut.

Sejumlah grup band besar yang lahir dari sana antara lain Sabda Nada, Gipsy Band, Guruh Gipsy, Badai Band dan gongnya pada Gank Pegangsaan.

Selain berkreativitas dalam dunia musik, mereka juga membina anak-anak muda melalui bidang keagamaan, utamanya agama Islam, melalui kegiatan kajian Islam.  Banyak anak-anak muda wilayah sekitarnya yang mengikuti kegiatan kajian Islam di markas Gank Pegangsaan tersebut, sampai beberapa generasi berikutnya.

Sosok almarhum Debby Nasution misalnya, tidak saja dikenal sebagai seorang musisi legendaris Gank Pegangsaan semata, tetapi beliau juga dikenal sebagai sosok Ustadz, dan tokoh serta guru yang tak kenal lelah untuk terus menyampaikan dakhwahnya kepada khalayak luas, juga melalui bimbingan dan kajian Islam kepada anggota dan alumni Pengajian Gank Pegangsaan, sampai akhir hayatnya.

Rumah besar di Jalan Pegangsaan yang dulu sebagai tempat berkumpul, berkreativitas anak-anak muda boleh saja berubah menjadi bangunan lainya, seiring perkembangan zaman,  namun tekad, semangat dan rasa persaudaraan para alumninya harus tetap terjaga, sampai kapanpun.

Sebagai wujud dari menjaga rasa persaudaraaan dan semangat tersebut, para alumni Pengajian Pegangsaan Angkatan 1980 sampai dengan 1990 mengadakan reuni dan temu kangen, di Villa Mira dan Villa Putri, Cisarua, Puncak, Bogor, dari tanggal 16 – 18 Agustus 2019.

Acara reuni dan temu kangen Alumni Pengajian Pegangsaan Angkatan 1980 – 1990 ini, merupakan tindak lanjut dari pertemuan di Resto Sate Pancoran beberapa bulan sebelumnya, yang di motori oleh Kang Deny  “Demul” San, sehingga acara ini bisa terselenggara, berjalan dengan baik dan lancar.

Ahad pagi (18/08), reuni dan temu kangen Alumni Pengajian Pegangsaan secara resmi ditutup oleh Adhyaksa Dault, yang memfasilitasi kegiatan tersebut. Sejak awal keberangkatan para peserta, dari rumah kediamannya dibilangan Pengadegan, Kalibata, Jakarta Selatan, masuk waktu maka siang sampai ba’da sholat Jum’at, hingga akhir acara dan penutupan di Cisarua, Ahad pagi ini, semuanya difasilitasi oleh mantan Menpora ini.

Acara silaturrahiem dan temu kangen, menghadirkan narasumber, dan taushiyah di isi oleh Ustadz Abdurrahman Majrie dan Abdurrahman Al Baghdady,  keduanya  menyampaikan taushiyahnya  menyiratkan pesan persiapan akhirat, mau kemana lagi kita sebagai ummat Islam di usia senja ini.

Sekedar nostalgia, masa muda sekitar 40 tahun lalu dikala kita semua masih sebagai pemuda dan pemudi kuat perkasa, yang kumpul kumpul dirumah legenda Pegangsaan, tempat lahirnya musisi hebat keluarga Nasution, tempat bersejarah yang melahirkan puluhan orang hebat bahkan mungkin ratusan orang ternama pernah singgah dirumah Pegangsaan ini. Bahkan saat sang pemilik rumah, sekaligus inspirator dan penggeraknya, almarhum Debby Nasution dan  rumah tempat berkumpul kita semua, saat ini sudah tiada, sekedar catatan, bekas rumah Pegangsaan itu  kini jadi kantor  Kecamatan Menteng, semua itu kini hanya menyisakan berjuta kenangan indah sekaligus haru.

Reuni dan Temu Kangen tersebut dihadiri oleh para alumni yang dulu, waktu muda pernah minimba ilmu dan berkreatifitas di Rumah Pegangsaan. Kini rata-rata para alumni tersebut sudah tidak lagi muda, tidak lagi sebagai pemuda-pemudi yang dulu dikenal sebagai sosok yang tangguh. Rata-rata usia mereka sudah memasuki kepala lima keatas.

Tak heran sebagai tuan rumah yang banyak memfasilitasi dalam kegiatan tersebut, Adhyaksa Dault dengan bijaksana menghadirkan juga adiknya yang berprofesi sebagai dokter, saudara Adhyrusman bersama seorang theraphsy fasdu perempuan bernama Damayanti, istri Ustdaz Abdurrahman Majrie, bersiaga menjaga kesehatan para alumni Pengajian Pegangsaan tersebut.

Dalam kata sambutanya, Adhyaksa Dault menggaris bawahi dan menegaskan kembali  sebagaimana tausyiah yang disampaikan oleh kedua narasumber, yaitu Ustadz Abdurrahman Majrie dan Abdurrahman Al Baghdady.  Pada intinya bahwa di usia senja ini hendaklah kita bekerja dengan orientasi akhirat, menjadi manusia yang bermanfaat, khususnya berguna bagi agama Islam dan juga berguna bagi negara. Hal ini menurut Mantan Menpora pada era SBY, agar bisa menambah pahala untuk bekal kita di akhirat kelak.

“Jika kita masih diberikan kesempatan untuk beramal shalih, kenapa kita enggan melakukannya ?. Kita semua saat ini sudah memasuki usia senja, tidak lagi segesit dulu, hanya penyakit jantung dan asam urat yang akrab ditubuh kita. Untuk itu, hendaknya semua ini harus di akhiri dengan kematian khusnul khotimah,”pungkas Adhyaksa Dault mengakhiri sambutanya.

Harapan kedepan bagi para alumni Pengajian Pegangsaan khususnya untuk angkatan 1980 – 1990, agar reuni dan temu kangen di Cisarua ini bisa tersus berlanjut.

Siluturahhiem seperti ini bisa diadakan secara berkelanjutan dan kontinyu di rumah kediaman Ahdyaksa Dault di bilangan Pengadegan, Kalibata, Jakarta Selatan melalui kegiatan kajian Islam/pengajian rutin, khususnya bagi para alumni yang kini rata-rata sudah berusia senja lima puluh keatas dan juga generasi penerusnya.

Hal ini penting agar jalinan silaturahiiem dan rasa persaudaraan dari para alumni pengajian Pegangsaan ini tidak terputus, termasuk bagi mereka para generasi penerusnya.

(Imansyah Hakim Al Rasyid/pp)