Home Seni Budaya Perjuangan Wartawan Muda

Perjuangan Wartawan Muda

ilustrasi Munadi

514
0
SHARE
Perjuangan Wartawan Muda

Keterangan Gambar : Ilustrasi Munadi

Perjuangan Wartawan Muda

Cerpen Mahmud Hamzawi 

 

Chandra Sumitro sejak masa sekolah menengahnya memang punya bakat untuk menjadi wartawan. Dia pernah aktif di komunitas pers di sekolah. Kemampuannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris membuatnya semakin percaya diri. Maka, tidak aneh kalau kini dirinya terdaftar sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, FISIPOL, UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).

Chandra yang tinggal di Asrama Putra UMY selalu rajin mencatat semua perilaku masyarakat sekitarnya, baik itu positif maupun negatif, kemudian menulis artikel opini untuk ditampilkan melalui akun-akun media sosial, majalah dinding asrama, koran-koran lokal, dan lain sebagainya.

Saat dia sedang menikmati segelas kopi di angkringan Pak Gunawan, yang tidak jauh dari kampus dan asrama, tiba-tiba dan tanpa izin ataupun rasa bersalah, ada pelanggan lain yang mulai merokok dan dalam beberapa detik seluruh ruangan menjadi penuh asap rokok. Chandra mencoba berkali-kali batuk-batuk sambil mengusir asap dengan gerakan tangan kanannya sebagai tanda kepada si perokok yang kurang ajar itu kalau asapnya sangat mengganggu pelanggan lain dan seharusnya dia merokok di luar angkringan atau berhenti merokok. Tetapi si perokok yang kurang ajar itu malah terlihat semakin tak acuh dan semakin lama asap rokoknya memenuhi ruangan angkringan seakan-akan dia menikmati penindasan hak asasi kaum non-perokok. Maklumlah, memang kebiasaan buruk di tengah masyarakat adalah bahwa para perokok punya hak untuk merokok di sembarang tempat kecuali kalau ada denda seperti misalnya di bandara. Kebiasaan masyarakat seolah-olah memihak kepada para perokok. Para non-perokok sama sekali tidak berdaya, dan sikap mereka pun serba salah: kalau mereka mengeluh atau menegur belum tentu berguna, malah bisa berujung perkelahian. Dan kalau mereka tidak mengambil sikap juga salah, karena mereka merasa hak asasinya tertindas karena udara bersih tidak terjamin dan juga dukungan dari masyarakat tidak terjamin karena masyarakat biasanya memilih sikap netral seolah-olah itu urusan pribadi bukan urusan sosial.

Sebelum Chandra nongkrong di angkringan Pak Gunawan, dia sempat pergi ke SPBU setempat untuk mengisi sepeda motornya dengan bensin.

Begitu Chandra masuk antrian yang cukup panjang, dia langsung turun dari motor, membuka jok motor, dan mulai menuntun motornya. Anehnya, tiada satu orang pun di depannya ataupun di belakangnya yang mematikan motor. Chandra merasa menderita karena terpaksa menghirup udara berasap dari depan dan belakangnya. Dia heran kenapa orang masih tetap nyalakan motor padahal majunya dalam antrian cuma setengah meter setiap dua menit. Terasa sekali bahwa tiada gunanya kalau mesin sepeda motor masih nyala. Jumlah asap yang keluar dari knalpot sepanjang antrian tidak sebanding lambatnya kemajuan dalam antrian.

Chandra merasa dirinya sebagai calon wartawan berkewajiban untuk menggunakan jurnalisme sebagai wahana untuk memberantas kebiasaan masyarakat merokok sembarangan di tempat-tempat umum dan juga kebiasaan tidak mematikan sepeda motor saat mulai antri di SPBU. Memang asap rokok dan knalpot lebih buruk, parah dan liar daripada asap kebakaran hutan. Itu karena asap hutan hanya musiman saja bukan harian.

Walaupun Chandra telah menulis panjang lebar tentang kedua masalah yang terkait asap liar itu, tetapi belum pernah dia merasa ada perubahan dalam perilaku masyarakat. Malah jumlah perokok liar semakin bertambah saja. Bahkan, anehnya lagi adalah bahwa pada tanggal Hari Tanpa Tembakau Dunia pun, dia menyaksikan asap rokok mencemari udara di mana-mana, iklan-iklan rokok ditayangkan di mana-mana; tempat-tempat jual rokok terbuka di mana-mana. Dia mulai hampir putus asa bahwa jurnalisme bisa mengubah kebiasaan masyarakat yang buruk itu.

"Huffff, sungguh aneh masyarakat kita ini! Di mana-mana ada papan peringatan: "Dilarang Merokok!" "Mohon Matikan Mesin Kendaraan di Areal SPBU", dan lain sebagainya, tetapi masyarakatnya bersikap cuek saja. Sampai kapankah sikap buruk itu akan berlangsung? Sampai kapankah masyarakat ini bersikap munafik? Mereka sering memuji bangsa lain yang tingkat disiplinnya tinggi, tingkat prihatinnya atau empatinya atau saling-pedulinya tinggi, tetapi mereka enggan untuk mengamalkannya. Mereka sering dengar cerita tokoh-tokoh spiritual agama zaman dahulu dan mereka mengagumi sikap kepedulian tokoh-tokoh itu, tetapi setelah mendengar, mereka malah bersikap terbalik!", gumam Chandra dalam pikirannya karena dia betul-betul semakin resah dan gelisah.

"Betapa susahnya cita-citamu untuk menjadikan jurnalisme sebagai wahana untuk menciptakan perubahan positif dalam perilaku masyarakat kita, mas Chandra!" Kata teman kamar asramanya, Laksmana, mahsiswa jurusan ilmu politik.

"Ya, mas. Saya memang sadar bahwa masyarakatnya tidak mudah diubah kebiasaannya; tetapi itu tidak mustahil dan masih ada peluang untuk berhasil", sahut Chandra.

Setelah lulus kuliah, Chandra diterima sebagai wartawan di sebuah koran lokal di Jawa Tengah. Dia merasa bahwa hari pertama kerjanya sebagai wartawan di koran adalah pula hari pertama perlawanannya melalui jurnalisme terhadap budaya asap liar.

-------------

Dalam sebuah rapat redaksi koran itu, pemimpin redaksi minta usulan-usulan untuk membuat koran itu memiliki suatu keunggulan. Chandra merasa ini adalah kesempatan yang berharga untuk mendorong kebijakan pimpinan untuk fokus pada masalah asap liar.

"Saya usulkan bahwa koran kita fokus pada pengubahan perilaku buruk dari masyarakat, seperti: penindasan hak asasi non-perokok oleh para perokok yang merokok sembarangan, dan juga penyalaan motor saat antri di SPBU." kata Chandra.

"Apakah anda punya ide tentang tata cara yang efektif yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat yang tingkat kesadarannya atau kepeduliannya sangat rendah?" tanya Mahendra, kepala redaksi.

"Ya, Pak. Tetapi sebelum saya menyampaikan ide, saya mau menyatakan bahwa rata-rata masyarakat zaman sekarang merasa gengsi sampai hilanglah rasa prihatin, empati, peduli, dan kesadaran sosial. Hanya ada dua hal yang bisa membuat masyarakat berubah yaitu: hukuman atau penghargaan. Oleh karena itu, saya berharap koran kita bisa memakai jalur penghargaan."

"Setuju, mas Chandra. Mohon usulkan perilaku yang mau diubah serta rencana perubahannya melalui koran!" tanya kepala redaksi.

" Marilah fokus pada masalah asap rokok dan asap knalpot dulu. Adapun mengenai rencana yang diusulkan, maka saya usulkan kita mengkhususkan satu rubrik atau satu halaman penuh dengan judul (Tauladan Perilaku Positif). Isinya adalah gambar-gambar anggota masyarakat biasa yang rajin mematikan mesin motor di area SPBU dan juga yang rajin menghormati hak asasi non-perokok di tempat-tempat umum. Kita nantinya akan fokus pada satu kawasan kecil dulu, yaitu kampung sebelah yang bernama kampung Darmosari. Kita nanti perlu sosialisasikan program kita kepada pengelola SPBU setempat, pengelola terminal bus setempat, dan semua warung makan dan angkringan setempat biar tujuan kehadiran para wartawan dan fotografer kita di tempat-tempat itu dapat dimengerti oleh para pelanggan dan para warga. Tentu semua orang ingin melihat gambar dirinya tampil di koran harian apalagi disertai nama dan komentar singkat." Jelas Chandra.

"Baguslah masukan itu, Mas Chandra. Tentu, kalau tiap hari -secara acak- kita tampilkan muka orang-orang yang disiplin dalam kedua hal tersebut, maka diharapkan bahwa para pelanggan dan warga akan lebih semangat untuk disiplin biar dapat kesempatan untuk ditampilkan dalam koran harian jika beruntung. Lama-kelamaan disiplin dapat menjadi kebiasaan yang lazim di semua tempat umum di kampung Darmosari." Tambah kepala redaksi dengan penuh dukungan pada ide positif itu.

Walaupun belum genap satu bulan penerapan ide itu, hasil positifnya sangat terasa dengan semakin bertambahnya jumlah orang yang disiplin. Saking banyaknya orang yang disiplin bikin koran itu menampilkan lebih banyak muka orang di situs elektroniknya serta akun-akun media sosialnya.

"Wah, respon positif dari masyarakat sungguh menyenangkan. Semakin lama, semakin bertambah jumlah anggota masyarakat yang disiplin. Keberhasilan ide ini membuat saya semangat untuk menawarkannya kepada asosiasi perusahaan pers di Indonesia karena satu koran saja tidak cukup untuk menciptakan pengaruh total. Semoga perubahan positif yang dihasilkan oleh koran kita ini semakin menyebar!" komentar Mahendra, kepala redaksi.

"Setuju Pak Mahendra. Langkah itu memang sangat diperlukan. Apalagi itu juga harapan para pengelola atau pemilik tempat umum karena mereka merasa tempat mereka semakin bertambah populer seiring dengan setiap liputan dari media massa.

Ternyata setelah beberapa bulan saja, kampung Darmosari telah menjadi kampung yang populer di seluruh negeri karena tingkat disiplinnya yg luar biasa. Di media sosial, ramai orang yang menjulukinya Singapuranya Indonesia atau Jepangnya Indonesia. Tentu citra positif ini membuat kampung Darmosari berubah menjadi destinasi pariwisata baru yang viral, yaitu wisata disiplin pengaturan asap rokok dan asap knalpot.

Berkat kerja keras dan tulusnya Chandra, dia cepat naik karir dalam bidang jurnalisme sehingga dia menjadi semakin populer bahkan dia dicalonkan untuk meraih sebuah penghargaan nasional yang sangat prestisius.

Sukoharjo, 12 November 2022

 

* Penulis adalah WN Mesir, pemerhati kajian keindonesiaan, dosen bahasa Arab di STIM Surakarta, dan pemukim di Sukoharjo, Jawa Tengah.