Home Opini Mengejar Prestasi demi Prestise

Mengejar Prestasi demi Prestise

252
0
SHARE
Mengejar Prestasi demi Prestise

Oleh: Ria Anggraini, S.Hum. *) 

MEMASUKI -  Semester baru, dunia pendidikan tinggi di Indonesia kembali dikejutkan oleh beberapa kasus. Yang pertama kasus plagiarisme beberapa rektor Perguruan Tinggi Negeri pada  Januari kemarin. Kemudian disusul problematika pemberian gelar doktor Honoris Causa. Pemberian gelar kehormatan ini dinilai bermasalah karena kelayakan akademis pihak-pihak yang diberi gelar dipertanyakan. Gelar ini pun seperti diobral kepada pejabat negara, pengusaha kakap, atau politikus penting negeri ini. Tentu ini menjadi aib besar bagi dunia pendidikan kita. 

Memang miris, pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi harapan untuk mencetak ilmuwan dan para ahli yang mampu berkontribusi dalam meningkatkan taraf hidup rakyat, justru menjadi ladang kecurangan dan kebobrokan moral. Mahasiswa hasil pendidikan tinggi, jauh dari rasa peduli terhadap nasib rakyat. Mereka hanya peduli pada kesuksesan pribadi serta segala manfaat dan keuntungan yang akan didapatkan dari hasil pendidikannya di kampus. 

Ini tentu menjadi situasi yang mengenaskan, karena pendidikan semestinya menjadi pilar peradaban terbaik. Namun dalam habitat pendidikan sekuler kapitalistik saat ini, sistem pendidikan nyaris berubah fungsi menjadi mesin penghancur generasi. 

Semua  itu terjadi  karena dampak pendidikan sekuler kapitalistik di negeri ini. Sekuler adalah asas dari ideologi kapitalisme yang kini diterapkan di negara kita dan semua negara Muslim lainnya. Sekularisme mengajarkan pemisahan agama dengan kehidupan dunia, jadi agama dimarginalisasi pada taraf kehidupan ibadah dan spiritual saja. Sedangkan kapitalisme adalah ideologi dengan tiangnya adalah para pemilik modal (kapitalis). Salah satu manifestasi ekonomi kapitalis adalah liberalisasi perdagangan di 12 sektor jasa, salah satunya pendidikan. 

Berkat ekonomi kapitalis, terjadi privatisasi pendidikan demi tujuan komersil.  Ilmu pengetahuan direndahkan seperti barang dagangan. Hubungan maupun ruang lingkup ilmu pengetahuan juga dinilai berdasarkan nilai ekonomi. Kegagalan maupun keberhasilan masing-masing bidang ilmu akan selalu diukur dengan kategori ekonomi. Jika lulusan banyak yang menjadi pengangguran maka pertanyaannya bukan pada metodologi atau pengajarnya tapi apakah ilmu ini memiliki efek material atau tidak. 


Kapitalisme juga menjadikan pendidikan hanya dipandang sebagai alat untuk meraih kesuksesan individu, mengejar mimpi dan manfaat jangka pendek, hanya untuk kepentingan dan kesuksesan personal dan keluarga semata. Karena makna kesuksesan di dalam kapitalisme secara sempit dipahami sebatas mendapat pekerjaan dan profesi tertentu demi meraih kemapanan finansial atau prestise. Oleh karena itu, memperoleh ‘profesi’ dianggap sebagai pencapaian puncak kesuksesan individu. Maka, fokus pendidikan dengan tujuan yang individualistis hanya mendidik individu agar punya kemampuan mencari pekerjaan untuk kesuksesan pribadi, namun miskin akan moral dan integritas akhlak. 

Di sisi lain, sekularisme pendidikan menjauhkan manusia dari penciptanya. Ketaatan kepada syariat Allah yang akan menjaga mereka dari berbagai kemaksiatan, jauh dari hati anak-anak hasil pendidikan sekuler. Walhasil, wajarlah produk pendidikan materialistik ini juga orang-orang yang materialistik pula. Dan dijauhkannya agama dari pendidikan, menjadikan hasil didik yang tidak memiliki kepribadian Islami, yang baik pola pikir maupun pola sikapnya tidak sesuai dengan syariat Islam. 


Padahal, jelas dalam Islam bahwa pendidikan seharusnya menjadi metode menjaga ideologi dan tsaqafah (kebudayaan) umat di dalam hati anak-anak Muslim. Tsaqafah itulah yang membangun peradaban umat dan menentukan target dan tujuannya, sehingga membuat corak kehidupannya berbeda dari umat lain. 

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam and Secularism, merumuskan tujuan pendidikan: “The aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.” 

Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal akan Tuhannya. Di poin inilah terlihat kegagalan pendidikan modern hari ini. Pendidikan gagal menghasilkan manusia-manusia beradab, manusia baik yang berkepribadian Islam yang merupakan insan kamil. Karena pada hakikatnya, tujuan mencari ilmu adalah untuk ibadah dan mencari hidayah Allah SWT, sehingga pendidikan harusnya didekatkan pada wahyu, bukannya dijauhkan. 


Banyaknya sekolah-sekolah Islam di Indonesia tidak mampu menghasilkan anak didik yang berkepribadian Islam. Islam diajarkan hanya sekadar ilmu teoritis semata dan tidak diajarkan untuk diterapkan secara praktis, kecuali mungkin hanya dari aspek ibadah saja. Jadi akhirnya, Islam menjadi seperti ilmu filsafat yang hanya berupa konsep-konsep tanpa ada impelementasi. Dan berkat sekularisasi, ilmu agama dan ilmu dunia terpisah seperti dua hal yang berbeda, seperti langit dan bumi yang tidak bisa bersatu. 

Hasilnya, orang-orang yang belajar di sekolah Islam adalah orang yang mengerti agama tapi tidak mengerti realitas. Sedangkan orang-orang yang belajar di sekolah umum mengerti realitas tapi tidak mengerti agama. Misalnya, seorang ulama tidak paham perihal kesehatan, sedangkan seorang dokter tidak paham soal agama. Akibatnya, banyak kebijakan kesehatan yang menerobos rambu-rambu syariat. Begitu pula kebijakan pendidikan dan setiap kebijakan di sektor lainnya. Maka penyelesaian yang benar tidak pernah kita dapatkan. Sehingga dalam sistem sekarang ini, pendidikan memang tidak dirancang untuk menghasilkan anak didik berkepribadian Islami yang ingin menerapkan Islam dalam kehidupannya secara sempurna. 


Meskipun pendidikan sekuler tidak menghasilkan anak didik yang berkepribadian Islam, sebagai seorang Muslim, kita tetap harus bersyaksiyah Islamiyah sebagai konsekuensi keimanan kita. Caranya: Pertama, mengubah aqliyah (pola pikir) kita menjadi aqliyah Islamiyah (pola pikir Islami) dengan beristiqamah dan bersungguh-sungguh mengikuti kajian Islam. Kedua, mengubah nafsiyah (pola sikap) kita menjadi nafsiyah Islamiyah (pola sikap islami) dengan senantiasa terikat hukum syara, meningkatkan ibadah mahdah, serta berakhlak mulia. 

Namun, tujuan pendidikan yang benar dan sistem pendidikan yang sesuai syariah Islam tidak bisa dicapai hanya dengan kita masing-masing meningkatkan ibadah dan mencari Ilmu Islam. Sistem pendidikan yang sesuai syariat Islam hanya bisa terwujud jika negara juga menerapkan Islam di setiap aspek kehidupan lainnya. 

Maka yang harus kita lakukan adalah melakukan pembinaan, yakni belajar Islam secara intensif, bukan untuk semata-mata mendapat pengetahuan dan kepuasan intelektual, tapi untuk mengkristalkannya ke dalam diri kita dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari cara kita berpakaian, berinteraksi dengan sesama, bertransaksi dan sebagainya. 

Selanjutnya, mengajak teman-teman di sekeliling kita untuk memahami agama Islam yang mereka anut. agar mereka juga memahami kerusakan-kerusakan yang ada saat ini dan menyadari kewajiban-kewajiban yang belum terlaksana. Selanjutnya, mereka pun akan mengajak orang-orang lain di sekitar mereka untuk mengkaji Islam dan begitu seterusnya. Akhirnya, akan muncul kesadaran di tengah-tengah umat untuk kembali menerapkan Islam dalam kehidupan, yang termasuk juga sistem pendidikannya. 


Terakhir, ada pengingat dari Imam al-Ghazali dalam mukaddimah kitab Bidayatul Hidayah. Beliau berkata, “Jika seseorang mencari ilmu dengan maksud untuk sekedar hebat-hebatan, mencari pujian, atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri dan telah menjual akhirat dengan dunia.” 

Ini jadi tamparan keras bagi diri kita untuk menata kembali tujuan dari menuntut ilmu. Tujuan mencari ilmu haruslah semata-mata ditujukan untuk ibadah dan mencari hidayah Allah. Untuk itu, kita harus menata kepribadian kita agar menjadi berkepribadian Islam dengan senantiasa menuntut ilmu Islam di berbagai majlis. Serta menyebarkan Islam ke orang-orang di sekitar kita.

Wa’llahu a’lamu bishawab.

*) Penulis Seorang 
Aktivis Dakwah dan Tinggal di Tangerang