Home Opini MENANTI LANGKAH HRS SELANJUTNYA

MENANTI LANGKAH HRS SELANJUTNYA

222
0
SHARE
MENANTI LANGKAH HRS SELANJUTNYA

Oleh: H. J. Faisal

Tentu saja, para tokoh  yang sedang memiliki rasa percaya diri (pede) yang berlebih untuk menjadi presiden di negeri ini pada tahun 2024 kelak, harus memperhitungkan kembali kekuatan real elektabilitas yang mereka miliki saat ini. 

Apakah benar para calon presiden yang sedang berjuang keras untuk memikat simpati rakyat Indonesia tersebut, benar-benar memiliki elektabilitas yang nyata di luar data elektabilitas yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga survey yang ada saat ini?

Sudah menjadi rahasia umum jika lembaga-lembaga survey yang ada sekarang, sebenarnya hanya menjadi tunggangan tumpangan sementara para politikus yang sedang berebut kekuasaan, dimana  data survey akan dikeluarkan sesuai dengan pesanan para politikus atau para calon presiden yang sepertinya masih kurang pede tersebut. 

Tentu saja bagi pemilik lembaga-lembaga survey, keadaan atau kekurangpedean klien mereka itu merupakan berkah tersendiri. Ada uang ada data, wani piro? Begitulah kira-kira keadaan yang sedang berlangsung di dalam percaturan survey politik Indonesia saat ini.

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa para calon presiden yang sudah berkampanye dengan mencuri start tersebut harus memperhitungkan kembali kekuatan mereka, bahkan harus menrubah strategi pemenangan mereka?

Ya, benar....hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan oleh bebasnya Habib Rizieq Shihab (HRS) dari masa tahanannya, meskipun masih dengan status pembebasan bersyarat pada hari Rabu, 20 Juli 2022 yang lalu.

Pertanyaan yang kembali muncul adalah, mengapa pula para calon tokoh yang sedang berebut kursi kepresidenan tersebut harus memperhitungkan keberadaan HRS di tengah kebebasan bersyaratnya sekarang?

Sangatlah jelas, bahwa meskipun tidak dihitung oleh lembaga-lembaga survey yang ada, elektabilitas HRS secara otomatis memang sudah tinggi. Ini adalah elektabilitas yang nyata, bukan elektabilitas kaleng-kaleng hasil pesanan.

Mengapa demikian? Elektabilitas yang dimiliki oleh HRS, bukanlah elektabilitas yang terbentuk dalam waktu singkat. Elektabilitas beliau juga bukanlah sebuah lektabilitas yang terbentuk secara pragmatis dan oportunis. Elektabilitas beliau adalah sebuah elektabilitas  yang terbentuk dari rasa cinta masyarakat yang sesungguhnya terhadap beliau. 

Ini terbukti dari fakta yang ada di masyarakat, bahwa kecintaan masyarakat terhadap HRS bukan saja berasal dari umat Islam, tetapi juga berasal dari umat-umat beragama lainnya di Indonesia. 

Keberadaan HRS di tengah situasi politik transisional saat ini, justru memberikan harapan baru kepada masyarakat dimana kepercayaan rakyat dan masyarakat sudah mulai rapuh kepada partai politik beserta para tokoh-tokohnya saat ini. 

Terlepas dari berbagai macam kasus absurd yang membuat HRS dimasukkan ke dalam bui pada bulan Desember 2020 yang lalu, rakyat tetap percaya bahwa apa yang dialami oleh HRS merupakan resiko dari perjuangan beliau di dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar, seperti yang termaktub di dalam gerakan revolusi akhlak beliau. 

Revolusi akhlak yang digencarkan oleh HRS selama ini, bukanlah sebuah gerakan yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia, atau mengganti sistem pemerintahan Indonesia dengan sistem khilafah. 

Revolusi akhlak tersebut sejatinya merupakan gerakan untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik, seperti pemberantasan korupsi, penegakan keadilan di dalam sistem hukum negara, membuat Indonesia sebuah negara yang berkeadilan sosial, dan gerakan-gerakan kebaikan lainnya. Pastinya keadaan inilah yang diingnkan oleh seluruh rakyat Indonesia, apapun agama, suku, dan budayanya. 

HRS memang bukan seorang pemimpin daerah, pemimpin partai, maupun pemimpin lembaga-lembaga resmi lainnya. Beliau hanyalah seorang pemimpin Organisai Kemasyarakatan (ormas) Islam yang keberadaan ormasnya tersebutpun kini telah tiada. 

Tentu saja, para pembenci HRS juga pastinya akan tetap mengambil langkah untuk tetap memojokkan beliau agar beliau tidak dapat bergerak dengan bebas untuk mendapatkan simpati rakyat Indonesia yang lebih luas lagi. Apalagi dengan adanya keberadaan pihak-pihak yang terus menggencarkan kampanye hitam tentang Islamophobia di negara ini. 

Tetapi umat Islam dan umat-umat lainnya di Indonesia tidaklah bodoh. Mereka dapat melihat, bahwa sosok HRS merupakan sosok yang dapat mempersatukan seluruh umat beragama di Indonesia, terlepas dari segala macam fitnah dan ancaman dari berbagai pihak yang merasa tidak suka dan terancam dengan keberadaan HRS di Indonesia. 

Namun tentu saja, diluar segala macam pandangan dan terawangan dari para pengamat,  HRS juga pastinya mempunyai pandangannya sendiri di dalam menghadapi kondisi keumatan yang memang sedang sangat kehausan terhadap sosok pemimpin yang ideal untuk bangsa ini. 

Jika memang HRS ingin segera memasuki percaturan politik praktis saat ini, maka beliau pun harus siap dengan segala konsekuensinya di tengah kondisi pembebasan bersyarat beliau.

Namun jika HRS lebih tenang di dalam pergerakan beliau yang tetap beroposisi terhadap pemerintah, maka kemungkinan besar simpati dan dukungan rakyat akan mengalir lebih besar kepada beliau, seperti sebuah longsoran snow ball yang jatuh dari sebuah gunung es. 

Dengan demikian, kita akan menunggu apa langkah-langkah yang akan dilakukan oleh HRS di tengah kondisi keumatan, ekonomi dan seluruh sisi kebangsaan yang sedang terpuruk saat ini. 

Kita akan melihat pula, apakah keberadaan HRS saat ini masih mampu menjadi magnet bagi partai-partai politik, khususnya partai-parta politik Islam untuk mengajak beliau berkolaborasi dengan partai-partai mereka? Begitupun dengan tokoh-tokoh calon presiden mereka? Kita lihat saja... 

Pada akhirnya, rakyat juga akan melihat tontonan panggung para tokoh politik yang semakin menarik dan semakin berwarna di Indonesia sampai tahun 2024 mendatang.

Lumayan, rakyat jadi punya hiburan dan bahan obrolan menarik di warung-warung kopi, sambil mengelus-elus perut yang semakin sering merasakan kelaparan.  

Wallahu’allam bisshowab

Jakarta, 21 Juli 2022