Home Opini Mejik Garam vs Mejik Menyan

Mejik Garam vs Mejik Menyan

Oleh Ismail Lutan

950
0
SHARE
Mejik Garam vs Mejik Menyan

Mejik Garam vs Mejik Menyan

Oleh Ismail Lutan

Hujan deras dan banjir di Jakarta awal tahun lalu masih menyisakan derita.  Dan juga cerita lucu. Cerita lucunya adalah digugatnya gubernur Jakarta Anies Baswedan karena dinilai tidak mampu mengendalikan hujan. Kasusnya masih di pengadilan. Fulus yang dimintakan penggugat, tak tanggung-tanggung 42,3 miliar rupiah.

Dibalik lucu-lucuan itu, ada cerita menarik lain. Adalah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan awal tahun itu  bukanlah yang terbesar. Akan ada yang lebih besar lagi dan akan berlangsung sampai akhir Maret.

Tetapi mengapa kok tidak terjadi hujan lebih deras, ya. Apa ramalam BMKG ngaur?

Ternyata tidak!  Gubernur Anies  melakukan mejik garam untuk mengendalikan cuaca.

Mejik garam? Apa pula itu?

Garam yang berbentuk serbuk halus ditebar di atas titik awan gelap di atas Selat Sunda. Hujan kemudian jatuh sebelum sampai ke darat. Pawangnya adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan BMKG sebagai informan cuaca.  

Sedangkan Pemda DKI adalah pihak yang menyewa dengan anggaran lebih dari Rp. 20 milyar.

Seorang teman di BNPB yang ikut dalam rekayasa cuaca itu bercerita. Sehari bisa 2-3 kali penerbangan dari  Bandara Halim Perdana Kusuma. Pesawat yang digunakan CN 295 tipe A 2901. Satu kali penerbangan bisa mengangkut serbuk garam 2,5 ton.

Memang, pada saat kawan tersebut ikut dalam penerbangan untuk melakukan rekayasa cuaca, hujan deras tidak turun di Jakarta. Hanya gerimis.  Dan terkadang deras tetapi cuma sebentar. Mendung tetap gelap, namun kumpalan awa tidak menyatu.

BPPT menyatakan dengan rekayasa cuaca itu dapat memperkecil curah hujan hingga 40 %.

*

Nah, itu mejik garam. Ada lagi cara orang merekayasa cuaca, yaitu dengan mejik menyan.

Mejik menyan? Apa pula ini?

Mejik menyan adalah rekayasa cuaca dengan media utamanya menyan. Tukang insinyurnya  adalah pawang hujan.

Penulis  pernah mengikuti ritual pawang hujan ini dalam sebuah acara kondangan di wilayah Ciputat. Dengan ditemani kopi pahit, sang pawang duduk di belakang panggung (di luar tenda) dari pagi sampai acara selesai. Sebelumnya ia telah memasang bahan ritualnya di delapan penjuru angin di tempat-tempat  tertentu.

Lucunya,pada saat itu turun hujan lebat dan angin kencang. Bahkan atap salah satu tenda sempat copot.

Yang ajaib adalah apologi  atau pembelaan sang  pawang tersebut kepada tuan rumah. Dia bilang. “Meski sudah saya tahan, namun hujan-angin itu ngotot datang karena  ingin berkenalan dengan sang pengantin. Mereka ingin menyampaikan selamat karena kagum.”

Tuan rumah menerima apologi tersebut dan tetap tersenyum puas.

Nah,… yakin atau tidak itulah faktanya. Pawang hujan memang sudah menjadi kebutuhan upacara. Bahkan saat pelantikan kepala daerah di Jawa Tengah, usai Pilkada serentak lalu,  mereka juga menyewa jasa pawang hujan.

Yang belum dapat dijelaskan dalam tulisan ini adalah soal mejik istana. Mensesneg  melarang Presiden Jokowi mengunjungi kota Kediri untuk meresmikan pembangunan lapangan udara. Beliau  khawatir Presiden akan dilengserkan sepulangnya dari situ.

Nah, Kalo mejik ini mah emang belum ada ashabun nuzulnya.***