Home Opini Lagi-Lagi Gerombolan Cokro TV Bunuh Karakter Ulama

Lagi-Lagi Gerombolan Cokro TV Bunuh Karakter Ulama

917
0
SHARE
Lagi-Lagi Gerombolan Cokro TV Bunuh Karakter Ulama

Oleh : Nuim Hidayat (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Depok, Alumni IPB-UI).

Kali ini yang dibunuh adalah ketokohan Din Syamsudin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah. Dalam ulasannya terakhir di Cokro TV, Ade Armando menghina Din seolah menulis atau omong tanpa data.

Ade menyoroti surat mutakhir Din Syamsuddin kepada presiden Jokowi. Ia menyatakan bahwa pernyataan ada serentetan teror kepada ulama yang dinyatakan Din itu tanpa bukti. Ade juga menyoroti bahwa di lain kesempatan Din menyatakan bahwa pemerintah Jokowi ini zalim.

Sorotan terhadap pendiri KAMI, Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia ini, bertujuan untuk menggembosi oposan-oposan pemerintah.

Ade gegabah menilai Din. Surat yang dibuat Din mengingatkan Jokowi itu adalah fakta sebenarnya. Serentetan teror terhadap ulama telah terjadi. Bukan hanya tahun ini saja, seperti penusukan terhadap Syekh Ali Jaber. Tahun-tahun lalu juga ada pembacokan/penusukan ulama.

Teror bukan hanya dalam bentuk fisik. Pelarangan-pelarangan ceramah kepada Ustadz Bachtiar Nasir di wilayah tertentu, Ustadz Abdus Somad di UGM, pencoretan-pencoretan khatib tertentu di gedung-gedung pemerintah/BUMN adalah bentuk teror lain. Termasuk pemenjaraan Ustadz Alfian Tanjung adalah teror dalam hukum.

Teror yang sistematis dibuat pemerintah adalah penyematan kata radikal pada ulama atau kelompok-kelompok Islam tertentu. Sehingga antara ulama atau ormas Islam satu dengan yang lainnya saling mencurigai. Sementara kata radikal itu sendiri tidak didefinisikan secara jelas.

Jadi Ade ngawur mengatakan bahwa pernyataan Din itu tanpa data. Apalagi Din sendiri sebagai ulama juga mengalami teror ketika mengadakan pertemuan-pertemuan KAMI di daerah-daerah. Meski KAMI sebagai ormas, melakukan aksi-aksinya dengan konstitusional. Tapi karena KAMI kritis kepada pemerintah, maka KAMI di berbagai tempat aktivitasnya dihambat.

Surat Din kepada Jokowi itu sebenarnya adalah peringatan keras agar presiden mau mengubah kebijakannya. Kebijakan terhadap tenaga kerja asing, kebijakan injeksi trilyunan ke Jiwasraya, UU Ciptakerja dan lain-lain.

Yang menarik Din memperingatkan bahwa kegaduhan yang terjadi di negeri ini adalah akibat ulah presiden sendiri. Kata-kata Din ini tentu tidak disukai presiden dan pendukungnya.

Tapi peringatan Din itu kini terbukti. Di berbagai daerah kini ribuan mahasiswa dan buruh unjuk rasa. Demonstrasi itu kini bukan hanya merusak mobil atau bangunan, tapi sudah memakan korban jiwa.

Dalam kondisi seperti ini Din Syamsudin, Amien Rais, Gatot Nurmantyo seharusnya tampil. Bersama menyeru arah yang seharusnya pemerintah atau kaum elit ambil agar negeri ini selamat. 

Jangan hiraukan ocehan gerombolan Cokro TV yang mau membunuh karakter ulama atau oposan. Biarkan ahli-ahli propaganda menghadapi mereka.

Kaum elit dan kaum alit perlu bersatu untuk mengubah negeri ini agar tidak jatuh dalam pelukan Negara Cina lebih dalam. 

Inilah saatnya. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi.

Semoga Allah menurunkan bantuannya sehingga negeri ini dapat menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Dan negeri ini menjadi teladan bagi negeri-negeri Islam lain di dunia. Amiin. (*)