Home Seni Budaya JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

#Cerpen

148
0
SHARE
JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

#Cerpen

Oleh : Eka Handayani *)

Setelah tamat dari universitas di kota ku, aku memutuskan untuk travelling, karena selama empat tahun duduk dibangku kuliah membuat penat. Aku ingin berlibur untuk menghilangkan rasa penat yang berkepanjangan. 

Lalu, aku membuat jadwal perjalanan yang akan aku kunjungi, sambil melihat buku panduan travel dan akhirnya aku memilih Bali. Tempat yang tak  asing lagi untuk berlibur karena konon, banyak yang bilang kalau Pulau Dewata adalah sorganya Indonesia. 

Aku memilih waktu yang tepat untuk berangkat dan memesan hotel terlebih dahulu, untuk menginap karena tidak ada sanak saudara disana. 

Keesokan harinya aku berangkat dengan agen travel Penjor jurusan Surabaya – Denpasar yang di tempuh dalam waktu kurang lebih 12 jam perjalanan. 

Aku duduk dibelakang sopir karena bagiku merasa nyaman duduk dibangku itu, seandainya aku tertidurpun ada ruang untuk kakiku,  jadi tidak terlalu sempit.  Dan dideretan itu cuma ada dua kursi, aku memilih didekat jendela karena perjalanannya pada malam hari, sehingga tidak bisa menikmati perjalanan keluar, karena gelap. 

Aku memutuskan mengambil ipodku untuk mendegarkan musik, tak terasa olehku, perjalanan sudah sampai disebuah restoran di Kota Situbondo. Didepan restoran itu terbentang pemandangan yang indah, sebuah pantai pasir putih, meskipun sudah malam, tapi hamparan pantai terpampang begitu indah, dan aku bisa mendengar suara gemuruh ombak dengan  tiupan angin yang sepoi-sepoi, akupun memasuki restoran itu dan ikut mengambil tempat duduk yang telah disiapkan. 

Setelah beberapa saat istirahat, kembali memasuki minibus untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Dewata, dan dalam perjalanan, sopir mini bus memutar lagu lawas dari penyanyi Yuni Sara, ‘Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi’, lagu itu seolah, menyindir diriku sendiri. 

Sayup-sayup,  aku mendengarkan lagu itu, dan akhirnya, akupun terlelap, selang beberapa jam. Hingga akhirnya sopir itu bilang,  ‘yang mau turun silahkan’,  karena anginnya kencang  jadi ada ombak besar. 

Aku terbangun dan turun dari mobil travel, perjalanan selanjutnya menyeberangi selat Ketapang menuju Gilimanuk menggunkan kapal penyebeberangan, akupun menuju ke kapal penyeberangan, menaiki sebuah tangga menuju ke atas, dan ternyata di atas kapal itu ada sebuah ruangan, untuk penumpang duduk disana, juga ada musik & karaokenya. 

Salah seorang penumpang sedang menyanyikan sebuah lagu Jawa ciptaan Didi Kempot, yaitu ‘Tattu’. Aku mengambil tempat duduk, sambil menikmati alunan musik yang begitu mendayu-dayu. 

Tiba-tiba, tanpa Aku sadari  di sebelahku, seorang pemuda dengan penampilan yang cukup elegan, akupun  melirik ke pemuda itu. Oh, ternyata lumayan juga, perpaduan tampan dan manis, dalam hatiku membathin. 

Diapun melempar senyum kepadaku, dan bertanya. 
“Mau kemana..?” 
“Kuta”, Ku jawab, seadanya saja. 
Adakah saudara disana..?, pemuda itu meneruskan pertanyaanya. 
“Tidak” 
Nginep di hotel mana..?, seolah dia pingin memberikan perhatian kepadaku. 
Kujawab, “Haris Hotel” 
“Hmm”, kata pemuda itu, sembari mengangguk-angguk, entah apa maksudnya. 

Akhirnya kami saling berkenalan, sembari menyebutkan nama dan identitas masing-masing, serta bertukar nomor handpone, sementara alunan musik masih terus mendayu-dayu. Deburaan ombak dan tiupan angin diselat penyeberangan menuju Pulau Dewata, semakin kencang, sekencang denyut jantung kami masing-masing, selama perkenalan diatas kapal penyebarangan, antara Ketapang - Gilimanuk seolah menjadi saksi bisu. 

Pemuda itu bernama, ‘Chandra Wijaya’, ke Bali, karena keluarganya mempunyai usaha di bidang kontraktor dan dia adalah seorang arsitek yang sedang mengurus proyek di Pulau Dewata. 

Ketika dia menanyakan, apa pekerjaanku, aku sampaikan bahwa, aku baru tamat  dari salah satu universitas dan jurusanku sekertaris. Aku ke Bali hanya sekedar jalan-jalan, sebelum mencari kerja sambil menghilangkan rasa penat saja. 

Penyeberangan Ketapang – Gilimanuk, memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, akhirnya kami sampai di Gilimanuk, Bali. 

Walaupun kami baru saling kenal, tetapi seolah diantara kami berdua sudah begitu akrab, karena sosok Chandra Wijaya yang baru kukenal, tipe seorang yang humoris dan mudah bergaul. Kami berdua, bersama para penumpang lainnya menuruni tangga di kapal penyeberangan itu. 

Aku menuju ke mini bus, mobil travel yang membawa kami, sedangkan Chandra kembali menaiki mobilnya, sebuah Mercy warna hitam dengan sopirnya. Satu persatu mobil menunggu antrian untuk keluar dari kapal penyeberangan itu, sehingga terasa begitu lama dan membosankan. 

Suasana terik, sengatan mentari siang itu, lalu lalang orang-orang yang hilir mudik, membuat suasana disekitar dermaga penyeberangan menjadi begitu ramai. Waktu seolah berhenti, untuk bersabar, antri dalam antrian panjang kendaraan yang akan meneruskan perjalanan ke Pulau  Dewata. 

Daya Tarik Pulau Dewata begitu terasa disini, entah itu bagi mereka yang akan berlibur, untuk sekedar menikmati keindahanya, atau bagi mereka yang akan mengadu nasib di Pulau Dewata. 

Pada saat, mobil travel yang membawaku mulai melaju, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah pesan pendek lewat, pesan WA. Setelah kulihat, ternayata dari Chandra, pemuda yang baru saja aku kenal di kapal penyeberangan tadi, selang 15 menit berpisah dari kapal penyebarangan, dia langsung kirim pesan pendek. 

Dalam pesan pendek itu, Chandra menawarkan diri untuk menjadi tour guide kalau aku memerlukannya, pada intinya Chandra siap untuk mengatarku keliling Bali. Karena dia sudah tahu seluk beluk Pulau Bali. 

Dan akupun mengiyakan saja, melalui jawaban di WA, tetapi itu nati, karena aku ingin istirahat dulu. Disamping itu, Chandra juga menawarkan, kalau ada keperluan apa saja, suruh hubungi dirinya, tidak usah sungkan-sungkan, begitu pesanya. 

Setelah menempuh perjalana kurang lebih empat jam perjalanan dari Gilimanuk, dan sudah menurunkan beberapa penumpang, akhirnya tiba giliranku, turun dan mobilpun memasuki Hotel Haris, posisi hotel ini terletak di jalan yang cukup strategis dan tidak jauh dari Pantai Kuta. 

Aku turun mengambil bagasi yang tidak begitu banyak, karena aku liburan hanya untuk satu minggu saja, sesuai rencana awal. 

Ke reseptionis untuk mendapatkan kunci kamar, dan langsung menuju ke kamar hotel, akhirnya aku bisa merasakan kasur yang empuk, karena selama perjalanan dengan mobil travel, aku tidak merasa nyaman. Aku langsung mandi, untuk menghilangkan rasa penat selama perjalanan, dan segar rasanya. 

Disaat aku keluar dari kamar mandi, tiba – tiba ponselku berdering, ternyata telpon dari Chandra. Setelah aku menyapanya lewat telpone, Chandra menanyakan bagaimana kondisi saya, termasuk kondisi hotelnya, suasananya, terus dia juga menanyakan sudah makan apa belum dan berbagai pertanyaan lain, seolah semuanya ingin memberikan perhatian begitu besar hanya untuk diriku. 

Aku, menghela napas sembari menjawab satu persatu pertanyaan dari Chandra, aku bilang baru selesai mandi dan semua kondisinya baik, tidak kurang suatu apapun. Sekali lagi aku menghela napas, sembari meletakan ponselku diatas meja. 

Oh, betapa perhatianya sosok pemuda yang baru aku kenal kurang lebih delapan jam lalu. Didepan cermin di kamar hotel, sembari mematut diri, didalam kepalaku terus berkeliaran seribu pikiran dan tanda tanya, tentang perhatian dari sosok seorang Chandra kepada diriku. 

Kira-kira satu jam kemudian, setelah aku baru saja merapihkan diri, tiba-tiba ponselku kembali berdering. Lagi-lagi Chandra yang menelponku, kali ini dia bilang mau mengajaku makan siang, dengan sedikit gugup aku menolaknya secara halus, dengan alasan aku masih ingin istirahat dulu. 

Namun, dengan setengah memaksa Chandra bilang bahwa dirinya sudah ada dibawah, menunggu saya turun. Oh, my God, dasar keras kepala, pikirku, menggerutu sendiri dalam hati. 

Akhirnya, aku menyerah, langsung turun ke bawah untuk menemui Chandra. Begitu melihatku, Chandra langsung mengembangkan senyumnya dan membukakan pintu buatku. 

Dan kami, langsung menuju ke restoran yang tidak jauh dari tempat itu, restoran yang berada ditepi pantai, dengan pemandangan pantai yang luas membentang dan nama pantai itu, Pantai Jerman, kata salah satu pegawai restoran disana. 

Kamipun memesan makanan dan minuman, aku memesan Beef dengan Saus Padang dan Chandra memesan Chikhen Gordon Blue dengan Kentang Goreng. 

Sambil menunggu pesanan datang, Chandra menceritakan sekilas tentang pekerjaanya dan bertanya kepadaku, mau kerja dimana, dan aku menjawab belum ada rencana untuk bekerja. Karena baru saja tamat, belum punya banyak pengalaman kerja. 

Tanpa segan, Chandrapun menawariku kerja di perusahaan orang tuanya, di Surabaya dan yang membuat aku kaget, karena aku harus menjadi sekertarisnya, katanya, dia mau membimbingku secara perlahan-lahan, dan dengan begitu pede-nya dia bilang dia orang yang bisa diandalkan dalam membimbingku untuk menjadi seorang sekertaris yang handal.

Aku hanya bisa mengiyakan saja. Tak butuh waktu lama pesanan makanan kami datang, dan kami menikmati makan siang, di restora tepi pantai Kuta. Setelah selesai, dan membayar makanannya, Chandra mengajaku jalan-jalan di pantai, depan restoran itu. 

Karena cuaca terik mentari yang begitu menyengat, sekitar dua puluh menit, kami memutuskan untuk kembali, akupun diantar sampai depan loby hotel dan Chandra kembali ke kantornya, sambil bilang nanti akan menjemputku lagi, untuk makan malam dan lagi-lagi akupun mengiyakan saja, tanpa bisa menolaknya, karena aku menyadari dia tipikal orang yang suka memaksakan kehendaknya. 

Akupun masuk ke lift, menuju ke kamarku. Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah pukul enam sore waktu setempat, maksud hati ingin meliha sunset, tetapi aku sudah ada janji dengan Chandra untuk makan malam. 

Aku mulai mempersiapkan diri, daripada nanti sudah dijemput aku belum siap, pikirku. Aku memilih untuk memakai rok span warna hitam yang dipadukan dengan kemeja blouse warna pink, serta membiarkan rambut panjangku yang terjurai, ulasan make-up sederhana, untuk melengkapi penampilanku, makan malam istimewa bersama Chanda Wijaya. 

Ketika aku sedang memoles wajah dengan make-up, tiba-tiba ponselku berdering, mengabarkan bahwa Chandra sudah berada di loby, dengan terburu-buru, aku merapihkan penampilanku, seraya turun menuju ke loby. Ketika pintu lift terbuka, dia langsung menyambutku, sembari mengulurkan tanganya, untuk menggandengku. Sempat membuatku gugup, sambil aku tarik tanganku, malah dia mempererat gandengan tanganya. Dalam hati aku hanya berpikir, ada apa dengan dia, begitu aneh, gerutuku. 

Chandra melajukan mobilnya, melintasi mobil didepanya, dan tiba-tiba berhenti di sebuah rumah makan bernuansa alam dan adem, suasananya begitu nyaman. Nama restaurant itu, adalah Mang Engking, yang berada di Jalan Nakula, dengan masakan ala khas Sunda. Dia bilang suka dengan masakan sunda, karena Mamanya adalah orang Sunda. 

Kami memilih sebuah tepat lesehan, yang ukuranya kecil hanya untuk kami berdua saja, sambil menunggu pesanan makanan datang, dia bertanya bagaimana, apakah aku menerima tawaranya, untuk bekerja diperusahaan orang tuanya. Akupun bilang nanti setelah liburan, aku pikirkan dulu, dan dia bilan oke, ditunggu jawabanya. 

Ke esokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali, aku ingin sekali melihat sunrise di Pantai Sanur, aku bersiap diri, karena untuk dapat menikmati Sunrise itu, harus datang sepagi mungkin sekitar pukul 04.30 atau pukul 05.00 waktu setempat. 

Bergegas aku turun dari kamar hotel, mencari taxi, tetapi kali ini aku sangat terkejut, karena tiba-tiba Chadra datang didepanku, menyuruhku masuk ke mobilnya. 

Dalam kondisi kebingungan, dari mana Chandra tau kalau aku mau melihat sunrise, apakah mungkin dia tahu yang ada dalam pikiranku, entahlah, semuanya berkeliaran dalam benak pikaranku, dipagi buta itu. 

Lantas semua terjawab setelah Chandra, menyampaikan bahwa semalam dirinya menelponku, tetapi tidak aktif. Iya ponselku mati dan aku cash semalam, jwabaku sontan. Terus dia bilang dapat informasi dari recepsionist, kalau aku minta tolong dibangunin lebih awal dan memesan taxi, dari situlah Chandra tau rencanaku pagi ini. 

Dalam hatiku, aku menggerutu, dasar kayak detekif, tau saja rencana orang, akhirnya kami sampai di Pantai Semawang, disitulah kami menikmati keindahan sunrise di Pulau Dewata, yang sangat menajkubkan, indah dipandang mata. Dalam hatiku, berbisik betapa Tuhan yang Maha Besar, karya Sang Maha Agung yang begitu indah. 

Selang beberapa jam kami kembali ke hotel, aku langsung menuju ke restoran, karena mendapat jatah sarapan pagi, dan kebetulan dapat dua voucher, sehingga aku bisa mengajak Chandra. Kami menikmati sarapan pagi bersama, setelah semuannya selesai Chandra kembali ke rumahnya dan aku menuju ke kamarku. 

Begitu akan berpisah, Chandra mengingatkan akan mengajaku keliling Pulau Bali, kebetulan saat ini pekerjaanya tidak begitu sibuk.

Tepat pukul sepuluh siang waktu setempat, Chandra kembali menelponku, dia bilang kalau dirinya sudah di lobby dan hanya mengenakan celana pendek, karena hari masih siang. Aku langsung menemuinya di loby, tetapi langkahku terhenti sejenak, karena dia sedang berbicara dengan seorang wanita, yang mungkin usianya lebih tua dari Chandra. 

Wanita itu terlihat cantik dan dewasa, sejenak terlihat senyum wanita itu begitu indah, dan tiba-tiba Chandra tau kalau aku sudah datang, tanpa basa basi dia langsung mengenalkanku kepada wanita itu, sebagai tunangannya, sontak aku terkejut dibuatnya dan dalam kondisi seperti itu akupun tidak mungkin untuk berkilah, karena disitu banyak orang, disamping itu akupun tidak mau mempermalukan Chandra yang selama ini begitu baik dan penuh perhatian kepada diriku. 

Tidak lama kemudian kami berpamitan, karena nanti keburu hujan, langit sudah mulai mendung. Selama dalam perjalanan, dalam mobil itu aku terdian seribu bahasa, rasa syhok dan keterkejutanku seolah belum hilang, sejak tadi. Dalam kondisi seperti itu, rupanya Chandra bisa membaca perasaanku, benar saja sebelum aku meminta penjelasan soal wanita tadi, akhirnya Chandra dengan tergopoh-gopoh menjelaskanya secara rinci tentang peristiwa tadi. 

Chandra bilang, kalau wanita itu adalah kenalan tantenya, dan mereka berniat akan menjodohkan dirinya dengan adik wanita itu, tetapi Chandra menolaknya, dia bilang bahwa dirinya sudah punya kekasih, walaupun pada saat itu sebenarnya dirinya belum punya kekasih, dia hanya berbohon untuk sekedar menolaknya secara halus. 

Dan terus terang Chandra sendiri kaget tiba-tiba pagi tadi ketemu wanita itu di hotel, makanya tanpa pikir panjang, tanpa tanya aku sudah punya pacar apa belum, langsung terbesit di kepala Chandra untuk memperkenalkanku sebagai tunangannya. Dan itulah alasanya, mengapa Chandra berbuat seperti itu, sampai dirinya memohon beribu-ribu maaf kepadaku, atas kejadian tadi pagi di hotel. 

Akhirnya Chandra mengajaku ke suatu tempat wisata yang baru pertama aku kunjungi, tepatnya di Tanah Lot. Dia bercerita, kalau Tanah Lot itu tempat yang sakral, jika wanita yang sedang menstruasi tidak bisa masuk kesana, karena disama ada Pura dan juga ada ular yang konon disucikan. 

“Ada mitos yang mempercayai bahwa apa yang kita mita disana nanti pasti dikabulkan, dan satu lagi, kalau orang pacaran kesana akan putus, entahlah ini mitos apa bukan tetapi dari berbagai cerita teman dan kerabat sudah banyak buktinya, “jelas Chandra, panjang lebar. 

Disamping itu Chandra melanjutkannya, bahwa nanti disana kita bisa melihat sunsest dan tarian kecak yang sangat terkenal di Bali ini. 

Mendengar cerita Chandra itu, akupun jadi semangat untuk mendatangi tepat wisata itu. Sepanjang perjalanan ke Tanah Lot, Chandra banyak bercerita dan lagi-lagi aku hanya menjadi pendengar yang setia dan sabar. 

Perjalanan dari Kuta ke Tanah Lot memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, karena ada beberapa jalan yang macet dan kami melewati dan mengambil jalan pintas untuk memperpendek waktu perjalanan. 

Terus terang aku menaggumi sosok lelaki disampingku ini, sangat lihai dalam mencari jalan alternatif, seolah dia paham betul dengan kondisi di Pulau Dewata ini. Dia bilang sudah sekitar tiga tahun, selama bekerja di perusahaan milik keluarganya, dia harus bolak balik antara Surabaya – Denpasar, diakuinya bahwa dirinya juga suka traveling, suka menempuh perjalanan lewat darat, supaya bisa menikmati keindahan alam yang dilewatinya. 

Tak terasa, kami sudah sampai di Tanah Lot, setelah membeli tiket masuk, kami berjalan sambil menuruni tangga, disepanjang jalan di Tanah Lot, banyak kerajinan dan baju-baju khas Bali untuk oleh-oleh bagi para wisatawan baik lokal maupun internasional. Tiba-tiba ada seorang yang menarik-narik diri saya untuk sekedar menawarkan datangnya. 

“Hmm, woohh, sungguh indah sekali Pantai Tanah Lot, yang menakjubkan…, “Aku berteriak kegiarangan. 

Ada dua buah Pura disana, yang pertama kita kunjungi, adalah Holly Snack (ular suci, yang konon katanya apa yang kita inginkan akan terkabul). Dan kami juga menyeberangi dari goa yang ada ularnya itu ke sebuah Pura di seberangnya. Semua orang menuju kesana, sambil mengikuti ritual yang diberikan, dari sana kami langsung menuju ke restaurant yang ada diatas untuk bisa melihat sunset sambil menikmati makanan dan minuman air kelapa, segar sekali untuk menghilangkan dahaga. 

Waktu seolah berlalu begitu cepat, dan akhirnya kamipun melihat sunset, dengan perlahan mentari itu turun menuju kepembaringanya, tampak indah sekali, penuh warna-warni. Sekali lagi, akupun berucap syukur, atas segala karunia-Nya, bisa menikamati karya Sang Pencipta yang sungguh mengagumkan sekali. 

Tepat pukul 19.00 waktu setempat, kami pun turun menuju aula yang sudah dipersiapkan, kami mengambil tempat duduk. Rangkaian acara demi acara sudah dipersiapkan di aula ini, dan kami mengikutinya dengan seksama, sekali-kali berdecak kagum. Puncak acara di aula tersebut adalah Tari Kecak, diringi musik yang begitu terdengar merdu dan tarianya yang indah, dengan lekak lekuk sang penari yang begitu lincahnya, semua mata memandang tak berkedip. 

Di iringi obor yang nyala apinya seperti lemparan bola, sangat indah sekali dilihatnya, sampai tak terasa akupun merasa kedinginan, bulu kuduku merinding, aku takut terbakar, padahal jarak diantara kami begitu dekat. 

Melihat kondisiku, spontan Chandra menyadarinya, seraya memeluku sambil berkata, “ tidak apa –apa, mereka sudah professional, bukan pemula,’”seolah menenangkanku. Sambil menaruh kepalaku dipundaknya, aku merasakan ada getaran-getaran aneh dalam diriku. 

Aku mendengar dengan jelas detak jantungnya yang teratur, aku merasa nyaman dibuatnya…, dan akhirnya rangkaian acara di aula Tanah Lot, itu selesai. 

Kami kembali ke parkiran mobil, tetapi Chandra tidak mau melepaskan tanganya, dan terus menggandengku sampai ke mobilnya. Didalam perjalanan, dia pun bertanya padaku, bagaimana suka atau tidak dengan acara tadi itu, akupun hanya bisa mengangguk sebagai tanda suka dan dia bertanya lagi, apa aku sudah lapar, kujawab sekenanya, belum. 

Sambil mendengarkan musik yang diputar dimobil itu, alunanya begitu merdu, yang dinyayikan oleh Eric Clipton dengan judul ‘Wonderfull Tonight’, aku tersenyum didalam hati, memang benar malam ini, adalah Wonderfull. 

Untuk beberapa kalinya aku dibuat terkejut, lagi-lagi Chandra meraih tanganku begitu cepat dan dia mengikuti lagu yang dinyanyikan Eric Clipton, ‘and then she ask me’, do I lok alrigth’. And …I say, “yes” you look wonderfull tonight. 

Begitu banyak yang kami kunjungi, dari beberapa pura yang besar sampai Monkey Forest, waktu begitu cepat belalu, dan sampai diujung, tidak terasa sudah satu minggu aku melewati liburanku dengan sempurna, dan keesokan harinya, aku mau pesan tiket travel untuk kembali ke Surabaya. 

Namun Chandra tidak mengijinkan aku pulang dengan travel, dia menawarkan untuk ikut bersamanya pulang ke Surabaya. Akupun tidak kuasa untuk menolaknya, karena dia bilang harus pulang sendiri, karena sopirnya sudah kembali ke Surabaya terlebih dulu, karena ditelpon oleh keluarganya ada urusan yang mendadak. 

Ya, sudah akupun terpaksa, menuruti kemaunya, bersama-sama dengan Chandra kembali ke Surabaya. 

Keesokan harinya aku dan Chandra berangkat dari Bali pulang ke Surabaya, sepanjang perjalanan banyak sekali hal yang diceritakannya kepadaku. Terkadang dia cerita bagaimana keseruanya bersama teman-temanya dimasa kuliah dulu dan berbagai cerita-cerita lainya. Kadang cerita itu ada yang lucu, dan ada yang menyebalkan bagi diriku, namun akupun seperti biasa hanya menjadi pendengar yang setia dan sabar. 

Setelah menepuh sekitar setengah perjalanan, kami berhenti di sebuah restoran di Pantai Soka, sambil menikmati suasana pantai, tiba-tiba Chandra berkata dengan begitu serius, sembari menggenggam tanganku. 

Bak seorang penyair yang sedang melantukan puisi-pusinya, kata-katanya begitu indah dan puitis, menyihir siapapun yang mendengarnya, disaksikan bunga-bunga pantai, batu karang dan deburan ombak, pemuda yang ku kenal pertama kali di-kapal penyeberangan antara Ketapang – Gilimanuk itu, secara jujur menyatakan cintanya kepadaku, dia bilang jatuh cinta sejak pada pandangan pertama, di atas kapal. 

Oh, my God, aku langsung lemas dibuatnya, tulang belulangku terasa lepas dari persendianya, sejujurnya aku sangat terkejut, kata-katanya yang penuh sihir dan romantic, ditata begitu apik, semuanya hanya ditujukan demi untuku semata. 

Aku tidak lagi berani menatap wajahnya saat itu, hanya tertunduk, tak terucap sepatah kata, hanya isyarat anggukan lirih kepala, yang seolah isyarat, sebagai tanda setuju. 

Sejenak aku melemparkan pandanganku ke arah garis pantai, lalu secara perlahan menatap jauh ketengah lautan, sementara gulungan ombak saling bertabrakan, riuh, suaranya bergemuruh, begitu juga gemuruh dalam hati kami berdua, ada sebuah rasa yang begitu menggelayut, bak sebuah misteri, benih-benih cinta itupun rupanya terus bersemi. (*) 

Noted: Jatuh cinta tidak dibutuhkan berapa lama orang itu bertemu, tetapi percaya atau tidak jatuh cinta pada pandangan pertama itu sangat menakjubkan.

 

Tentang Penulis :
Eka Handayani, aktif dalam bidang kegiatan pariwisata, dan juga pengelola, Hanny Green Restoran, di Kuta, Bali. Saat ini aktif menulis kisah perjalanan yang dituangkannya dalam bentuk cerpen ).