Home Seni Budaya DKKB Dukung Penuh Cileungsi-Jonggol Art Festival

DKKB Dukung Penuh Cileungsi-Jonggol Art Festival

Terobosan Awal Mencari Jatidiri Bogor Timur

292
0
SHARE
DKKB Dukung Penuh Cileungsi-Jonggol Art Festival

Keterangan Gambar : Dari kiri ke kanan: Ketua Panitia H. Ismail Lutan, Nina Suminar, Putra Gara (Ketua DKKB), Inung Nurjanah Ridwan, Abu Midi, W. Suratman (jongkok), Ahmad Setyo (jongkok), H. Imansyah Al Rasyid, H. Prasetyohadi, Ibu Pertiwi dan RM. Soedharmono. (foto pnt)

DKKB Dukung Penuh Cileungsi-Jonggol Art Festival

Terobosan Awal Mencari Jatidiri Bogor Timur

Cibinong, parahyangan-post.com- Dewan Kesenian Kabupaten Bogor (DKKB) mendukung penuh penyelenggaraan Cileungsi-Jonggol Art Festival (CJAF) yang akan berlangsung bulan Juni mendatang . Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan panitia dengan ketua DKKB Putra Gara di Cibinong, Jumat 12/2.

“Saya sangat mendukung dan sangat antusias dengan penyelenggaraan  festival tersebut. Saya berharap CJAF menjadi terobosan baru dalam memajukan kesenian Bogor, lebih khusus di wilayah Bogor Timur,” papar Putra Gara.

Putra Gara yang baru saja terpilih sebagai ketua DKKB ini pun memberikan banyak masukan. Diantaranya mengenai nama dan esensi festival.

“Agar tidak terkesan diskriminatif dan menimbukan kecemburuan dari kecamatan lain di wilayah Bogor Timur, maka akan lebih baik kiranya nama kegiatannya disesuaikan saja. Misalnya Festival Bogor Timur,” usulnya.

Hal lain yang ditekankan Putra Gara adalah mengenai esensi dari festival tersebut. Ia berharap festival itu bukan hanya sekadar memunculkan keramaian semata. Dan setelah  acara selesai, hilang tanpa bekas.

“Kalau hanya sekadar mencari keramaian tidak bedanya dengan pasar malam. Hal-hal semacam itu sudah lewat bagi kita. Yang kita harapkan dari festival ini adalah esensinya. Nilai tambahnya. Apa yang bisa dinikmati dan dibaca ulang setelah festival selesai. Dan menjadi referensi bagi pegiat seni selanjutnya," pinta Gara.

Sepakat

Menjawab masukan dari ketua DKKB tersebut, ketua panitia CJAF H. Ismail Lutan menjelaskan, memang nama itu belum final. Baru sentakan awal sebagai ‘pengejut’ atau pendobrak. Seperti terapi kejut, sekali sentil orang kaget. Ternyata sentakan itu pun bergema. Sambutan postif pun berdatangan. Terutama dari pegiat seni. Mereka sangat mendukung.

“Tadinya kami berpikir karena festival tersebut akan diselenggarakan di komplek Perguruan Darul Marhamah yang berlokasi di Cileungsi, sedangkan Jonggol adalah ibu kota terbesar  yang digadang-gadang akan menjadi ibu kota Kabupaten Bogor Timur.  Maka kami namakan saja, Festival Seni Cileungsi-Jonggol atau Cileungsi-Jonggol Art Festival- CJAF.  Namun dalam perjalananannya berkembang pemikiran agar penyelenggarakan dipindah ke tempat yang lebih netral dan representatif di Jonggol,” tutur Ismail Lutan.

Sementara mengenai esensi, lanjut H. Ismail Lutan, memang sejak awal gagasannya adalah menjadi esensi, bukan sensasi atau hiburan semata.

“Gagasan awalnya adalah untuk mencari jati diri Bogor Timur di bidang kesenian. Mengapa gagasan ini penting? Karena  Bogor Timur akan menjadi kabupaten sendiri. Cepat atau lambat pemekaran ini pasti terwujud, mengingat Kabupaten Bogor sangat luas dan pertumbuhan penduduknya sangat tinggi. Sulit dikelola jika masih berada dalam satu kabupaten.  Nah salah satu yang dibutuhkan dalam kabupaten baru itu adalah jati dirinya, “ tambah Ismail Lutan yang juga pimpinan umum parahyangan-post grup ini.

Sebagai langkah awal pihak panitia sudah  mendata jenis-jenis kesenian tradisional di Bogor Timur.  Mencari seniman-seniman / pegiat seni yang aktif dan konsisten mengembangkan karyanya. Salah satu yang sudah dikunjungi adalah grup Kesenian tradisional Giri Wangi, pimpinan Ibu Lala Daniati di Kampung Arca, Puncak Bogor 2.

Selain ketua panitia H. Ismail Lutan, turut hadir hadir dalam silaturrahmi dan diskusi yang cukup hangat tersebut, Ahmad Setyo, Prasetyohadi, Raden Mas Soedharmono, Imansyah Al Rasyid, W.Suratman, Inung Nurjanah Ridwan, Nina Suminar dan Abu Midi.*** (boe)