Home Agama Dengan Semangat Idul Fitri Kita Bangun Indonesia yang Adil, Beradab, Sejahtera, Maju, dan di Ridhoi

Dengan Semangat Idul Fitri Kita Bangun Indonesia yang Adil, Beradab, Sejahtera, Maju, dan di Ridhoi

Khutbah Idul Fitri 1440H

984
0
SHARE
Dengan Semangat Idul Fitri Kita Bangun Indonesia yang Adil, Beradab, Sejahtera, Maju, dan di Ridhoi

 



Oleh: Farouk Abdullah Alwyni

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

 

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر!

 

اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا 

 

لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهْ صَدَقَ وَعْدَ وَ نَصَرَ اَبْدَ وَ اَزَجُنْدَ هُ وَ هَذَ مَلْالله زَهْبَ وَحْدَ

 

لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِياَّهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَا فِرُوْن

 

لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ اَلْحَمْدُ

 

نَحْمَدُ الله حَقَّا حَمْدَالله وَنَشَعْكُرُهُ حَقَّا شّكْرَا

 

أَشْهَدُ أَنْ اللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

 

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَسُوْلُ اللهِ لاَ نَبِيّاَ بَعْدَه

 

فَياَ عِباَدَالله اَسْيِكُمْ وَ نَفْسِهْ وَإيّا تَقْوَلله وَ اَطَا ئِهْ

 

أَمَّا بَعْدُ

 

Esensi Iedul Fitri (Ramadhan sebagai Tempat Pelatihan)

 

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Bapak/Ibu/Saudara/saudari sekalian, kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Sholat Ied yang dimuliakan Allah.

 

 

Alhamdulillah, segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yg telah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul bersama melakukan sholat Iedul Fitri di tempat yg InsyaAllah di muliakan oleh Allah ini. 

Setelah sebulan penuh kita berpuasa, mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, meningkatkan rasa solidaritas sosial kita kepada saudara-saudara kita yg kurang mampu, maka masuklah kita ke bulan Syawal 1440H. 

Tidak terasa waktu berjalan, satu bulan lamanya kita melakukan puasa Ramadhan bersama, satu bulan yang terasa seperti satu pekan, atau mungkin lebih cepat, sebagaimana tahun-tahun, dan bulan-bulan yang kita telah lalui sebelumnya. 

 

 

Ramadhan pada esensinya adlh sebuah “training ground”, sebuah tempat pelatihan, sebuah tempat untuk mengembalikan esensi fitrah kita, untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan dalam waktu yg sama adalah bagaimana kita menerjemahkan ketaqwaan tersebut dalam kerangka pembentukan karakter kita sebagai seorang Muslim dan Muslimah yang berserah diri kepada Allah, menerjemahkan Hablum Minallah, hubungan kita kepada Allah tersebut menjadi Hablum Minannas, hubungan kita kepada sesama manusia, baik Muslim maupun Non-Muslim, bahkan dalam beberapa aspek Islam juga perduli terkait bagaimana kita memperlakukan binatang, tumbuhan, serta alam dan segala isi-nya. Disinilah akan masuk dimensi luar dari proses peningkatan ketaqwaan kita, yakni proses pembentukan akhlaq, penterjemahan ketaqwaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dalam satu hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah, Nabi besar Muhammad SAW, menyatakan bahwa

اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأ ُتَمِّمَا مَكَارِمَ اْلأَحْلاَ قِ yang artinya “aku diturunkan hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq.” Di sini kita lihat akhlaq menjadi satu “critical point” dalam keyakinan keIslaman kita. Karena pada esensinya kebesaran Islam hanya bisa dirasakan ketika Islam itu sendiri telah menjadi bagian fundamental dari sikap seorang Muslim, yang mana ini akan terlihat dari akhlaq dan/atau karakter seseorang.

 

Suksesnya da’wah Rasulullah juga tidak bisa dilepaskan dari kemuliaan akhlaq yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana Allah menyatakan sendiri dalam al-Qur’an surat al-Ahzab (33): 21 yang berbunyi:

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut Allah.

 

Terkait hal diatas, Allah juga memberikan kesaksian terkait keagungan akhlaq Rasulullah dalam surat al-Qalam (68):4 yang berbunyi:

 

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

 

dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung

[and indeed, you are of a great moral character]

 

Rasulullah sendiri menyampaikan beberapa hal terkait pentingnya akhlaq dalam beberapa hadith sahih yang terjemahannya sebagai berikut:

 

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaqnya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.

 

Dalam satu kesempatan Rasulullah ditanyakan apa-apa yang menyebabkan orang-orang masuk ke surga. Beliau menyatakan, “Takut kepada Allah dan akhlaq yang baik (Fear of God and good character).”

 

An-Nawwas bin Saman bertanya kepada Rasulullah terkait kesalihan (righteousness) dan dosa, beliau menjawab:

 

“Kesalihan adalah menunjukkan karakter yang baik (Righteousness is to exhibit good    character). Sebuah dosa adalah apa yang menggangu hati kita dan kita membencinya

jika orang-orang mengetahuinya (A sin is what disturbs your heart

and you hate for others to know about it).”

 

Bahkan Rasulullah juga menyatakan,

 

“Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah

orang yang paling baik akhlaqnya di antara mereka.”

 

Riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

 

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan orang yang paling

dekat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik

akhlaqnya di antara kalian. Sedangkan yang paling aku benci dan paling jauh

duduknya denganku pada hari kiamat adalah para pembual/pendusta, orang-orang yang meremehkan/menghinakan orang lain, dan orang yang sombong dan angkuh.”

 

 

Terkait dengan hadis-hadis diatas Imam Ali RA juga menyatakan ketinggian agama seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia memperlakukan orang lain. 

Dari berbagai pesan-pesan Qur’an dan Hadis diatas kita bisa lihat bahwa keImanan menjadi hampa ketika tidak mempunyai dampak dalam memperbaiki akhlaq dan/atau karakter seseorang, ketika Iman tidak membentuk karakter seseorang, khususnya dalam hubungannya dengan bagaimana dia memperlakukan dan/atau berhubungan dengan orang lain.

Disinilah sesungguhnya tantangan kita bersama sebagai kaum Muslimin bagaimana kita bisa menterjemahkan training kita di bulan Ramadhan ini untuk menjadi insan-insan yang bertaqwa seperti yang menjadi satu objektif penting dari puasa Ramadhan kita sebagaimana Allah nyatakan dalam surat al-Baqarah (2):183 yang berbunyi:

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana

diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

 

Tetapi disini kita telah melihat, bahwa ketaqawaan itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari bagaimana taqwa tersebut dpt diterjemahkan dalam prilaku kita sehari-hari. Maka kita perlu terus berjuang bersama bagaimana secara bertahap model ketaqwaan ini pada akhirnya dapat menjadi sebuah “living reality” dari Islam itu sendiri, dimana kita bukan sekedar “talking Islam” tetapi juga “living Islam”, menjalankan esensi Islam dalam kehidupan kita sehari-hari menterjemahkan keIslaman kita, keImanan kita, menjadi karakter kita, sikap kita, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain dan lingkungan sekitar kita.

 

 

 

Kembali ke Nilai-Nilai Fundamental: Keyakinan Kepada Allah (Iman) & Berbuat Kebaikan (Ihsan)

 

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian, kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Sholat Ied yang dimuliakan Allah.

 

Dalam momen Idul Fitri ini adalah penting jika kita merefleksikan kembali nilai-nilai fundamental dari Islam itu, pesan-pesan abadi yang di sampaikan oleh Allah SWT melalui sang Nabi penutup, Muhammad SAW.

 

Salah seorang pemikir Islam abad 20, yang juga seorang diplomat, Abd. Al-Rahman Azzam pendiri dan sekaligus Sekretaris Jenderal pertama Liga Arab (perlu dicatat disini bahwa walaupun Azzam aktif dalam pendirian Liga Arab, beliau dikenal sebagai seseorang yang berfikir lebih besar lagi, yakni terkait persatuan Islam) dalam bukunya “The Eternal Message of Muhammad (Pesan Abadi dari Muhammad)” menyatakan bahwa pesan abadi dari Islam terdiri dari dua hal fundamental, yakni keyakinan kepada Allah (Iman/faith) dan perbuatan kebaikan (Ihsan/right-doing/the action of doing what is right; proper, correct or moral action). 

 

Diantara pesan-pesan al-Qur’an yang ditangkap oleh beliau terkait dua hal fundamental diatas adalah diantaranya termaktub di surat al-Baqarah (2):112 :

 

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

… barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

 

Dan surat an-Nisaa(4):125 :

 

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

 

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? …

 

Dan tentunya banyak lagi ayat-ayat yang menekankan korelasi antara Iman dan Ihsan:

 

Al-Baqarah(2):25 :

 

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

 

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik,

bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya …

 

Al-Baqarah(2):82 :

 

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga;

mereka kekal di dalamnya

 

Dan tentunya banyak lagi surat-surat yang menyampaikan dua hal fundamental diatas dalam kaitannya dengan keberhasilan kita di akhirat kelak {An-Nisaa(4):57 & 124, Al-Maidah(5):9, Yunus (10):9, Hud(11):11&23, Al-Kahf(18): 30-31, 107, Al-Hajj(22): 14,23, &50, dll.}.

 

Implikasi keImanan: Keadilan (Justice), Pemurah (Mercy), Membantu Kaum tertindas (Help the Oppressed), dan Memerangi Kaum Penindas (Fight the Oppressors)

 

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian, kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah.

 

Di tengah suasana Iedul Fitri ini, marilah bersama-sama kita menguatkan komitmen kita bersama dalam mengimplentasikan Islam dalam kehidupan kita, yang dimulai dgn membangun karakter kita sedapat mungkin sesuai dgn tuntunan Islam.

 

Bagaimana Islam dpt membentuk sikap kejujuran dlm diri kita, sikap keadilan dalam interaksi kita, sikap keadaban dlm memperlakukan orang lain dilingkungan kita, sikap keperdulian sosial dan empati kepada orang-orang yang lemah dan tertindas, baik kepada kaum Muslimin dinegara kita sendiri & diluar negeri kita, maupun kemanusiaan secara umum. Juga bagaimana menjadikan keyakinan keIslaman kita bisa menumbuhkan sikap perlawanan terhadap kemungkaran dan kezaliman dlm lingkungan kita.

 

Pembentukan karakter ini adlh sebuah modal sosial yg sangat penting yg akan dibutuhkan bagi sebuah bangsa, sebuah masyarakat untuk maju. Tdk ada sebuah peradaban yg menjadi kuat, besar, dan maju jika tdk dilandasi oleh modal sosial ini. Seperti yang kita lihat sekarang ini, bagaimana satu ciri dari sebuah bangsa-bangsa yang maju adalah terbentuknya sebuah karakter dari bangsa tersebut, walaupun mereka bukan Muslim.

 

 

Jika kita mempelajari sejarah Islam bgmn Islam dapat merubah bangsa Arab dlm waktu yg relatif singkat menjadi sebuah bangsa yg bisa memainkan peranan penting dalam percaturan peradaban dunia. Hal ini tidak lain dan tidak bukan bagaimana keImanan mereka dapat mentransformasi mereka menjadi sebuah bangsa yang memiliki karakter yang kuat.  

Kitapun melihat sekarang ini bgmn bangsa-bangsa yg lebih maju baik itu di Eropa, Amerika, maupun Asia Timur adlh bangsa-bangsa dimana modal sosial ini mulai menguat. Tdk ada bangsa yg bisa menjadi besar dan maju tanpa perduli dgn nilai-nilai keadilan dlm masyarakatnya. Krn keadilan akan melahirkan persatuan. Persatuan akan melahirkan kekuatan, dan kekuatan akan melahirkan kemajuan. 

Oleh sebab itu kembali ke hikmah Ramadhan yg perlu kita implementasikan bersama dlm kehidupan di sebelas bulan berikutnya, bgmn upaya kita utk meningkatkan taqwa benar-benar dpt membentuk karakter kita bersama, sebagai umat yg mengedepankan nilai-nilai akhlaq mulia dan sifat keperdulian sosial serta kemanusiaan yg tinggi. 

Jauh sebelum Barat menemukan konsep hak-hak asasi man