Home Edukasi Daniel Rivaldo Gunawan: Lulus Tepat Waktu dengan Beasiswa IISMA dan Djarum sembari Internship

Daniel Rivaldo Gunawan: Lulus Tepat Waktu dengan Beasiswa IISMA dan Djarum sembari Internship

SOSOK & PROFIL MAHASISWA

273
0
SHARE
Daniel Rivaldo Gunawan: Lulus Tepat Waktu dengan Beasiswa IISMA dan Djarum sembari Internship

Keterangan Gambar : Daniel Rivaldo Gunawan, dengan berbagai aktivitasnya (Foto : ist/pp)

Daniel Rivaldo Gunawan, atau yang biasa akrab disapa Aldo atau Daniel, adalah mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Daniel merupakan mahasiswa Program Studi Matematika angkatan 2018 di Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Ia tergabung dalam himpunan jurusannya yaitu HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika) pada tahun 2019. 

Berbagai kegiatan diikutinya ketika masih berkuliah, baik itu akademik maupun non-akademik. Di bidang akademik, selain mengikuti perkuliahan dengan baik, ia pernah menjadi asisten Lab Fisika Dasar pada saat tingkat 2. Sedangkan pada bidang non-akademik, ia pernah menjadi anggota Unit Bulu Tangkis ITB angkatan 2018, anggota HIMATIKA angkatan 2019, menjadi panitia wisuda Juli, mengikuti beberapa perlombaan dan program internship. 

Selain mempunyai background di bidang matematika, Daniel memiliki hobi dan passion di bidang desain. Hal ini dibuktikan olehnya dengan berkontribusi menjadi bagian desain dan kreatif di UBT dan mengikuti program internship pada dua perusahaan, yaitu Sagara Technology sebagai UX Design dan Ruang Guru sebagai consumer research. Pengalaman ini semakin memperluas pengetahuannya dalam bidang desain dan research

Daniel pernah menjadi penerima beasiswa Djarum pada tahun 2020 - 2021. Motivasinya untuk mengikuti program beasiswa adalah untuk meringankan beban finansial orang tua. Ia terus mencari informasi dan akhirnya didapatlah informasi beasiswa Djarum. Djarum tidak hanya menawarkan beasiswa, namun juga menawarkan pelatihan leadership. Daniel pun merasa tertarik dan mencoba mendaftarkan dirinya. Alhasil, Daniel berhasil lolos seleksi beasiswa Djarum. Ia melanjutkan program tersebut dan mendapatkan beberapa pelatihan leadership

Tidak hanya itu, ia pun pernah menjadi penerima beasiswa IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards). IISMA merupakan program beasiswa dari Pemerintah Republik Indonesia untuk mendanai mahasiswa Indonesia dalam program pertukaran pelajar. Ini merupakan salah satu pencapaian terbesar Daniel pada saat ia masih berkuliah. Pada awalnya ia tidak pernah mengetahui apa itu IISMA. Ia mendapatkan informasi beasiswa IISMA ini dari temannya seminggu sebelum deadline pengiriman berkas ditutup.

Setelah melakukan research mengenai beasiswa tersebut, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri. Ia memanfaatkan waktu yang cukup singkat untuk menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan dan melakukan tes bahasa inggris melalui Duolingo English.
Menariknya, ia mendapatkan hasil tes yang bagus dan sesuai kualifikasi. Setelah melengkapi dan mengumpulkan semua persyaratannya, ia kemudian memilih universitas yang dituju. Awalnya Daniel memilih University of Leicester di Inggris, namun akhirnya ia ditempatkan di Universitat Pompeu Fabra yang berlokasi di Barcelona, Spanyol. 

Berbagai suka dan duka dirasakan oleh Daniel saat mengikuti program pertukaran pelajar ini. Banyak sekali berkas yang harus diurus untuk berangkat ke Barcelona, seperti paspor dan visa. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa Daniel pasti berangkat ke Barcelona karena pada saat itu angka Covid-19 naik kembali dan ada kemungkinan di cancel untuk beberapa negara. Pada akhirnya ia berhasil untuk berangkat dan mengikuti student exchange tersebut. Ia merasa sangat senang dapat menempuh pendidikan di negara lain. Selain belajar, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk jalan-jalan, mengenal orang dari berbagai negara, dan mempelajari culture berbagai negara.

Di sana, ia mendapatkan mata kuliah yang berbau
social science. Daniel yang mempunyai background di bidang matematika merasakan perbedaan pada gaya mengajar dosennya. Di bidang social science, dosen lebih sedikit mengajar dan menuntut mahasiswanya agar lebih aktif untuk mencari dan menggali ilmu sendiri. Selain itu, proses pembelajaran banyak diisi oleh debat dan presentasi. Meskipun perbedaan ini membuatnya cukup terkejut, namun ia tetap berusaha menyesuaikan dirinya. Pertukaran pelajar yang diadakan selama 1 semester ini banyak memberikan insight baru kepada Daniel. 

Satu hal lagi yang hebat dari seorang Daniel ialah ia dapat menyelesaikan studinya dengan tepat waktu. Strategi yang ia gunakan agar selesai tepat waktu adalah dengan mengambil jumlah SKS sebanyak-banyaknya. Ia bahkan pernah mengambil 22 SKS dan 24 SKS hingga 2 semester berturut-turut, sehingga ia mempunyai spare waktu yang cukup banyak. Selain itu, Daniel juga mencoba memaksimalkan tugas akhirnya. Alhasil, ketika ia mengikuti beasiswa IISMA, ia sudah menyelesaikan 70 hingga 80 persen progres tugas akhirnya, sehingga ia pun berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu. 

Beberapa hal yang dilakukan oleh Daniel untuk dapat menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan non-akademik yaitu menyiapkan agenda dan menuliskan target kegiatan per hari. Lalu dalam hal manajemen waktu, ia selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk mencicil tugas kuliah, sehingga ia bisa fokus untuk melakukan kegiatan yang lain seperti meeting atau kegiatan kepanitiaan. Circle atau lingkungan pertemanan yang baik juga menjadi hal yang penting untuk dimiliki, karena dengan begitu kita akan selalu mendapatkan support dari teman dan dapat membantu kita melawan rasa malas atau “mager”. 

Meskipun begitu, Daniel juga pernah merasakan demotivasi dalam berkuliah. Namun, ia tidak terus berlarut dalam perasaan itu karena ia memiliki tujuan yang besar, yaitu ingin membanggakan orang tuanya. Itulah motivasi yang sangat kuat bagi Daniel. Hal lain yang memacu motivasinya yaitu ia tidak ingin mendapatkan nilai atau IP yang jelek. Menurutnya, IP merupakan hal yang berpengaruh. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa tidak ada salahnya kita terus mempertahankan IP dengan baik. 


Daniel berpesan kepada teman-teman yang saat ini masih berkuliah di ITB untuk tetap memprioritaskan akademik terlebih dahulu, setelah itu baru mengerjakan yang lainnya seperti non-akademik. Tidak apa-apa jika kita ingin mengejar dua target, akademik dan non-akademik, namun hal itu membutuhkan kerja yang ekstra. Daniel juga berpesan untuk tidak takut dengan apapun yang sedang kita kejar dan jangan mudah terpengaruh dengan perkataan orang lain. (*)

(rd/rin/pp)