Home Nusantara BUDAYA DAUR ULANG SAMPAH MENJADI MATERI KURIKULUM LINGKUNGAN HIDUP DI SEKOLAH LANSIA

BUDAYA DAUR ULANG SAMPAH MENJADI MATERI KURIKULUM LINGKUNGAN HIDUP DI SEKOLAH LANSIA

#PesantrenLansia

343
0
SHARE
BUDAYA DAUR ULANG SAMPAH MENJADI MATERI KURIKULUM LINGKUNGAN HIDUP DI SEKOLAH LANSIA

Keterangan Gambar : Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Banyubiru berinisiasi memasukan materi Daur Ulang Sampah bagi santri lanjut usia kedalam kurikulum Sekolah Lansia, bersama pemateri Roro Sundari aktivis Komunitas Daur Ulang Indonesia yang juga penggiat Mitra Kebajikan Nusantara, mulai Rabu (30/9) di Aula Pondok Pesantren Lansia

GEDONG,SEMARANG (Parahyanganpost.com) --Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Banyubiru berinisiasi memasukan materi Daur Ulang Sampah bagi santri lanjut usia kedalam kurikulum Sekolah Lansia, bersama pemateri Roro Sundari aktivis Komunitas Daur Ulang Indonesia yang juga penggiat Mitra Kebajikan Nusantara, mulai Rabu (30/9) di Aula Pondok Pesantren Lansia. Materi  Budaya Daur Ulang sampah  merupakan salah satu kurikulum tentang lingkungan hidup di Sekolah Lansia. Program ini merupakan tindak lanjut komitmen  'Giat Bareng' sinergitas empat kelompok komunitas; (Komunitas Sahabat Babinsa, Komunitas Sego Jum'at Ambarawa, Komunitas 
Sayur Barokah Ngablak dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Banyubiru). 

Budaya mendaur ulang sampah adalah salahsatu bentuk kepedulian dalam menjaga lingkungan. Mendaur ulang sampah ini bisa dilakukan lintas usia dan generasi. Dalam sebuah perbincangan Roro mengatakan, bahwa tidak banyak orang yang peduli terhadap sampah, namun akan berbeda jika sampah yang diolah memiliki nilai. "Wujud kepedulian akan sampah tidak hanya berupa membuang sampah pada tempatnya atau membakar dan menimbun sampah saja, tapi bagaimana kemudian sampah diolah menjadi barang baru yang bernilai", terang Roro. 

Dalam materi perdananya, Roro juga menekankan bahwa memang tidak mudah membuat orang suka akan pengolahan sampah ini, namun dengan mampu melakukan pemilahan sampah maka sudah dapat dikatakan peduli akan lingkungan, "Iya, yang langkah yang paling mudah adalah melakukan memilah sampah, mana yang merupakan sampah organik dan anorganik, agar memudahkan juga cara mengolahnya pada langkah berikutnya." ujar Roro.

Selain menambah aktifitas baru bagi lansia, kegiatan mendaur ulang sampah ini juga dapat menjadi semangat baru dalam menjaga lingkungan bagi santri lansia dan masyarakat desa Gedong ini, seperti yang disampaikan Tasliyah, salahsatu santri lansia, "sangat menyenangkan mendapat ilmu baru, bagaimana memilah sampah, kemudian mengolahnya, bisa bikin tas dari plastik, atau bunga, atau tatakan gelas, dan hasil prakarya dari daur ulang sampah ini bisa menambah semangat bagi santri lansia dan masyarakat desa Gedong ini, dan tentu menjadikan masyarakat semakin peduli dengan lingkungannya," terang Tasliyah mengakhiri perbincangan. 

Sementara itu, Winarno selaku Kepala Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat, juga menuturkan bahwa materi daur ulang sampah yang masuk dalam kurikulum lansia ini diharapkan dapat membantu para lansia untuk menambah aktifitas kesehariannya, "jadi selain aktifitas reguler, ada juga aktifitas mendaur ulang sampah ini, agar lansia juga tetap terjaga daya ingatnya, serta menjadi kebiasaan baru yang tentu mengasah daya ingat dan peduli terhadap lingkungannya," ujar Winarno.

(DQ-RR/PP)