Home Seni Budaya Anwar Al Betawie: Pencak Silat Harus Masuk Mulok

Anwar Al Betawie: Pencak Silat Harus Masuk Mulok

Raker II ASTRABI:

225
0
SHARE
Anwar Al Betawie: Pencak Silat Harus Masuk Mulok

Keterangan Gambar : Ketua Umum Asosiasi Pencak Silat Tradisi Betawi Indonesia (ASTRABI) Anwar Al Betawie pada Rapat Kerja Nasional (Raker) II di Hotel Puri Mega, Jakarta 27/3. Pencak Silat harus masuk Mulok. (foto ratman)

Raker II ASTRABI:

Anwar Al Betawie: Pencak Silat Harus Masuk Mulok

Jakarta, parahyangan-post.com- Seni bela diri tradisional Indonesia Pencak Silat harus diajarkan di sekolah-sekolah. Masuk ke dalam mata pelajaran wajib muatan lokal (Mulok). Karena khasanah budaya nusantara ini sudah diakui dunia internasional (UNESCO- United Nations Educational Scientific Cultural Organization- Organizasi Pendidikan Keilmuan dan Budaya PBB) sebagai warisan budaya tak benda.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pencak Silat Tradisi Betawi Indonesia (ASTRABI) Anwar Al Betawie pada Rapat Kerja Nasional (Raker) II di  Hotel Puri Mega, Jakarta 27/3.

“Sudah sewajarnya pencak silat diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Pencak silat ini adalah khasanah budaya kita yang adiluhung.  Yang diwariskan oleh leluhur kita secara turun temurun, dan telah mengangkat nama bangsa Indonesia di kancah dunia internasional,” tutur Anwar kepada parahyangan-post di sela-sela acara.

Bisa Lenyap

Dikatakan Anwar, jika tidak diajarkan maka  seni bela diri ini bisa hilang dari muka bumi. Dan jika itu terjadi merupakan kerugian yang sangat besar bagi bangsa Indonesia.

ASTRABI merukan organisasi silat tradisi Betawi yang berdiri sejak tahun 2016 . Saat ini sudah mempunyai 13 cabang perguruan silat, tersebar di seluruh tanah air dan manca negara.

Raker II mengambil  tema, Berkarya untuk negeri dengan melestarikan dan mengembangkan “Maen Pukulan Betawi”, sebagai khasanah dan kekayaan budaya nusantara. Dari Betawi untuk Indonesia. Dihadiri sejumlah pejabat, diantaranya Kepala Dinas Kebudayan DKI Iwan Henry Wardhana.

Perhatian

Lebih jauh Anwar mengatakan, umumnya perguruan silat tradisi Bertawi berkembang secara alamiah. Diwariskan dari orang tua atau leluhur. Tidak pernah meminta bantuan kepada pihak lain. Murid-muridnya berasal dari lingkungan terdekat atau dari luar. Para guru tidak memungut biaya pendidikan. Sehingga, jika dilihat dari segi ekonomi, kehidupan perguruan agak memprihatinkan.

“Kondisi inilah yang terkadang dilihat sebelah mata oleh pihak lain. Sehingga mereka kurang menghargai kebudayaan dan kekayaan asli bangsa. Maka ASTRABI ingin agar kehidupan para guru silat ini mendapat perhatian dari pemerintah. Karena mereka mengajar benar-benar ikhlas tanpa tergiur oleh materi,” tambah Anwar.

Salah satu cara mengangkat harkat dan martabat para guru tersebut, lanjut Anwar, memasukan seni bela diri silat tradisi ini ke dalam mata pelajaran Mulok. Dengan demikian para guru dapat  mengajar di sekolah-sekolah yang dibiayai oleh pemerintah.

“Jadi dari segi ekonomi mereka terbantu tanpa harus meminta-minta. Sementara dari sisi lain, penguasaan bela diri tradisi ini sangat besar manfaatnya bagi siswa. Diantaranya untuk menjaga kesehatan, daya tahan stamina dan meningkat kepercayaan diri dan kecerdasan otak,” tambahnya.

Ditambahkan Anwar, untuk dapat mengajar di sekolah-sekolah, tentunya para guru silat tersebut perlu sertifikasi, karena tanpa sertifikasi tidak akan bisa. Sertifikasi adalah ketentuan undang-undang.

“Nah ASTRABI nantinya akan mengeluarkan sertifikasi itu untuk guru-guru silat yang benar-benar menguasai ilmu perguruannya. Maka saya pun berharap kepada perguruan silat yang tergabung dalam ASTRABI untuk terus menerus mengembangkan perguruannya,” pinta  Anwar.

Miris

Anwar bercerita, terkadang pihaknya miris melihat perlakuan masyarakat terhadap kekayaan tradisi asli dari bangsanya.

“Sebagai misal. Seni bela diri dari luar Taekwondo mendapat sanjungan luar biasa dari masyarakat. Guru-guru Taekwondo bisa memperoleh honor puluhan juta sebulan dari mengajar. Sementara guru-guru silat tradisi tidak pernah dihargai demikian. Ngajarnya banyak yang gratis!” keluh Anwar.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Hendri Wardhana mengatakan pihaknya sangat bersyukur atas upaya yang dilakukan oleh ASTRABI. Ia menyadari perkembangan ilmu bela disi pencak silat Betawi harus dikembangkan secara bersama-sama. Pemerintah tidak bisa sendirian melakukannya. Salah satu upaya yang dilkakukan pihaknya untuk meningkatkan kualitas pencak silat Betawi adalah mengusahan untuk memberi jaminan hari tua kepada guru yang sudah sepuh.

“Kami menyadari secara ekonomi kehidupan mereka kurang menguntungkan. Makanya  kami mengupayakan untuk memberi jaminan hari tua. Saat ini kami sudah menginventarisasi. Untuk tahap pertama akan diberikan kepada  1000 pekerja seni (pesilat), dan selanjutnya kalau ada perkembangan akan diperbaharui. Jaminan hari tua ini berupa jaminan kesehatan yang iurannya dibayarkan oleh Pemkot DKI,” tutur Iwan kepada parahyangan-post.com.*** (aboe/nung/rat/pp)