Home Siaran Pers Animo Besar Membuat Pengurus Partai Ummat Depok Jadi Ganda

Animo Besar Membuat Pengurus Partai Ummat Depok Jadi Ganda

Oleh Buni Yani, Ketua DPP Partai Ummat

111
0
SHARE
Animo Besar Membuat Pengurus Partai Ummat Depok Jadi Ganda

Animo Besar Membuat Pengurus Partai Ummat Depok Jadi Ganda

Oleh Buni Yani

Assalamualaikum wr wb. Salam sejahtera untuk kita semua, semoga Allah memberikan kita rahmat dan hidayahNya.

Ini adalah kesaksian saya, sejauh yang saya ketahui, dan insya Allah benar adanya.

Saya tinggal di Depok, KTP saya Depok. Saya mengikuti sejak awal pembentukan pengurus Partai Ummat DPP Depok. Beberapa sahabat dan calon pengurus mengajak silaturahmi menjelang pembentukan pengurus Partai Ummat DPD Depok. Karena di kompleks perumahan kami dulu masih lock-down, dan tamu yang datang hanya boleh sampai di gerbang satpam, maka saya mengajak para sahabat ini untuk bertemu di sebuah kafe di sekitar Depok.

Senang sekali rasanya melihat antusiasme warga Depok untuk bergabung dengan Partai Ummat yang diinisiasi oleh Pak Amien Rais. Antusiasme yang besar ini awalnya sangat positif. Tetapi kemudian ada dua kelompok yang muncul, dan masing-masing merasa lebih berhak menjadi pengurus dari kelompok yang lain. Dari sinilah muncul kehebohan yang diciptakan media sekarang ini.

Saya mengatakan kehebohan ini diciptakan oleh media, karena sebagian besar mereka tidak paham fakta yang sebenarnya terjadi. Yang lebih parah lagi, baru mendapat kabar dari satu pihak, media langsung membuat berita tanpa melakukan cover both sides. Tentu ini menyalahi kaidah dasar jurnalisme.

Karena kedua kelompok tersebut saling berebut sebagai pengurus Partai Ummat DPD Depok, maka segala cara mulai dilakukan. Dimulailah lobi-lobi baik ke DPW Jawa Barat maupun ke DPP Partai Ummat di Jakarta. Karena saya diplot akan membantu para sahabat di DPP Partai Ummat di Jakarta, maka saya salah seorang yang didatangi dan didekati oleh mereka.

Sangat disayangkan masing-masing pihak dari kedua kelompok ini hanya mau membawa kelompok mereka menjadi pengurus. Kalau kelompok A jadi pengurus, maka kelompok B tak boleh ada yang diakomodasi. Begitupun sebaliknya, bila kelompok B jadi pengurus, maka kelompok B tidak boleh ada yang masuk jadi pengurus. Zero sum game. Tentu ini bukan praktik politik yang benar dan ideal, karena politik adalah kemampuan bernegosiasi dengan kelompok lain.

DPP Partai Ummat di Jakarta sejak awal sudah melakukan langkah yang tepat untuk mendorong kedua kelompok agar bersatu membentuk kepengurusan. DPP Partai Ummat di Jakarta berpikir strategis bagaimana caranya agar partai yang baru berdiri ini nanti pada Pemilu 2024 mendapatkan suara yang banyak dan bisa masuk parlemen di Senayan. Tidak lucu sama sekali DPP hanya akan mengakomodasi salah satu pihak. Karena ini artinya mempersempit ruang partisipasi masyarakat Depok yang akan bergabung dengan Partai Ummat.

Namun usaha DPP Partai Ummat di Jakarta untuk menyatukan kedua kelompok jauh dari berhasil. Pasalnya, salah satu kelompok ini mempunyai patron di DPP, dan di kemudian hari sang patron ini mengundurkan diri dari DPP Partai Ummat. Dari sinilah mulainya cerita positif animo masyarakat yang tinggi untuk bergabung dengan Partai Ummat ini dipelintir (di-spin) menjadi perpecahan di tubuh partai. Ini jelas langkah politik murahan yang gampang dibaca, yang dengan gampang bisa dipatahkan dengan fakta.

Patron di DPP yang mengundurkan diri ini tidak cocok dengan kelompok Depok yang satunya lagi. Jadi dia merangkul kelompok yang satu, tapi pada saat bersamaan menendang kelompok yang lainnya. Jelas ini bukan kebijakan dan pendekatan resmi DPP Partai Ummat di Jakarta. Ini pendekatan pribadi si patron ini, yang kita tidak tahu tujuannya apa.

Saya bisa menceritakan lebih dalam lagi cerita ini tapi bukan di sini tempatnya. Silakan saya bersedia diwawancara tapi sifatnya off the record. Saya mengenal hampir semua pengurus yang mengundurkan diri yang diberitakan media, karena saya dimasukkan grup WA oleh mereka.

Saya mengenal sedikit banyak mereka yang berbicara ke media dan kapasitas mereka. Partai Ummat justru bersyukur mereka mengundurkan diri, karena sejak awal terjadi seleksi secara alami di tubuh partai. Partai Ummat membutuhkan kader yang istiqomah melawan kezaliman dan menegakkan keadilan.

Yang terjadi di DPD Depok ini sangat kecil artinya bagi DPP Partai Ummat di Jakarta. Ini dinamika partai biasa saja yang akan segera dilupakan. Dan sekarang, alhamdulillah, DPP Partai Ummat sudah mengeluarkan SK baru ke DPD Depok yang jauh lebih baik dan besar formasinya. Bila yang mengundurkan diri hanya 26 orang, maka sekarang pengurus baru yang mendapatkan SK berjumlah 57 orang.

Insya Allah Partai Ummat semakin besar, karena animo masyarakat di seluruh tanah air besar sekali. Hampir setiap saat DPP, DPW dan DPD Partai Ummat didatangi individu maupun tokoh yang ingin bergabung.

Mereka yang mengetahui masalah pasti bisa melihat apa yang terjadi di Depok bukanlah konflik atau perpecahan partai, tetapi perebutan pengaruh dua belah pihak yang ingin menjadi pengurus, yang merupakan pengejawantahan dari animo masyarakat yang besar. Dan alhamdulillah kedua kelompok sekarang sudah bersatu dalam kepengurusan baru.

Dan alhamdulillah pula, persatuan antara kedua pihak yang berebut jadi pengurus baru terjadi setelah 26 orang itu mengundurkan diri. Bagi Partai Ummat, ini bukan kehilangan, tapi blessing in disguise. *

 

*Buni Yani, Ketua DPP Partai Ummat