Home Berita Foto Akhir Hayat Pohon Penunggu Makam

Akhir Hayat Pohon Penunggu Makam

117
0
SHARE
Akhir Hayat Pohon Penunggu Makam

Keterangan Gambar : Pohon salam setinggi 30 meter dengan garis tengah 3 meter itu memiliki kesan tersendiri bagi warga Desa Gedong-Banyubiru, Semarang (sumber foto : ist/mas win/pp)

Hujan badai yang melanda desa Gedong sepanjang 3 hari berturut-turut akhirnya menumbangkan pohon tua itu. Pohon salam setinggi 30 meter dengan garis tengah 3 meter itu memiliki kesan tersendiri bagi warga Desa Gedong-Banyubiru, Semarang. Selain menjadi saksi siapa saja warga yang dikubur di pemakaman desa, pohon salam itu juga saksi sejarah peralihan zaman Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru hingga saat ini. Kata para sesepuh, usia pohon itu lebih dari 100 tahun.

Masalahnya sekarang bagaimana menyingkirkan pohon yang tumbangnya melintang jalan itu? Tenaga 50 orang pun rasanya tidak akan sanggup menggeser pohon itu dari tempatnya. Maka satu-satunya cara adalah dipotong dengan Chainsaw. 

Warga pun berembuk mencari solusi, menawarkan kepada siapa saja yang mau memanfaatkan kayu pohon salam itu sebagai bahan meubeler, dengan syarat menanggung biaya pemotongan. Namun tak ada yang mau. Lebih tepatnya tak ada yang berani. Pohon itu bukan pohon biasa, tetapi pohon penunggu makam. “Itu rumah para lelembut” demikian bisik-bisik warga. Buntu, tak ada jalan keluar. 

Masjid di Ujung Kampung
Masjid itu telah dibangun sejak awal 2019, tetapi belum juga kelar karena keterbatasan biaya. Alhamdulillah awal 2024 ini, lantai 2 masjid yang didesain ramah lansia itu sudah terpasang keramik sehingga bisa digunakan untuk aktivitas selama Ramadhan. Hanya saja pintu dan jendelanya masih blong-blongan. 

Sekira pukul 21.30, ketika kesadaran Mas Winarno tengah di ambang tidur, datang utusan warga yang kebingungan dengan nasib kayu salam itu. Mereka meminta pimpinan Pesantren Lansia Raden Rahmat untuk menyingkirkan pohon salam yang menghalangi jalan itu.
“Sudah kami tawarkan ke mana-mana tapi tak ada yang sanggup,” kata seorang utusan.
“Lha kenapa kok ditawarkan ke kami?” tanya Mas Winarno sekadar kelakar menghangatkan obrolan.
“Hanya sampean yang berani,” kata utusan warga kompak melempar senyum.

Mas Winarno berpikir sejenak. Kebetulan sekali masjid Pesantren Lansia sedang membutuhkan kusen, pintu dan jendela. Pengadaan sejumlah pintu dan jendela tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setelah berhitung biaya pemotongan, tenaga dan lain-lain, akhirnya Mas Winarno pun menyanggupinya.

Keesokan harinya, tukang potong kayu pun datang dengan gergaji Chainsaw atau orang Jawa sering menyebutnya “senso". Memotong dan membelah benda mirip monster itu menjadi beberapa bagian. Untuk biaya penggergajian, angkut dan perbaikan jaringan lampu ke arah makam, pesantren lansia harus merogoh dana 9 juta rupiah. 

Kematian pohon salam itu tak sia-sia. Kelak ia akan bermetamorfosa sebagai kusen, pintu dan jendela masjid Al-Karimiyah Pesantren Lansia. Ya, masjid yang pembangunan fondasinya ditopang pundak lima emak-emak itu kelak akan dipungkasi oleh pohon penunggu makam. 

Tak hanya untuk pesantren, Mas Winarno juga mengalokasikan untuk mengganti kusen masjid kampung yang sudah keropos dimakan usia. Juga 3 set papan geladak dan nisan untuk persiapan pemakaman warga yang miskin karena selama ini mereka hanya mampu menggunakan bambu sebagai geladak dan nisan. 

Begitu juga seharusnya hidup manusia. Ketika kita mati bukan berarti selesailah manfaat kita di dunia. Kematian kita seharusnya meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi mereka yang masih hidup (amal jariyah).

(mas win/pp)

 

Video Terkait: