Home Edukasi YANG MUDA, YANG BERILMU

YANG MUDA, YANG BERILMU

220
0
SHARE
YANG MUDA, YANG BERILMU

Oleh: J. Faisal, M.Pd 
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

Masa muda adalah masa yang penuh dengan energy dan semangat. Pada masa inilah seorang manusia mengalami perkembangan, baik fisik maupun mental. Di dalam Islam, masa muda adalah masa dimana manusia berada di kisaran usia 10 sampai dengan 40 tahunan. Inilah masa dimana kematangan akal, fisik, dan mental mulai terbentuk dan menjadi kuat dalam menerima segala permasalahan dalam hidup, dan sekaligus dalam mencari solusinya. Karena proses kematangan akal yang terbentuk inilah, maka masa muda adalah masa yang paling ideal untuk mencari ilmu, dan mengamalkannya. 

Sejumlah hadits Rasulullah SAW pun menaruh perhatian yang sangat dalam terhadap masa muda seorang manusia. Diantaranya, Rasulullah SAW bersabda; “ Tidaklah akan bergeser kaki manusia pada hari kiamat dari sisi Tuhannya, sampai ia ditanya tentang lima hal, tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya-darimana dia peroleh, dan untuk apa dia gunakan-dan tentang apa yang dia lakukan dengan ilmunya.” (HR. Tirmidzi). 

Rasullullah SAW pun mengingatkan, agar kita memanfaatkan masa muda sebagai persiapan masa tua. Sabdanya: “Manfaatkanlah lima perkara, sebelum lima perkara. (1) Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Masa hidupmu sebelumdatang kematianmu.” (HR. Al Hakim). 

Dalam kitab Ayyuhal Waladnya, Imam al-Ghazali pernah berpesan kepada muridnya: “Wahai ananda, diantara nasihat Rasulullah SAW kepada umatnya adalah, bahwa diantara tanda-tanda Allah berpaling dari seseorang adalah orang itu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Dan, jika satu saat saja umur seseorang hilang-karena digunakan bukan untuk yang semestinya ditentukan Allah-  maka patutlah ia menyesali tanpa putus-puttusnya. Juga, barangsiapa yang umurnya melewati 40 tahun, sedangkan amal baiknya belum melebihi amal jahatnya, maka siap-siaplah ia masuk ke dalam nerakanya Allah SWT.” 

Nasihat Imam al-Ghazali ini sangatlah penting juga untuk kita renungkan. Betapa berharganya waktu kita. Rasulullah SAW pun telah mengingatkan kita semua. “Dua nikmat, yang kebanyakan manusia terlena adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR. Bukhari). 

Imam al-Ghazali sangat menekankan arti penting masa muda ini, sehingga jangan sampai berlalu sia-sia. Karena itulah dalam kitab Ayyuhal Walad ini, Imam al-Ghazali menasihati muridnya agar lebih memfokuskan mencari ilmu yang bermanfaat.  Yakni, ilmu yang dicari dengan niat ikhlas dan ilmu yang dapat diamalkan demi kebaikan umat. 

Seorang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu, pagi, siang, dan malam, tetapi dengan tujuan untuk meraih harta benda, mengejar kesenangan dunia, dan berlomba-lomba saling mengungguli antar kawan, riyya, maka dia termasuk orang yang malang. “Maka celakalah kamu, dan celakalah kamu!” tegas Imam al-Ghazali. 

Sebaliknya, jika seorang mencari ilmu diniatkan untuk menghidupkan syariat Rasulullah SAW, dan untuk menundukkan hawa nafsu, maka dia termasuk manusia yang beruntung. “Maka berbahagialah kamu, dan berbahagialah kamu!”  petuah Imam al-Ghazali. “Hiduplah kamu sesuka hatimu, tapi ingatlah, kamu pasti akan mati! Cintailah siapapun yang kamu cintai, tapi ingatlah kamu pasti akan berpisah dengan dia! Dan berbuatlah sesuka hatimu, tetapi ingatlah, bahwa kamu akan menerima balasan Allah yang setimpal!” 

Rasulullah SAW juga sudah mengingatkan umatnya, bahwa siapa yang mencari ilmu untuk mencari kehebatan di kalangan ulama, dan mencari pujian di kalangan manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka. Sabdanya: “Siapa yang mencari ilmu yang sepatutnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, lalu dia mencarinya hanya untuk kepentingan dunia semata, maka dia tidak akan mencium bau syurga di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud). 

Mu’adz bin Jabal pernah berkata, “Pelajarilah ilmu. Sungguh, mempelajari ilmu untuk Allah merupakan suatu kebaikan, menuntut ilmu merupakan suatu ibadah, mengkajinya merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya merupakan sedekah, dan mendermakannya kepada ahlinya merupakan amal yang mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu merupaakan teman dalam kesendirian, sahabat dalam kesepian, petunjuk menuju agama, pembentuk kesabaran dalam menghadapi kesenangan dan kesengsaraan, pembantu bagi orang-orang yang bersahabat, dan penerang menuju jalan ke syurga. 

Dari ilmu Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum. Allah menempatkan mereka sebagai pemimpin para pemberi petunjuk menuju kebaikan. Jejak-jejak mereka diikuti. Perbuatan-perbuatan mereka diperhatikan. Para malaikatpun ingin bersahabat dengan mereka dan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya. Segala sesuatu yang lembab dan keringpun memohonkan ampunan bagi mereka. Bahkan, ikan-ikan, hewan-hewan berbisa dan jinak yang ada di lautan, serta langit dan bintang-bintang juga memohonkan ampunan bagi mereka.” 

Di dalam kitab Ihya Ulumiddinnya, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa ilmu merupakan kehidupan bagi hati yang mengalami kebutaan, cahaya bagi penglihatan dari kegelapan, dan kekuatan bagi tubuh dari kelemahan. Dari ilmu, seorang hamba akan mencapai kedudukan orang-orang taat an mencapai deraajat yabg tinggi. Pahala memikirkan ilmu setara dengan pahala orang yang berpuasa, sedangkan pahala mempelajari ilmu sepadan dengan pahala qiyamullail. 

Dari ilmu, Allah ditaati, Allah disembah, Allah diesakan. Dari ilmu pula sifat wara’ dibentuk dan sillaturahmi dijalin. Ilmu merupakan imam, sementara amal merupakan pengikutnya. Ilmu diilhamkan kepada orang-orang yang berbahagia, dan diharamkan bagi orang-orang yang perundung dan sengsara. 

Imam al-Ghazali juga berpesan kepada kita semua, bahwa disamping niat yang ikhlas, adalah sangat penting untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki. Imam al-Ghazali berkata: “Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia.” Ingatlah, ilmu yang tidak menjauhkan seseorang dari maksiat, dan tidak mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak akan bisa membebaskan manusia dari siksa api neraka. 

Betapa pentingnya masalah niat dalam mencari ilmu ini. Sebab Rasulullah pernah bersabda, bahwa sesungguhnya nilai suatu amal itu tergantung kepada niatnya. Perbuatan baik bisa saja sama bentuknya, tetapi niat yang berbeda, menjadikan nilai amal itu berbeda pula. Sama-sama menjadi pejabat yang bertugas menjadi pelayan masyarakat, yang satu menjadi pejabat yang amanah dan menjalankan semua kewajibannya, sementara yang satu lagi niat menjadi pejabat karena ingin memperkaya diri sendiri, dan akhirnya berkhianat terhadap amanah yang didapatkannya. Naudzubillah. 

Jadi, berartinya sang waktu. Mari kita jaga para pemuda Islam kita, agar jangan sampai mendapatkan didikan yang membuang banyak waktu percuma, mempelajari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, yang akhirnya hanya mencetak generasi bingung yang berilmu dangkal, dan bermental lemah dalam menghadapi kehidupan, sehingga mudah “terbeli” oleh kepentingan yang justru ingin menghancurkan Islam itu sendiri. 

Masukkanlah anak-anak kita, pemuda-pemuda Islam calon pemimpin ummat ke lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-lmu keislaman yang baik dan benar, disertai dengan pembelajaran adab yang baik pula, agar kelak mereka menjadi generasi yang berilmu dan beradab yang dapat membangun dan memperkuat sebuah peradaban Islami yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jauhkanlah mereka dari lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan prinsip sekulerisme, liberalisme, dan isme-isme negative lainnya, yang berniat menghancurkan Islam dari dalam itu sendiri. 

 Aamiin ya Robbal’alamiin. 
Wallahu’alam Bissowaab