Home Agama Tidak ada Istilah New Normal untuk Ibadah Sholat Wajib

Tidak ada Istilah New Normal untuk Ibadah Sholat Wajib

Wakil Ketua Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad Dr. Muhammad Arifin Badri MA

1,124
0
SHARE
Tidak ada Istilah New Normal untuk Ibadah Sholat Wajib

Keterangan Gambar : Wakil Ketua Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad, Dr. Muhammad Arifin Badri MA (foto dok )

Wakil Ketua Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad, Dr. Muhammad  Arifin Badri MA:

Tidak ada Istilah New Normal untuk Ibadah Sholat Wajib

Jakarta, parahyangan-post.com-Pemerintah akan memberlakukan keadaan new normal pasca Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB). Berkaitan dengan itu sejumlah kebiasaan yang dianggap normal, baik sebelum maupun pada saat PSBB, juga akan berubah.

Perubahan tersebut menyangkut semua hal, namun yang menjadi pokok perhatian bagi umat Islam adalah mengenai tatacara ibadah sholat wajib berjamaah.

Dalam kondisi normal, ibadah sholat wajib 5 waktu, banyak ditunaikan umat dengan cara berjamaah di masjid. Karena pahalanya lebih besar. Namun pada saat PSBB, masjid tidak menyelenggarakan  sholat wajib berjamaah. Umat menggantinya  dengan sholat wajib di rumah. Baik berjamaah bersama keluarga inti, maupun sendirian.

Termasuk juga sholat Jumat, maupun sholat tarawih dan sholat Ied. Selama PSBB sholat Jumat dilaksanakan di rumah saja. Berdasarkan panduan Kemenag sholat Jumat diganti dengan sholat Zuhur 4 rakaat, dengan niat sebagai pengganti sholat Jumat.

Sementara sholat Ied bisa dilaksanakan di rumah dengan jamaah minimal 4 orang. Dan kalau tidak ditunaikan pun tidak akan berdosa karena sholat Ied hukum sunat muakad. Bukan wajib.

Bagaimanakah tata cara  pelaksanaan sholat wajib berjamaah pada era new normal nanti?   Wakil Ketua Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad, Dr. Muhammad Arifin Badri MA mengatakan dalam menunaikan ibadah sholat wajib berjamah sebenarnya tidak ada istilah new normal. Semuanya normal.

“Bagi saya semua kondisi untuk menunaikan ibadah sholat wajib itu normal. Tidak ada istilah normal baru. Karena kondisi seperti ini sudah ada sebelumnya. Dan sudah ada tuntunannya dalam Islam. Jadi  bukan sesuatu yang asing lagi,” paparnya kepada parahyangan-post.com via telp, Rabu 3/6.

Simple

Menunaikan ibadah sholat wajib, lanjut Ustad  yang juga Ketua Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii Jember ini, sangat sederhana dan simple. Tidak rumit. Hanya terkadang umat tertentulah yang membuatnya rumit.

“Yang paling utama, yang  harus dipahami adalah bahwa sholat wajib itu tetap sah jika ditunaikan dengan tidak berjamaah. Pemahaman ini sangat penting karena ada anggapan seolah-olah tanpa berjamaah di masjid sholat wajib tidak sah. Ini pemahamaan yang keliru. Semua mashab membenarkan bahwa sholat wajib tidak berjamaah tetap sah,” terang ahli Fiqih ini.

Kemudian, lanjutnya, mengenai tatacara sholat berjamaah dalam kondisi yang oleh pemerintah disebut new normal.

“Pendapat saya adalah ikuti apa yang dianjurkan pemerintah karena apa yang dianjurkan pemerintah adalah berdasarkan kajian dan pendapat para ahlinya. Dan kondisi seperti itulah yang normal di saat itu.

Contohnya jamaah diharuskan memakai  masker. Jarak antara jamaah yang satu dengan yang lain minimal 1 meter. Sebelum masuk masjid harus cuci tangan (hand sanitizer), dan usai holat sebaiknya langsung pulang. Ini harus diikuti.  Kalau tidak diikuti berarti itulah yang tidak normal,” terangnya.

Menurut Ustad Badri lagi, kalaulah ada pendapat yang mengatakan bahwa penyelenggaran sholat wajib berjamaah dengan berbagai aturan di atas akan membuat sholat tidak sah, oleh karenanya aturan tersebut tidak perlu diikuti. Misalnya tidak harus memakai masker karena masker membatasi persentuhan antara muka dengan sajadah. Kemudian tidak usah berjarak, karena jika ada jarak antara satu jamaah dan jamaah lainnya maka yang ditengah itu adalah setan.

“Pendapat-pendapat seperti ini harus diluruskan,” pintanya.

Menurutnya, tuntunan sholat wajib berjamaah di dalam kondisi tidak normal sudah ada. Misalnya dalam situasi perang. Ada tuntunan sholat berjamah dalam suasana perang,  yakni boleh sholatnya dilakukan oleh  sebagian jamaah, sementara yang lain berjaga. Dan seletah kelompok pertama selesai mereka lah yang berjaga dan yang lain sholat berjamaah.  

Juga boleh sholat memakai sepatu. Kalau tidak ada air boleh dengan tayamum dan seterusnya.

“Di dalam mazab Imam Safii tuntunan sholat berjamaah dalam kondisi tidak normal itu sangat jelas diterangkan. Jadi tidak perlu dipertentangkan. Tidak usah terlalu idealis karena yang benar-benar ideal itu tidak ada dan tidak akan ditemukan.  Umat Islam  harus realistis. Kalau kita tahu bahwa virus corona masih ada dan dapat menular (menyebar) melalui persentuhan tangan, pernafasan atau batuk, melalui benda dan lain sebagainya, maka hindari itu. Konyol namanya kalau kita tahu tetapi kita tidak menghindarinya dengan alasan ibadah. Itu adalah pemahaman yang salah menurut saya,” tutup Ustad Badri.*** (Aboe/pp)