Home Husada Tabloid Eyang Agung Terbit dalam Format Digital

Tabloid Eyang Agung Terbit dalam Format Digital

Memenuhi Permintaan Pembaca Luar Negeri

177
0
SHARE
Tabloid Eyang Agung Terbit dalam Format Digital

Keterangan Gambar : Cover Tabloid Eyang Agung edisi 295/Mei 2020. Mulai edisi ini tabloid Eyang Agung sudah bisa dinikmati dalam format digital.

Tabloid Eyang Agung Terbit dalam Format Digital

Ciputat, parahnyangan-post.com-Tabloid Eyang Agung yang sudah berusia 17 tahun (pertama kali terbit tahun 2003 dengan nama Tabloid Terapi) kini tampil dalam bentuk digital.

Pembaca di seluruh dunia dapat menikmatinya tanpa harus menunggu edisi cetak.Keputusan untuk menerbitkan format digital diambil dalam rapat pengelola yang dihadiri antara lain Eyang Agung sendiri sebagai Pemimpin Umum (ouwner), pemimpin redaksi Ismail Lutan dan seluruh staf serta karyawan.

Rapat berlangsung  di Pendopo Eyang Agung, Minggu pekan  lalu. Dalam rapat tersebut Eyang Agung mengatakan format digital merupakan tuntutan kemajuan teknologi yang mau tidak mau harus diikuti agar tidak ketinggalan zaman.

“Tabloid Eyang Agung sudah melegenda dan selalu ditunggu pembaca setiap bulannya. Eyang mendapat banyak masukan dari pasien/pembaca setia, terutama yang berasal dari pelosok tanah air dan luar negeri agar dikirimi tabloid untuk memperoleh info terbaru pendopo.Nah  Kalau dikirimi dalam format cetak kan memakan waktu lama, dan juga membutuhkan biaya. Maka agar lebih simple dan cepat muncullah ide untuk menerbitkan dalam format cetak,” tutur Eyang Agung, kepada parahyangan-post.com.

Dikatakan, penerbitan media massa dalam format digital memang sudah menjadi trend dan kecenderungan saat ini. Semua media massa arus utama di tanah air sudah lama memulainya. Namun demikian format cetak masih dibutuhkan. Karena masih ada kelompok masyarakat yang sangat fanatik dengan format detak dan untuk kebutuhan dokumentasi fisik.

Edisi Juni

Sedianya format cetak akan diluncurkan pada edisi nomor 296/Juni 2020. Namun untuk percobaan, edisi  295/ Mei 2020 sudah diformat ulang ke  digital.

Sambutan pembaca ternyata luar biasa. Pembaca dari berbagai pelosok nusantara menyampaikan antusiasmenya dan minta untuk terus dikirimi.

“Alhamdulillah sambutan pembaca sangat menggembirakan dan mulai edisi 276 kita akan terus terbit dalam format digital di samping edisi cetak,” yakin Eyang Agung.

Sementara itu pemimpin Redaksi tabloid Eyang Agung mengatakan untuk memperoleh versi digital gampang sekali. Cukup minta dikirimi melalui WA : 087776161166. Atau bergabung dengan grup WA Tabloid Eyang Agung Online.

“Di grup tersebut pembaca bisa menikmati tabloid Eyang Agung versi digitalnya dan juga berdiskusi dengan pembaca lain. Kalau tidak bergabung di grup tinggal minta aja ke nomor WA redaksi Eyang Agung: 087776161166. Nanti akan dikirimi tiap bulan,” tuturnya.

Selain via WA tabloid Eyang Agung versi digital juga bisa dibaca melalaui Instagram @Eyang Agung, facebook Eyang Agung Terapi dan di Google Eyang Agung.

Untuk mengunduh versi digital, lanjut Ismail Lutan, sangat gampang, dapat dibuka dengan HP jadul sekali pun karena materinya sudah dipress. Jadi lebih ringan, tidak lemot dan tidak memeras quota alias gratis.

Menurut Ismail Lutan, antusiasme pembaca luar biasa. Meski baru dalam masa percobaan permintaan untuk berlangganan sudah banyak. Terutama sekali dari pasien Eyang Agung yang berasal dari pelosok Nusantara. Karena tamu pendopo itu berasal dari seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Sementara yang dari luar negeri juga banyak.

“Terapi Eyang Agung itu dikunjungi pasien yang berasal lebih dari 25 negara di dunia, seperti Arab Saudi, UEA, Inggeris, Jerman, Belanda, Australia, Taiwan, Turki dan Amerika Serikat. Yang anehnya warga negara China banyak juga yang menjadi pasiennya, padahal kita tahu negara tirai bambu itu adalah kampiunnya pengobatan tradisional,” tutur Ismail Lutan

Nah, lanjut Ismail Lutan,  pasien-pasien luar negeri itulah yang menjadi market utama format digital tabloid Eyang Agung, karena meskipun mereka sembuh namun masih tetap berkomunikasi dengan pendopo.

“Bahkan yang lucu lagi ada pasien berkebangsaan Jerman, yang kemudian menjadi Ustad. Kini dia kembali ke negaranya dan menjadi pendakwah,” tutup Ismail Lutan.*** (boe)