Home Opini Songsong Kongres KUII 7: Masihkah Menyeru dan Menghimbau?

Songsong Kongres KUII 7: Masihkah Menyeru dan Menghimbau?

Oleh: H. Ismail Lutan

203
0
SHARE
Songsong Kongres KUII 7: Masihkah Menyeru dan Menghimbau?

Songsong Kongres KUII 7: Masihkah Menyeru dan Menghimbau?

Oleh H. Ismail Lutan

Umat Islam Indonesai akan menyelenggarakan kongres ke 7 di Bangka Belitung akhir Februari. Ini adalah hajatan lima tahunan yang sejak era reformasi mulai rutin digelar.

Sebelumnya, dua kongres  dilaksakana pada sebelum dan awal kemerdekaan. Kemudian stag. Dan setelah reformasi lanjut lagi. Dimulai kongres ke 3 di Jakarta.  

Salah satu hasil kongres awal yang sangat fundamental adalah meminta umat Islam agar menyalurkan aspirasi politiknya  melalui Masyumi. Hasilnya luar biasa. Masyumi menjadi partai peraih suara terbanyak ketika itu, megalahkan PNI, partainya Bung Karno.

*

Kongres umat Islam 6, lima tahun lalu (2015)  berlangsung di Yogyakarta. Menghasilkan apa yang disebut “Risalah Yogyakarta” Kebetulan penulis ikut sebagai peliput di situ. Risalah Yogyakarta berisi 7 point terdiri dari 5 seruan 2 himbauan.

5 seruan itu dapat dibagi ke dalam 3 sasaran. Yaitu kepada pemerintah, kepada umat Islam dan kepada pemerintah+umat Islam.

Dua seruan kepada pemerintah adalah pertama agar penyelenggara negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif) menjalan politik yang berakhul karimah. Yang kedua membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat miskin dan kaum mustadh’afin.

Dua seruan untuk umat Islam sendiri yaitu agar umat bersatu-padu, terutama dalam ormas dan partai politik dan yang kedua bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Sementara satu seruan untuk pemerintah+umat Islam adalah mewaspadai budaya asing  yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

*

Mencermati  point-point “Risalah Yogyakarta”. Apakah telah berpengaruh terhadap kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat? Dan apakah telah memberi warna yang signifikan terhadap perkembangan umat Islam?

Rasanya sulit untuk mengatakan iya! Kenapa? Lihat saja. Apakah terasa?

Akhlaqul karimah yang diharapkan dalam berpolitik jauh dari harapan. Malah sebaliknya. Politik semakin beringas dan brutal mempertontonkan kekuatannya dalam melawan hukum. (Terakhir lihat saja bagaimana partai berkuasa PDI-P mempengaruhi KPK untuk menyelamatkan Sekjennya, sehingga KPK tumpul)

Apakah umat Islam sudah bersatu-padu? Ini lebih jauh lagi. Sesama ormas dan partai  politik Islam saling gontok-gontokkan.  Bahkan partai reinkarnasinya Masyumi, PBB, tidak lolos electoral threshold. Alias tidak masuk Senayan!

Dan tingkat perekonomi umat Islam? Umat Islam masih yang terbawah dan termiskin, meski secara jumlah mayoritas.

*

Lantas apa yang diharapkan dari kongres umat Islam ke 7 di propinsi kelahiran Yusril dan Ahok ini? Apakah seruan-seruan atau himbauan lagi.

Dalam beberapa focus group discusion  (FGD) yang telah mereka laksanakan, seperti memang seperti itu. Seruan dan himbauan! Bahkan pembahasan-pembahasan di masing-masing grup, yang melibatkan para pakar di bidangnya itu, sangat alot!

Pertanyaannya, apakah seruan dan himbauan itu masih dibutuhkan? Jawabnya : Perlu didiskusikan lagi.

Namun yang jelas, pada paparan pra kongres yang mengundang wartawan di kantor MUI beberapa waktu lalu, masih ada harapan yang cukup besar kepada  kongres umat Islam ini. Ekspektasi umat masih tinggi terhadap ‘kondangan’ lima tahunan ini.

Ada yang menginginkan kongres merekomendasi pemulang 600-an warga eks Indonesia di reruntuhan ISIS, ada yang mengharapkan agar menjadi garda terdepan dalam pemberatasan korupsi (kalau perlu menginisiasi  KPK tandingan, karena KPK pimpinan Firli Bahuri sudah keok) dan juga ketegasan dalam memberi solusi  soal LGBT. Ada pula yang berharap kongres ini bisa menciptakan atau setidaknya menginisiasi penangkal virus corona made in Wuhan.  ***