Home Polkam Soal Bom Bunuh Diri Makassar

Soal Bom Bunuh Diri Makassar

Ketua Umum Al Washliyah : Kita Jangan Mau Diadu dan Diprovokasi

167
0
SHARE
Soal Bom Bunuh Diri Makassar

Keterangan Gambar : Ketua Umum PP Al Washliyah DR. KH Masyhuril Khamis SH, MH

Soal Bom Bunuh Diri Makasar, Ketua Umum Al Washliyah Dr. KH Masyhuril Khamis SH, MH.:

Kita Jangan Mau Diadu dan Diprovokasi

Jakarta, parahyangan-post.com Ketua Umum PP Al Washliyah DR. KH Masyhuril Khamis SH, MH mengatakan umat beragama di Indonesia jangan mau diadu dan diprovokasi dengan ledakan bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makasar Minggu 28/3 pagi.

“Soal bom di katedral Makasar, Al Washliyah mengutuk keras. Kita sebagai anak bangsa harus tetap tenang,” tuturnya kepada parahyangan-post.com

Masyhuril meminta semua pihak agar mempercayakan kepada  aparat yang berwajib untuk  menanganinya secara professional.

“Kita jangan mau diadu atau diprovokasi,” tegasnya.

Sebelumnya Menteri Agama  Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi.

Menag mengutuk keras aksi pengeboman yang diduga dilakukan oleh seseorang di kompleks Gereja Katedral, Jalan Kartini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan itu.Menag menilai, aksi ini sebagai tindakan keji yang menodai ketenangan hidup bermasyarakat dan jauh dari ajaran agama.

“Apa pun motifnya, aksi ini tidak dibenarkan agama karena dampaknya tidak hanya pada diri sendiri juga sangat merugikan orang lain,” ujar Menag.

Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom mengungkapkan rasa dukacita mendalam atas ledakan bom tersebut.

“Saya mengimbau seluruh umat untuk tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya penanganan masalah ini kepada aparat terkait. Saya menyerukan seluruh umat untuk tidak takut dan resah, tapi tetap waspada,” tuturnya.

Menyesalkan

Public Virtue Research Institute juga mengeluarkan pernyataan sikap mengenai bom bunuh diri ini. Melalui Ketua Dewan Pembina Public Virtue Research Institute, Tamrin Amal Tomagola, mereka mengatakan

Terjadinya ledakan bom di Gereja Katedral ini jelas mencederai toleransi dan demokrasi. Jika tidak segera diusut dan ditemukan pelakunya, Indonesia terancam dapat terjerumus kembali pada aksi-aksi kekerasan ekstrem, kejahatan terorisme, dan konflik komunal seperti pengalaman di Ambon, Sampit, dan Poso.

“Kami menyesalkan sekali masih adanya aksi teror berbentuk ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar. Teror ini merupakan aksi kriminal yang mencederai toleransi. Kemajemukan dan saling tenggang rasa sudah menjadi pilihan kita dalam berbangsa dan bernegara. Jangan lagi ada aksi-aksi intoleransi yang merusak kerukunan umat beragama," kata Thamrin.

Menurut Tamrin, aksi intoleransi dan radikalisme dapat berpotensi merusak tatanan masyarakat yang majemuk dan budaya tenggang rasa yang telah lama tumbuh di masyarakat Indonesia. Aksi-aksi kriminal sektarian semacam ini juga telah ikut menurunkan kualitas demokrasi di Indonesia, katanya.*** (aboe/pp)