Home Polkam Setelah Deklarasi SWI Apa Lagi

Setelah Deklarasi SWI Apa Lagi

Oleh Ismail Lutan

268
0
SHARE
Setelah Deklarasi  SWI Apa Lagi

Keterangan Gambar : Ismail Lutan, Ketua Bidang Budaya dan Pariwisata

Setelah Deklarasi  SWI Apa Lagi

Oleh Ismail Lutan
 

Semarakanya Deklarasi Sekber Wartawan Indonesia (SWI) di Kinasih Resort, Ciawi, Bogor, 23/7 lalu, menunjukkan bahwa wartawan pun  sangat antusias berorganisasi dan berhimpun. Berkolaborasi dalam satu wadah.

Mereka datang dari seluruh Tanah Air. Mulai dari Aceh, Padang, Palembang, Jawa, Kalsel, Sulsel, Maluku hingga Papua. Yang datang tersebut adalah  para pengurus teras di wilayah (setingkat propinsi) atau di daerah (setingkat kota/kabupaten) masing-masing. Jumlahnya sampai dua ratusan. Bahkan panitia terpaksa membatasi peserta.

Wadah baru yang memayungi kreatifitas itu menjadi tumpuan harapan. Seperti kawah candradimuka yang siap dieksplor. Siap mejadi senjata penajam ujung pena  dalam menyebar informasi yang  tepat, akurat, berimbang dan bertanggungjawab. Bukan wartawan sekelas ayam sayur yang mencari makan hanya untuk sepatok. Atau wartawan dengkul kuda yang bisanya injak kaki untuk hanya segelas kopi.
Selain itu -dalam diskusi-diskusi-  terungkap, wartawan yang tergabung dalam SWI tidak hanya sekadar pencari dan penyebar berita. Karena perkembangan media saat ini telah jauh melampaui itu. Kalau hanya sekadar itu (wartawan konvensional), mereka akan ketinggalan kereta. Beritanya tak akan dibaca, tak dilirik dan tak akan mampu membangun opini publik. Kehidupan ekonomi wartawannya pun akan sulit. Hidup segan mati terbirit-birit. Matanya ‘buram’ melihat kesilauan kehidupan sekitar yang mapan. Kemudian yang muncul darinya adalah kemarahan dan prustasi karena susah mencari sepiring nasi.

*

Wartawan sekarang, khususnya yang tergabung dalam SWI,  dituntut lebih kreatif. Harus pula punya bidang usaha yang menopang ekonomi keluarganya. Usaha yang dimaksud antara lain mendirikan badan usaha semacam koperasi. Meski kelihatannya klise, dan sering menjadi ‘bancakan formalitas’, namun koperasi masih bisa menjadi sebagai salah satu bentuk usaha untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Ada budget dari pemerintah di sana!

Selain itu, yang paling potensial, adalah wartawan harus bisa mengorganisasi kegiatan-kegiatan yang bersifat komersil atau  menjadi Event Organizer (EO). Semua bidang bisa diorganisir. Apakah kesenian, olah raga, pariwisata dll. ‘Senjata’ yakni legalitas sebagai wartawan akan memudahkan usaha itu.

Wartawan zaman ini juga dituntut untuk bekerjasama dengan semua lembaga  formal (pemerintah) dan non formal di daerahnya. Membuat model kerjasama  untuk mengimplementasikan program instansi tersebut. Karena di masing-masing instansi itu ada dana sosialisasinya.

Seperti, misalnya, yang telah dilakukan oleh Pak Sekjen Hery Budiman cs. di Depok. Semua Kepala Dinas adalah mitra mereka yang  kapan saja bisa dihubungi dan diajak melakukan kegiatan bereng.

Hal serupa juga telah dilakukan Pak Waketum Putra Gara. Selain sebagai penulis (Novelis/Cerpenis/Kartunis) dia juga mampu mengornanisir seluruh aparat di tingkat kecamatan sampai lurah, untuk menjadi bagian dari media lokal yang diterbitkan. Sehingga masalah pemasaran tidak menjadi kendala.

Berkaitan dengan itu, sebagai yang diamanahi sebagai Ketua Bidang Budaya dan Pariwisata, saya pun punya beberapa program yang insya Allah bisa dilaksanakan. Pertama menyelenggarakan “Festival Curug” (Air Terjun). Curug merupakan salah satu obyek wisata paling digemari oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Curug tidak hanya sekadar air terjun, tetapi sudah menjadi semacam komunitas. Di situ ada cerita, legenda, pertunjukkan kesenian dan ritual. Dalam festival ini diharapkan semua  entitas itu bisa dieksplor dalam bentuk perlombaan/even.

Yang kedua yang ingin saya gagas  “Festival Jonggol” Mengapa Jonggol?  Karena wilayah ini akan menjadi metropolitan baru, dan lebih unggul dari semua kota-kota Satelit Jakarta. Apalagi nantinya akan menjadi ibu kota Kabupaten Bogor Timur setelah dimekarkan dari induknya. Potensinya, terutama di bidang kesenian cukup besar.

Dua event ini akan menjadi program prioritas saya di bidang kesenian dan pariwisata.***

 

(* Ketua Bidang Budaya dan Pariwisata)