Home Nusantara SERI TENTANG KAWA DAUN DAN KOPI KORAK PAYAHKUMBUAH DI LAPAU WONURU

SERI TENTANG KAWA DAUN DAN KOPI KORAK PAYAHKUMBUAH DI LAPAU WONURU

430
0
SHARE
SERI TENTANG KAWA DAUN DAN KOPI KORAK PAYAHKUMBUAH DI LAPAU WONURU

PAYAKUMBUH (Parahyangan-Post.com) - Rasa kepenasaran tentang ceritera kopi kawa daun dari driver Topan, rupanya tak surut dari ingatan saya, tentang rasa, penyajiannya yg unik menggunakan gelas (tepatnya batok kelapa menyerupai mangkok) dan juga rasanya. 

Mobil jemputan sudah tiba disebuah gedung berpagar hitam, tanpa sempat pada sore itu mencicipi rasa kopi kawa daun seperti diceritakan sang pengemudi. 

Tibalah kami disebuah homestay sederhana bernama bundkita homestay syar'ie, sang pemilik homestay uni Lely Arna dan suami nya mas Fahrurrozi menyambut kami dengan hangat, saya dan istri ditempatkan di sudut kamar nomor 5. 

Lama tak berjumpa, kami bicara ngalor ngidul dari nostalgia 25tahun lalu, hingga rencana besok mencoba rasa minuman kopi kawa daun yg menjadi ganjalan serta rasa penasaran untuk mencobanya. 

Setelah mencari informasi tentang kawa daun kopi ini pada tuan rumah, secara terang benderang mereka katakan, cobalah berangkat malam nanti selepas isya ke dangau kawa daun payokumbuh di jalan Soekarno Hatta. 

Payahkumbuah diwaktu malam, apalagi di akhir pekan suasananya mirip seperti kawasan glodok Jakarta, ramai padat dipenuhi ratusan manusia yg mencari sedikit hiburan, sembari kongkow kongkow bersama teman. 

Tempat yang kami cari telah ditemukan, kamipun masuki tempatnya dan melongok apasaja isinya, dari dekorasi tempatnya yang tersedia, ada life musik, meja makan dan kursi kayu yg artistik, tak pelak tujuan saya untuk segera mencicipi minuman kawa daun kopi original pun langsung tersedia. 

Kawa daun kopi yg dihidangkan dengan mangkok terbuat dari batok kelapa setengah lingkaran, tanpa gula rasanya seperti menghirup secangkir teh yg baru dipetik dan diolah. 

Citarasa kopi kawa daun ini bagi saya sepertinya tak asing, seperti minum teh original di kawasan ciwidey, olahan penduduk dengan aroma asap yg kentara terasa di ujung lidah. Dan nyatanya memang benar, proses pembuatan kawa daun kopi ini masih tradisional. Tumpukan daun kopi ditusuk dengan bilah bambu mirip sate lalu disusun sedemikian rupa, bagian bawahnya di asapi dari asap batang kayu yg dibakar. 

Setelah kering
  direbus, dan jadilah air rebusan ini disebut kawa daun kopi, yang rasanya sedikit pahit, mirip minum kopi tetapi dengan rasa soft coffee. Tinggal tambahkan gula putih atau boleh juga dengan potongan gula merah yg memang disediakan untuk melengkapi teman minum kawa daun kopi kita. Di iringi life music dari para penyanyi cafe setempat, seporsi ketan sarikaya, dan sepiring tongkang yg rupanya hanya singkong rebus yang digoreng, lengkap sudah pencarian dan rasa kepenasaran saya tentang kawa daun kopi ini. 

Korak Kopi dan Ampiang Dadia 

Usai mencoba sensasi kawa daun kopi di kota Payahkumbuah, petualangan saya berlanjut untuk mencoba merasakan apa yang dipromosikan Ajo Dasrial pemandu saya yg asli orang Payahkumbuah ini, yaitu mencoba merasakan kopi korak dan ampiang dadia. 

Kamipun berangkat lagi meninggalkan dangau kawa daun kopi menuju pinggiran kota Payahkumbuah ke Palanta Andaleh Lapau Wonuru, tempat yg bersejarah lahirnya kopi Korak yg terkenal di kota Payahkumbuah. Wonuru sendiri adalah generasi pertama yang memperkenalkan Kopi Korak ini seorang perempuan yg sudah tiada bernama Nuru, sedangkan sebutan Wo, adalah panggilan untuk seorang yg sudah tua untuk masyarakat minang pada umumnya. Jadi Lapau Wonuru yang sekarang adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha Kopi Korak ini. 

Pesanan saya adalah tentu saja sang kopi korak, dan seporsi
Ampiang Dadia, dihidangkan dengan mangkok,  dan guci kecil mirip kendi  yg terbuat dari tanah liat, kedua pesanan saya tersedia di atas meja. Rasa kopi korak ini, ternyata cukup kuat seperti meminum kopi yg dibuat gosong, tentu saja saya baru paham arti korak itu sendiri adalah kerak dalam bahasa indonesia. 

Itu artinya kopi korak adalah kerak kopi yg diseduh dan diminum, pastilah rasanya agak pahit dan beraroma gosong. Sebagai tambahan kita bisa mencampur kopi korak ini dengan gula putih ataupun gula merah yang disediakan. 

Giliran ampiang dadia, yg saya coba, terlihat ada potongan warna putih seperti jelly, inilah dadia nya serta ada sejumput warna coklat kemerahan yang tadinya saya anggap daging cincang. 

Dadia sebelum saya saksikan saat itu, sudah sy cari informasinya terlebih dahulu adalah sejenis makanan terbuat dari susu kerbau yg dipadatkan. Proses menjadi padat itu dengan menambahkan sedikit getah pepaya. Getah pepaya yg mempunyai zat papain inilah yg bisa memisahkan susu kerbau dengan kandungan air, sehingga susu kerbau yg dicampur dengan zat papain ini akan membuat susu terpisah menjadi kepala susu yg dipindahkan kedalam tabung bambu. Kepala susu dalam tabung bambu inilah yang dinamakan Dadia. 

Dadia ditambahkan dengan ampiang berwarna coklat kemerahan, ternyata adalah ketan merah yang dihaluskan, mirip daging cincang pada awalnya. Dadia ampiang ditambahkan cairan gula merah, makanan khas yg sehat, cocok sebagai penahan dingin suasana malam di kota Payahkumbuah. 

Secangkir Kopi Korak dan semangkok ampiang dadia, cukuplah untuk menghibur hati saya dari kegalauan tugas yang menumpuk di Cileungsi. 

Aaah.. bertambah lagi cerita saya tentang ke khasan kuliner di kota Payahkumbuah ini. Kawa daun kopi, ampiang dadia, dan kopi korak, entah kapan kembali saya dapat merasakan sensasinya.. 

Payahkumbuah tunggu aku untuk kesekian kalinya.. 


(Imansyah Hakim Al Rasyid/PP)