Home Opini SEKS, SEPAKAT?

SEKS, SEPAKAT?

610
0
SHARE
SEKS, SEPAKAT?

Oleh : H. J. Faisal
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

Sedang heboh tentang masalah seks lagi ya ternyata. Jadi senyum mesem-mesem sendiri saya. Bagaimana tidak? Ternyata sumber masalahnya keluar dari sebuah Universitas, bo. Universitas negeri yang cukup disegani pula. Saya tidak bilang kalau universitas itu adalah Universitas Indonesia loh, yaa. Awas, nanti ada salah paham di antara kita.

Yang saya baca dan saya dengar sih tentang seks atas kesepakatan itu, menurut dosennya boleh dilakukan, atau istilah kulonnya Sex Based Consent. Alasannya  adalah sebagai sex education, agar bisa melakukan seks dengan aman, alias Safe Sex. Ajiiib…. Jaka Sembung beli emas, sepertinya ko ngga nyambung ya, mas. 

Bukankah seks dengan kesepakatan adalah sebuah kegiatan yang sudah menjadi kegiatan yang paling primitif di muka bumi ini? Bahkan bukan saja dengan persetujuan, tapi juga berdasarkan transaksi yang sifatnya sudah seperti komoditas jual beli barang produksi lainnya. Tentu saja yang melakukan ini adalah para penjaja seks atau pelacur dengan para pelanggannya, yang keduanya bisa kita sebut….apa ya? Pezina, mungkin istilah yang tepat kali, ya?  

Masalahnya sekarang adalah, benarkah seks berdasarkan kesepakatan akan menghindari para pelakunya dari kejahatan seks alias sex crimes? Padahal sebenarnya antara kegiatan sex dan kejahatan itu punya kesamaan, loh. Apakah itu? Ketika manusia sedang melakukan seks atau ketika sedang melakukan sebuah kejahatan, mereka sama-sama tidak ingin dilihat atau disaksikan oleh orang lain, betul kan? Tuh kan, jadi ikut senyum juga. 

Ketika sepasang manusia melakukan hubungan seks berdasarkan kesepakatan, justru peluang kekerasan seksual malah semakin besar. Logikanya begini, siapa yang bisa mencegah seorang laki-laki untuk menganiaya seorang wanita ketika mereka sedang melakukan hubungan sex tanpa ikatan pernikahan, alias berzina? Atau sebaliknya. Siapa yang bisa mencegah seorang wanita yang bisa saja berbuat kekerasan terhadap pasangan seksnya?

Ketika mereka sudah masuk kamar, pintu ditutup, dan lampu dimatikan, maka tidak ada yang akan tahu apa yang akan terjadi. Seks yang mereka lakukan bukanlah seks yang berdasarkan cinta kasih, seperti cinta kasih seorang suami kepada istrinya, bukan pula berdasarkan saling menghormati, seperti hormatnya istri kepada suaminya. Seks yang mereka lakukan adalah seks yang berdasarkan naluri hewaniah, dan naluri syaitoniah.

Sebab seks atau zina yang mereka lakukan saja adalah sebuah kejahatan dan kedzaliman, karena mereka telah melanggar norma dan aturan dalam agama dan masyarakat. Dan yang pasti mereka telah memperkosa hati nurani mereka sendiri. Dapat dipastikan, justru peluang kekerasan dan kejahatan sudah terbuka lebar. 

Seks dilakukan bukan berdasarkan kesepakatan, mas…mba. Seks dilakukan atas dasar pengendalian diri. Seks adalah salahsatu jenis hawa nafsu, yaitu nafsu syahwat. Nafsu syahwat jika sudah dilepas tali kekangnya, Lamborghini Aventador saja bisa kalah cepat larinya. Dorongannya akan terasa sangat kuat sekali, seperti dorongan air tsunami yang pernah meratakan daratan di Aceh, Thailand, dan Jepang beberapa tahun yang lalu.

Kendalikan seks dengan sebuah tali kekang yang bernama pernikahan. Pernikahan dilakukan untuk memberikan jalan kepada hati nurani untuk menyalurkan naluri (insting) dengan baik dan indah. Jangan dibalik logikanya, ya.  

Lalu apakah pernikahan kita anggap sebuah kesepakatan juga? Tentu tidak. Menurut Adriano Rusfi, di dalam pernikahan ada sepasang anak manusia yang sepenuhnya tunduk pada aturan langit, persetujuan sosial, dan ijin otoritas. Maka pernikahan itu memiliki mempelai, wali, saksi, akad, dan mahar. Pernikahan adalah sebuah peristiwa di mana naluri tunduk penuh di bawah nurani. Indah, bukan? 

Apakah kita ingin melihat anak-anak kita yang di bawah umur melakukan hubungan sex di luar pernikahan alias berzina, hanya karena kesepakatan yang dilakukan oleh sesama pasangannya? Naudzubillah.  Dimana letak edukasinya kalau begini? Bukankah hal ini hanya akan menjerumuskan manusia kelembah kenistaannya? Mari kita berdoa, agar jangan sampai nurani kita dikalahkan oleh naluri yang tergolong primitif ini. 

Seks adalah sesuatu yang halal, naluriah, bahkan sangat dianjurkan di dalam Islam. Di dalam berhubungan seks, banyak sekali manfaat kesehatan dan manfaat psikologis yang bisa kita dapatkan dari kegiatan seks  ini. Bahkan ada penelitian klinis yang membuktikan bahwa manfaat berhubungan sex sama bagusnya dengan kegiatan olahraga lari selama 30 menit non stop. Banyak kalori di dalam tubuh yang akan terbakar karena kegiatan seks.

Dari sisi psikologis pun demikian. Jiwa atau nafsu akan lebih tenang dan terkendali, jika naluri seks sudah terlampiaskan dengan penuh ketenangan. Tidak grusak-grusuk, karena takut digrebek oleh aparat. 

Dengan lantaran berhubungan sex ini pula, kita bisa menumpahkan benih-benih terbaik kita untuk mencetak generasi-generasi yang kuat, cerdas, dan Islami. Sekali lagi, tentu saja jika kegiatan seks ini dilakukan dalam bingkai pernikahan yang halal dan sesuai dengan syariat yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. 

Jadi, tidak usah neko-neko lah. Semakin banyak pemikiran liar para kaum sekuleris, pluralis, dan liberalis (sipilis) yang sudah masuk ke dalam lembaga-lembaga pendidikan formal kita di Indonesia ini. Berhati-hatilah para orangtua dalam mengawasi dan mendidik putra-putri kita.

Berika mereka pemahaman tentang seks yang benar berdasarkan tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah. Jangan sampai kita menyesal kemudian. Sekarang, mari kita masuk kamar masing-masing. Matikan lampu. Berdo’a, kemudian kita….tidur. Jangan lupa selalu berdo’a. Semoga Allah Subhannahu wata’ala selalu melindungi kita dan keluarga kita semua. Aamiin ya Allah ya Robbal’alamiin.  

Wallahu’alam bissowab
Jakarta, 26 September 2020