Home Opini RESIKO DAMPAK STERSS PSIKOLOGIS PASCA BENCANA BANJIR WARGA JATIASIH BEKASI DAN BOJONG KULUR BOGOR

RESIKO DAMPAK STERSS PSIKOLOGIS PASCA BENCANA BANJIR WARGA JATIASIH BEKASI DAN BOJONG KULUR BOGOR

Oleh: Mahyar Suara*

303
0
SHARE
RESIKO DAMPAK STERSS PSIKOLOGIS PASCA BENCANA BANJIR WARGA  JATIASIH BEKASI DAN BOJONG KULUR BOGOR

Keterangan Gambar : Mahyar Suara

Dalam beberapa dekade terakhir, kejadian bencana alam terjadi di Indonesia secara terus menerus. Hal ini telah menjadi subjek penelitian utama dan penelusuran secara studi literatur. Sejumlah besar literatur telah diterbitkan pada efek korban bencana, seperti efek negatif luar biasa pada seluruh sendi kehidupan manusia. Temuan penelitian sebelumnya menunjukan adanya peningkatan yang sangat signifikan pada berbagai problem kesehatan fisik dan psikologis  dalam jangka waktu yang panjang. Itu bisa berupa penurunan kemampuan seseorang dalam hal penyesuaian diri karena terjadi perubahan dalam kehidupan secara ekonomi, personal dan interpersonal pasca bencana banjir.

Bukti baru dalam penelitian lain menunjukan terjadi hubungan yang signifikan antara hilangnya harta kekayaan pribadi, dukungan sosial, dan kesehatan fisik terhadap stress psikologis pasca bencana. Ada beberapa studi dalam pelaporan literatur yang dituliskan oleg Gregor ( 2005) sangat terasa pada sebagian orang akibat kehilangan keluarga dan sahabat, kehilangan tempat tinggal, harta benda, kehilangan akan makna kehidupan yang dimiliki, pemindahan tempat tinggal, serta perasaan ketidakpastian karena kehilangan orientasi masa depan, serta keamanan personal.

Penyebab Stress Psikologi  Pasca Trauma

Penulis mengamati bahwa dampak stress psikologi  yang terjadi di wilayah Jatiasih Bekasi dan Bojongkulur Bogor terjadi pada anak maupun orang dewasa disini bisa berdampak jangka pendek sampai jangka panjang.  Dampak Emosional jangka pendek bisa dilihat ada rasa takut, hawatir, cemas terulang kembali kejadian bencana banjir  yang serupa dalam waktu yang dekat dan rasa sedih  terjadi karena kerusakan dan kehilangan harta benda yang dimiliki sehingga muncul perasaan hampa. Pada sebagian orang akan perasaan ini akan hilang dan pulih dalam waktu yang singkat seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi ada sebagian orang berdampak secara emosional berlangsung lama karena terjadi taruma dan masalah adaptasi dalam kehidupan personal, interpersonal, sosial dan ekonomi .

Gangguan stress  pascatrauma disebabkan oleh kehilangan harta benda. Dikutip dari South Cina Morning , bahaya maut yang meningkat setelah kehilangan harta finansial, yang oleh para peneliti disebut “ guncangan kekayaan”, ini membuat stress meningkat. Stress merupakan salah satu gejala psikologis yang dapat menyerang setiap orang . Tetapi  Sebagai mana dikutip dari Artikel Memaknai Kehilangan (Dompet Dhuafa) “Orang-orang yang beriman, terutama yang Allah karuniai sifat sabar, biasanya tidak mudah stress. Itulah sebabnya Allah menyatakan kesabaran merupakan pemberi-Nya yang terbaik  seorang hamba”. Ini salah satu perspektif makna kehilangan yaitu orang tidak merasa stress dan depresi.

Gangguan stress psikologis pascatrauma disebabkan oleh merasa tidak aman secara personal. Menurut teori kebutuhan dasar manusia  yang di kemukakan oleh Abraham Maslow, kebutuhan rasa aman dan perlindungan menduduki urutan yang ke dua setelah kebutuhan fisiologi. Kebutuhan rasa aman selain perlindungan fisik juga perlindungan psikologis diantaranya ancaman dari peristiwa atau pengalaman lama yang terulang atau pengalaman baru atau asing yang dapat mempengaruhi kondisi kejiawaan sesorang . Bencana banjir atau bencana yang lainnya merupakan musibah atau masalah, ini merupakan ancama yang dirasakan tidak aman sehingga seseorang mengalami stress psikologis  bahkan depresi lebih lanjutnya terjadi pengaruh terhadap kesehatan jiwa. Karena rasa sakit khawatir  berlebihan, trauma  membuat seseorang mengalami kehilangan koping emosi sehingga  seseorang tak terkendali.

Stress psikologis pasca trauma  disebabkan oleh perasaan ketidakpastian masa depan. Setiap orang pasti mendambakan masa depan. “Belajar dari masa lalu untuk masa depan” kutipan kata dari Einstein. Mereka yang tidak mempedulikan terhadap masa lalu pasti tidak akan memaksimalkan potensi untuk hidup pada hari ini. Sejatinya apa yang membentuk kita hari ini adalah peristiwa yang sudah terjadi masa lalu. Dan hari ini tentu akan membentuk kita yang akan datang. Bagi individu yang memiliki koping yang mal adaptif dan selalu megedepankan pesimistis maka individu itu akan selalu dihantui dengan stress psikologis.

Damapak Post-Traumatik Stress Psikologi Disorder

                Traumatik adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stress psikologis pasca trauma, kemungkinan menyebabkan kerusakan fisik di dalam otak dan kimia otak yang mengubah respon seseorang terhadap steress masa depan. Bagai mana dampak yang terjadi ?

                Orang yang mengalami dampak ini akan sering kali tidak mengekpresikan emosi dari berbagai rutinitas  dan lingkungan sosial  serta mengalami berbagai gejala gangguan kognitif. Selalu merasa cemas dan sangat menbgganggu, terbayang-banyang peristiwa bencana, mimpi buruk yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, kondisi fisik penderita menjadi siaga ketika mereka mengingat ataupun memikirkan trauma yang dialami.

Penanganan khusus (Trauma healing )

                Gejala psikis seperti  demikian tidak bisa dianggap sepele perlu penanganan khusus dalam memulihkan psikologisnya, jika kita didekat mereka kita lakukan untuk memulihkan kondisi itu .

  1. Paparan berita baik media cetak atau elektronik yang menggambarkan dan menyiarkan  tentang bencana itu di minimalkan di hadapan mereka.
  2. Jauhkan dan hindari tempat kejadian berlangsung.
  3. Berikan rasa empati, dukungan kepada mereka sehingga mereka merasakan kepedulian kita.
  4. Berikan kecukupan sandang, pangan  bahkan papan.
  5. Melibatkan mereka dalam kegiatan bersama seperti memasak  dan kegiatan sosial lainnya.
  6. Ajak untuk bermain, dan jadikan bermain itu menjadi therapi.
  7. Siap untuk menjadi pendengar, ketika korban sudah siap menceritakan terhadap kejadian itu.
  8. Kita harus menjadi mentor dalam melakukan  Psiko edukasi dan psiko spiritual.***

 

Dosen: Mental Health Nursing/ Kandidat Doktor, Lincoln University College  Kuala Lumpur