Home Agama Pesantren Eksotis di Lereng Gajah Mungkur

Pesantren Eksotis di Lereng Gajah Mungkur

#PesantrenLansia

86
0
SHARE
Pesantren Eksotis di Lereng Gajah Mungkur

SEMARANG (Parahyangan-post.com) -- Di usia yang masih produktif umumnya orang banting tulang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan hari tua. Namun di usia yang baru lewat 40 tahun, Winarno justru banting setir dengan impian yang ganjil; membangun pesantren untuk para lansia. Di lereng Gunung Gajah Mungkur di tepi hamparan danau Rawa Pening, tepatnya Desa Gedong Kecamatan Banyubiru, Semarang bapak tujuh anak ini meretas jalan berliku memuliakan kehidupan para lansia.

Namun niat mulia itu tak berjalan mulus. Bahkan saat pertama didirikan banyak cibiran terlontar. “Orangtua kok disuruh sekolah lagi, mana mungkin mau. Pekerjaan yang mubazir.” Tapi Winarno bergeming. Dengan memanfaatkan bekas kandang ayam di rumah ibunya, Winarno mulai menancapkan tonggak impiannya. Untuk membiayai pembangunan pesantren itu, ia bahkan nekat menggadaikan mobil satu-satunya yang ia miliki. 

Pesantren Lansia Raden Rahmat pun berdiri dengan segenap kesederhanaannya. Nama pesantren ini terilhami nama salah satu tokoh penting Wali Songo, yaitu Raden Rahmat atau yang populer dikenal sebagai Sunan Ampel. 

Ada tiga falsafah yang menjadi fondasi kegiatan pesantren, yaitu olah rogo, olah jiwo olah roso. Olah rogo adalah kegiatan menjaga fisik agar tetap sehat, bugar di masa usia yang sudah tidak lagi muda, misalnya olah raga, memeriksa kesehatan rutin para lansia, bertani, dan kegiatan produktif lainnya. Olah jiwo adalah kegiatan rohani; mengaji, shalat, mempelajari dan membiasakan kembali dasar-dasar ibadah keagamaan yang pernah terlupakan . Olah roso adalah kegiatan mengasah kepekaan sosial kemasyarakatan.

Sejak didirikan 3 tahun lalu, kini Pesantren Lansia Raden Rahmat merawat lansia non mukim 60 orang, santri mukim 35 orang, santri resiko tinggi ( bedrest) 160 orang.

“Untuk santri yang tinggal di rumah masing-masing, kami melakukan kunjungan rutin untuk pembinaan spiritual, pemeriksaan kesehatan dan menyalurkan bantuan biaya hidup,” ungkap pria yang pada masa kecil besar di daerah transmigrasi ini. 
 
Para santri datang dari berbagai kota bahkan luar Jawa; Jambi, Solok, Samarinda, Balikpapan dan Makasar. Saat ini pesantren memang belum bisa menyediakan fasilitas mukim yang layak sebagaimana yang diharapkan. 

“Konsep kami adalah pemberdayaan. Karena itu kami mengharapkan keterlibatan banyak pihak demi keberlangsungan kegiatan pesantren, termasuk penduduk sekitar dengan menyediaan sebagian ruang kamar rumahnya untuk short stay bagi para santri,” tutur pria yang mualaf sejak remaja ini. 
 
Bagi Winarno, pesantren lansia Raden Rahmat yang ia dirikan ini adalah sebuah ajakan kepada masyarakat untuk lebih care pada lansia, karena selama ini para lansia adalah kelompok yang sangat kurang mendapat perhatian, padahal karena mereka kita ada. 

“Kita sering abai pada orangtua dan lansia di sekitar kita. Pada umumnya kegiatan-kegiatan spiritual lebih banyak menyasar usia-usia anak, remaja dan usia produktif. Padahal seperti mobil, dalam perjalanan hidup ini, kadang kita tidak bisa menghindari paparan debu dan noda kehidupan. Nah, dengan adanya pesantren ini kami ingin melakukan pemulihan, pembersihan jiwa hingga kelak menuju husnul khatimah,” pungkasnya. 

Mualaf 

Winarno, sang perintis pesantren lansia Raden Rahmat ini tidak dilahirkan sebagai Muslim sejak lahir. Pada awalnya keluarganya penganut nasrani yang taat. 

Namun di usia remaja, dikota perantaunnya, sebuah peristiwa mengubah haluan imannya. Sepulang dari gereja, Winarno muda terngiang khotbah pendetanya, “kalian pemuda-pemuda penggembala, jangan berdiam diri dirumah, segeralah sapa semua domba-domba Allah di pelososok kota ini, karena ketahuilah kedatangan Allah itu kian dekat, sambutlah kedatanganNya dengan menjadi pekerja Tuhan”,. 

Sang pendeta mengimbuhkan cerita tentang tanda-tanda kiamat yang mengiringi kedatangan sang Mesiah.

Sepulang dari kebaktian, hujan deraspun mengguyur Jakarta, hingga membuat rumah pamannya tempat ia menumpang hidup digenangi banjir. Sontak ia gelisah dan teringat isi khutbah pendeta tentang tanda-tanda akhir zaman. Di tengah kegalauan itu ia raih 2 kitab suci yang tidak asing baginya, Injil dan Al-Qur’an. 

Yang membuat aneh adalah ketia ia mendekap Al-Qur-an terjemahan bersampul merah yang sudah mulai lusuh itu, kegundahannya hatinya berangsur mereda dan tenang.

Sejak saat itu ia pun mulai tertarik dan serius mempelajari Islam, hingga akhirnya ia berkeyakinan memeluk risalah yang dibawa nabi akhir zaman itu. 

Berangsur-angsur keluarganya mengikuti jejaknya. Dan ia amat bersyukur ketika sang ibu akhirnya menyusul mengucapkan syahadat  setelah seluruh keluarga besarnya. 

Meskipun telah menjadi mualaf, namun Winarno tak segan bersinergi dengan teman-teman nasraninya. 

Baginya urusan kemanusiaan tidak mengenal batasan, keagamaan, golongan, strata sosial, atau kesukuan sebagaimana Islam mengajarkan. Dalam pelayanan kepada lansia, ia justru berguru dengan seorang suster dari di salah satu panti wreda yang dikelola salah satu Keuskupan Agung di Jawa Tengah.  

Masjid & Shelter Lansia 

Di atas lahan wakaf 2.000 m2, pesantren tengah dalam proses membangun masjid dua lantai yang dalam perencanaanya lantai 1 akan digunakan sebagai ruang kelas sekolah lansia dan lantai dua untuk kegiatan ibadah. Di tempat ini pula, di atas Rawa Pening lereng Gunung Gajah Mungkur, pesantren juga tengah membangun shelter untuk mukim para lansia. 

“Kami sengaja memilih tempat eksotis tersebut dengan pertimbangan lingkungan yang sehat. Viewnya sangat bagus, lingkungannya sejuk dan tenang sehingga sangat mendukung untuk pemulihan kesehatan dan spiritual lansia,” terang Winarno. 

Saat ini pesantren membutuhkan banyak dukungan demi selesainya pembangunan masjid dan shelter tersebut. 

Donasi bisa dilakukan secara tunai ke nomor rekening 7 9999 333 72, Bank Syariah Mandiri an. Pesantren Lansia Raden Rahmat, kode antar bank 451. 

Pesantren juga menerima bantuan material. Saat ini dibutuhkan 250 sak semen, 2 truk koral, 3 truk pasir, batu bata 15.000, kusen 15 pasang  dan besi 350 batang, untuk pembangunan lantai 2 masjid. Ditargetkan pada Agustus tahun ini masjid bisa dipakai, karena salah satu rumah warga yang dipinjamkan untuk kegiatan pondok pada bulan tersebut habis masa pakainya.

(win/PP)