Home Agama Perbaikan Akhlak Bangsa Mendesak

Perbaikan Akhlak Bangsa Mendesak

Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa MUI, KH Dr. Masyhuril Khamis, SH, MH:

207
0
SHARE
Perbaikan Akhlak Bangsa Mendesak

Keterangan Gambar : Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa MUI, KH Dr. Masyhuril Khamis, SH, MH. (foto masyh)

Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa MUI, KH Dr. Masyhuril Khamis, SH, MH:

Perbaikan Akhlak Bangsa Mendesak 

Jakarta, parahyangan-post.com. Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB)  Majelis Ulama Indonesia atau MUI yang baru dikukuhkan, Dr. Masyhuril Khamis, SH. MH., mengatakan perbaikan akhlak bangsa sangat mendesak. Tetapi  pihaknya tidak akan mendeklarasikan revolusi akhlak sebagai jawaban atas persoalan moral bangsa yang saat ini dinilai banyak kalangan berada di titik terendah.

"Revolusi akhlak, revolusi mental itu baik. Tetapi MUI  memakai istilah perbaikan akhlak bangsa. Yang MUI pentingkan  adalah prosesnya diupayakan berjalan smart. Semua potensi kekuatan umat akan dirangkul dan diberdayakan.

Hal tersebt disampaikan kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldum Bogordi dan School Business Management  UUM Kedah Makaysia ini menjawab parahyangan-post.com ketika dimintai komentarnya usai dilantik.

“Akhlak itu lebih luas maknanya. Bahasa yang kami gunakan adalah perbaikan akhlak bangsa.  Biarlah revolusi menjadi bahasa yang diperdebatkan,” ujarnya.  

MUI menurut   KH Masyhuril adalah washatiyah. Yakni berada di tengah-tengah. Tidak berpihak ke salah satu aliran atau pun tidak mau terjebak mengikuti salah satu  arus utama yang berkembang.

Dalam khazanah Islam klasik, pengertian washatiyah didevinisikan oleh banyak ulama terkemuka, diantaranya, Ibnu ‘Asyur, dan  al-Asfahany.

Menurut Ibnu ‘Asyur, kata wasath berarti sesuatu yang ada di tengah atau sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding.

Menurut al-Asfahany, kata wasathan berarti tengah-tengah di antara dua batas (a’un) atau bisa berarti yang standar. Kata tersebut juga bermakna menjaga dari sikap melampaui batas (ifrath) dan ekstrem (tafrith).

Lantas apa yang akan menjadi agenda utama KH Masyhuril setelah diangkat menjadi ketua PD PAB MUI ini?

“Kita belum ketemu dengan pengurus.  Jadi  belum bisa kongkrit.  Tapi intinya badan ini dipandang punya tugas berat untuk memperbaiki akhlak bangsa,” tegas KH Masyhuril yang juga Sekjen  Ormas Islam terbesar di Sumatera, Al Washliyah.

Dikatakan KH Masyhuril, pihaknya baru akan mengadakan pertemuan setelah libur tahun baru ini.*** aboe/pp)