Home Husada Pengobatan COVID-19 dengan Instituto Clodomiro Picado (ICP) Costa Rica

Pengobatan COVID-19 dengan Instituto Clodomiro Picado (ICP) Costa Rica

Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Jajaki Kolaborasi Riset Terapi

186
0
SHARE
Pengobatan COVID-19 dengan Instituto Clodomiro Picado (ICP) Costa Rica

Keterangan Gambar : Ade Pradipta, Indriyani, M Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN (sumber foto : tim BRIN/PP)

JAKARTA (Parahyangan-post.com) - Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, Ali Ghufron Mukti, dalam diskusi bersama Kedutaan Besar Costa Rica dan Instituto Clodomiro Picado (ICP) melalui daring pada Rabu (01/07) menjelaskan bahwa salah satu program dari konsorsium selain melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan menghadapi COVID-19 juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak di luar negeri. Melalui kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat riset dalam penanganan COVID-19 serta membuka lebih banyak peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis program riset dan inovasi COVID-19.

“Hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Costa Rika memiliki potensi besar yang dapat kita manfaatkan untuk bergabung di bidang riset dan pengembangan untuk memerangi pandemi yang sedang berlangsung. Melalui program Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, kami juga membuka peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis, karena program ini memprioritaskan transfer teknologi antar negara untuk mendukung program riset dan inovasi selama masa pandemi COVID-19,” jelas Ali Ghufron Mukti pada acara Discussion on COVID-19 Therapeutic Treatment Model Development in Costa Rica yang diselenggarakan Kemenristek/BRIN bersama Kementerian Luar Negeri.

Pada kesempatan yang sama Duta Besar Costa Rica di Jakarta, H.E. Esteban Quirós Salazar menyampaikan pentingnya kolaborasi untuk saling mendukung dalam masa pandemi ini. Beliau menambahkan bahwa keterbukaan dan saling berbagi informasi meningkatkan keberhasilan dalam riset bilateral terkait COVID-19 serta membuka peluang kerja sama di berbagai bidang ke depannya.

“Hal ini merupakan kesempatan yang sangat bagus, apalagi di momen yang dunia alami saat ini. Kolaborasi dan kerja sama riset sangat penting, sebab keberhasilan riset di suatu negara akan menjadi lebih baik jika saling berbagi informasi yang dimiliki. Tidak ada keraguan, saya yakin kita bisa bekerja sama dengan baik, selain mewujudkan kerja sama di bidang lain ke depannya,” ujar H.E. Esteban Quirós Salazar.

Direktur Instituto Clodomiro Picado (ICP) Costa Rika, Alberto Alape Girón mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini sedang mengembangkan antiserum COVID-19 dari plasma darah pasien. Lebih lanjut dijelaskan pengalamannya selama puluhan tahun dalam riset dan pengembangan anti racun ular dan saat ini berupaya berperan aktif dalam riset terkait Covid-19.

“Institusi kami sudah berdiri selama 50 tahun, program penelitian kami intensif mengenai ular dan racunnya untuk memproduksi anti racun ular. Jadi kami memiliki infrastruktur dan peralatan yang memadai terkait penelitian tentang antibodi. Beberapa bulan terkahir kami sedang meneliti untuk mengembangkan antibodi melalui metode plasma convalescent dari pasien COVID-19,” jelas Alberto Alape Girón.

Antusiasme peserta terlihat dari minat melakukan pertukaran pengetahuan dan diskusi hasil yang diperoleh dari analisis ilmiah yang sedang berlangsung, terutama untuk percepatan pengembangan terapi pengobatan yang efektif untuk mencegah meluasnya wabah COVID-19. 

Pada akhir Mei lalu, Indonesia telah menyatakan dukungannya terhadap prakarsa Solidarity Call to Action yang diusulkan oleh pemerintah Costa Rica kepada WHO. Hal ini penting sebagai tanda dibukanya hubungan diplomatik antar kedua negara.

Hadir dalam diskusi daring ini antara lain Plt. Sekretaris Utama Kemenristek/BRIN, Mego Pinandito;  Direktur Afrika Kemenlu, Daniel Tumpal Simanjuntak; Direktur Amerika I Kemenlu, Zelda Kartika. Dari Kementerian Kesehatan turut hadir Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Pelayanan Kesehatan, Irmansyah; dan Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Agusdini Banun Saptaningsih; Ketua Bidang Riset Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Ahmad Hidayat; perwakilan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI); BPPT; LIPI; Unit Tranfusi Darah; para peneliti/perekayasa dari berbagai universitas dan rumah sakit. (*) 

(sumber : BRIN/pp)