Home Edukasi Peneliti Muda Teliti Terapi Eyang Agung

Peneliti Muda Teliti Terapi Eyang Agung

Ajang MYRS Kemenag

262
0
SHARE
Peneliti Muda Teliti Terapi Eyang Agung

Keterangan Gambar : Para peneliti muda dari MTs.N 13 Jakarta saat mewawancarai Eyang Agung, di ruang Palereman, komplek Pendopo Eyang Agung, Ciputat, Rabu 26/8. Dari kiri ke kanan, H. Eyang Agung WP, Ibu Nova Rizqiawati, M.Hum, Sarril Hafiz Arifin dan Rifqy Yasin S. (foto aboe)

Ajang MYRS Kemenag

Peneliti Muda Teliti Terapi Eyang Agung

Jakarta, parahyangan-post.com Peneliti muda dari Madrasah  Tsanawiyah Negeri (MTsN) 13, Petukangan Utara, Pesangrahan, Jakarta Selatan, melakukan penelitian mengenai metode dan keunikan terapi Eyang Agung. Mereka terdiri dari  Rifqy Yasin Saputra,  Sarril Hafiz Arifin dan guru pembimbing Nova  Rizqiawati, M.Hum.

Penelitian dilakukan dengan melihat, mengamati langsung serta wawancara dengan Eyang Agung,  di Pendopo Eyang Agung, Jl. Sukadamai Raya (Jl. Eyang Agung), no. 27 A, Sarua Indah, Ciputat, Tangsel, Rabu 26 Agustus.

Menurut Ibu Nova, hasil penelitian ini nantinya akan dibawa ke ajang lomba Madrasah Young Reseacher Super Camp (MYRES) tahun 2020.

Dijelaskan Ibu Nova, Lomba tersebut diadakan oleh Kementerian Agama RI. Pesertanya adalah madrasah di tingkat Tsanawiyah dan Aliyah  (sederajat SMP/SMA) di seluruh Indonesia.

Ada 4 bidang bidang yang dilombakan, yakni Ilmu Keagamaan (Religious Knowledge), Sosial Kemanusiaan (Social and Humaniora), Matematika, Sains (Match, Science)  dan Pengembangan Teknologi (Technological Development).

Lomba nantinya akan dilangsungkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif HIdayatullah, Ciputat.

“Kami mengikuti bidang Kemanusiaan. Dan kami memilih terapi Eyang Agung sebagai objek penelitian karena terapi Eyang Agung sangat unik dan tidak dijumpai di tempat lain,” tutur Ibu Nova.

Lebih jauh dijelaskan Ibu Nova, selain karena keunikan, pemilihan terapi Eyang Agung sebagai objek penelitian, juga melalui pengamatan dan informasi dari masyarat dan pasien yang sudah sembuh.

“Termasuk juga orang tua saya dan tetangga saya yang pernah menjalani terapi di pendopo Eyang Agung. Jadi kami melihat terapi Eyang Agung sangat menarik untuk diteliti, makanya kami memutuskan untuk melakukannya. Alhamdulillah kami diperkenankan oleh Eyang Agung dan Eyang Agung sangat terbuka mengenai terapinya,” tutur Ibu Nova.

Ibu  Nova menyatakan kekagumannya terhadap terapi Eyang Agung, karena terapi Eyang Agung sangat transparan, terbuka, bersih dan ilmiah. Pasien lain bisa melihat rekannya diterapi, tidak ada yang disembunyi-sembunyikan, seperti kebanyakan terapi serupa (terapi alternatif).

“Ini sangat menarik. Biasanya terapi alternatif kan kesannya perdukunan, ada rahasia-rahasia, pengobatannya tidak boleh dilihat oleh orang lain,” tambahnya.

Keunikan lain, menurut Ibu Novi adalah Eyang Agung tidak menetapkan tarif . Dalam praktek selalu diiringi musik, selalu menghibur pasien sehingga pasien merasa senang dan gembira.

Sementara itu Eyang Agung mengatakan, penelitian yang dilakukan oleh peneliti muda dari MTs.N 13 Petukangan ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya sudah banyak yang melakukan, baik di tingkat Mahasiswa (untuk skripsi) maupun untuk kepentingan lain.

Menurut Eyang Agung, pihaknya selalu terbuka untuk hal semacam itu.

“Sepanjang untuk kebaikan dan menolong masyarakat, silakan. Eyang terbuka kepada siapa saja,” tutur Eyang Agung.

Ditambahkan, terapi Eyang Agung berdiri sejak tahun 2000, sepuluh tahun pertama jumlah kunjungan tamu mencapai 1500-2000/ hari. Kemudian jumlah kunjungan dikurangi dan jam praktek pun dikurangi. Sekarang praktek hanya setengah hari, mulai dari jam 05.00 pagi (usai Sholat subuh) sampai jam 11.00. wib.

Selama pandemi covid-19 jam praktek pun disesuaikan. Jumlah kunjungan di masa pandemi corona tidak terlalu terpengaruh.

“Hanya sekitar 5 hari awal pandemi covid-19 jumlah kunjungan agak terpengaruh. Karena banyak diantara mereka menduga terapi tidak buka. Tetapi setelah itu kunjungan normal lagi sekitar 300-350/hari. Terapi pun menerapkan standar keamanan covid-19 yang ketat,” tambah Eyang Agung.

Jika ditotal, sejak berdiri tahun 2000 (berdasarkan data base) terapi Eyang Agung sudah dikunjungi sekitar 8,5 juta tamu. Mereka berasal dari seluruh pelosok tanah dan lebih dari 30 negara lain di dunia.*** (aboe)