Home Edukasi Pemuda Penggerak Inovasi Ekonomi dan Sosial

Pemuda Penggerak Inovasi Ekonomi dan Sosial

673
0
SHARE
Pemuda Penggerak Inovasi Ekonomi dan Sosial

Judul buku          : Menjadi Pemuda Penggerak Inovasi Sosial

Penulis                 : Dr. Misbah Fikrianto, MM, M.Si

Penerbit              : Zenawa Publishing /2022/145 hal.

Peresensi            : Ismail/Mahasiswa UIA

Pasca pandemi covid – 19, Indonesia dan juga seluruh dunia, terpuruk secara ekonomi. Tetapi di balik itu muncul kreativitas yang tak kalah kreatifnya melawan keterpurukkan itu. Agar kembali ke jalur distribusi perdagangan yang normal. Bahkah melebihi ekpektasi sebelumnya. Yaitu tampilnya usaha rintisan (Start Up) berskala nasional dan global. Dengan kapitalasisasi pasar bernilai milyaran dolar AS. Dan yang mencengangkan lagi, start-up-start-up  itu dibangun oleh anak-anak muda!

Buku “Menjadi Pemuda Penggerak Inovasi Sosial”  yang ditulis Dekan  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam As syafiiyah (UIA), Dr. Misbah Fikrianto, MM, M.Si., menelisik kreatifitas pemuda seluruh dunia dalam membangun usaha rintisannya. Sehingga menjadi solusi persoalan kemanusiaan. Bukan saja di bidang ekonomi tetapi juga sosial. Yang kemudian menciptakan peradaban baru. Yang melompat jauh dari tatacara konvesional.

Tokoh-tokoh yang dimaksud antara lain, Alok Shetty ,Osama bin Noor, Gavin Armstrong, Jamie Chiu dan Daniel Flyinn. Sementara dari dalam negeri ada Masril Koto, Dea Valencia, dr. Gamal Albina Said, Muhammad Abdul Karim dan Agis Nur Aulia.

Semua usaha rintisan itu berbasis teknologi informasi. Internet adalah wahananya. Maka di millenium ini, orang yang masih belum melek internet, dan aplikasi-aplikasi yang berkembang cepat di dalamnya akan tetap tertinggal. Bahkan akan menjadi manusia ‘purba di abad modern’.

Semua praktek baik dan kesuksesan yang mereka raih tersebut dibangun dengan proses yang sungguh-sungguh. Kolaboratif dan inovatif. Pemuda akan menjadi  kekuatan yang strategis dengan mengedepankan  kepedulian, kolaboratif dan inovatif. (hal 55).

Bagaimana dengan kaum yang ‘lebih tua’ atau generasi kolonial? Di buku ini penulis menyitir hadis Nabi Muhammad, yaitu  belajar itu sepanjang hayat. Mulai dari buaian sampai liang lahat.

Belajar sepanjang hayat adalah upaya seseorang untuk terus belajar secara sukarela dan berkelanjutan untk alasan pribadi yang bertujuan untuk pengembangan pribadi, meningkatkan daya saing dan kemampuan kerja ( hal 113).

Jadi tidak ada kata terlambat bagi siapa pun untuk melek teknologi informasi, karena dunia memang sedang berubah dana kan terus berubah. Pekerjaan-pekerjaan yang tadinya dilakukan secara manual kini telah digantikan oleh aplikasi social. Banyak lapangan pekerjaan yang hilang dan tidak dibutuhkan lagi. Nah agar tidak menjadi ‘pengangguran seumur hidup’ perlu inovasi. Pemudalah penggeraknya

Agar tahu caranya, bacalah buku ini! ***