Home Nusantara PANTAI SAWARNA KU TAK LAGI SAJIKAN PANORAMA HENING MENENTERAMKAN JIWA.

PANTAI SAWARNA KU TAK LAGI SAJIKAN PANORAMA HENING MENENTERAMKAN JIWA.

#wisata

164
0
SHARE
PANTAI SAWARNA KU TAK LAGI SAJIKAN PANORAMA HENING MENENTERAMKAN JIWA.

BANTEN (Parahyanganpost.com) -- Aku masih teringat jika aku sowan kunjungi sobat sobatku di Sawarna, Bayah Kabupaten Lebak,  Propinsi Banten. Suasananya masih rimba alami, pantainya masih seperti perawan yang kesepian. 

Awal tahun 93 an aku sudah expansi ke daerah sana. Jalan pintas yg masih layak melewati jalur pelabuhanratu naik angkutan umum jenis L300 Atau ELF yang belum berangkat kalau kap bagian atasnya beum terisi. 

Kendaraan lanjut ikuti alur pesisir pantai, lewati dusun kecil Cisolok yang mendadak booming karena adanya seorang ibu tua penyembuh penyakit kotor freesexual,  nama bèkènnya mak Erot kini sdh almarhumah, posisinya digantikan oleh anak lelaki nya yg hingga kini masih bertahan menempati area pinggir jalan, mudah untuk mencarinya karena puluhan calo pasti bergerombol ketika kita membawa kendaraan pribadi berjalan pelan, dan sedikit pura pura kebingungan ketika mulai memasuki pasar Cisolok.

Kondisi jalan waktu itu jangan ditanya, rusak berat,  hanya tataan batu batu karang yang ditata sekedarnya sepanjang jalan Pelabuhan Ratu -Bayah. Makanya angkutan umum waktu itu dibatasi hingga jam 14:00 rute terakhir menuju Bayah. 

Untuk menuju Sawarna waktu itu belum ada jalan pintas lewati Gunung Batu,  Ciawi Cijengkol. Kendaraan wajib ikuti jalan yang kata masyarakat adat yang dipimpin para Jaro jawara banten adalah hasil kesepakan awal dibukanya route Pelabuhan Ratu -  Bayah ini. 

Nah tak sampai terminal Bayah, aku turun ditempat yang namanya Cibayawak. Menunggu ojek kendaraan roda dua, atau angkutan land rover four whell drive agar sampai ditempat tujuan. Salah satunya pemilik beberapa kendaraan tempur itu adalah kawan ku.

Masuk ke dalam area pantai dan Desa Sawarna dengan land rover renta seperti itu merupakan ke asyikan tersendiri, jalan terseok tapi pasti, melewati bagian tersulit dengan kemiringan radikal jadi pemandangan biasa,  aku menyebutnya track uji nyali. 

Apalagi sudah melewati jembatan Pulo Manuk, yg kala itu hanya rajutan kayu batang kelapa dengan tambalan sana sini pas untuk roda kendaraan saja. Masuk hutan larangan Pulo Manuk yang konon masih ada beberapa ekor macan kumbang liar menjadi penghuninya, indikator nya masih banyak Babi Hutan, Surili,  Lutung atau Owa Jawa dan burung Enggang hidup nyaman didalam hutan sebelah kiri kendaraan.

Sebelah kanan laut lepas Pantai Selatan yang terkenal dahsyat ombaknya. Jika beruntung ribuan Kalong akan terlihat menghitam mengitari areal sisi pantai Pulo Manuk ketika matahari mulai tenggelam. 

Pernah suatu ketika aku dan saudara sepupuku jelang Maghrib sudah berada ditengah perjalanan hutan Pulo Manuk,  sungguh, perjalanan kami terhenti sejenak karena lewatnya gerombolan Babi Hutan para Betina dan anak anaknya. Sang Jantan berputar mengelilingi komunitas keluarganya, menjaga prilaku kami agar diam tak mengancam mereka. Syukur tak ada insiden diseruduk Babi Hutan, karena tak sepotongpun alat jaga diri yang kami bawa. 

Hingga tiba di tanjakan Cariang sudah terihat atap genteng rumah penduduk,  maka dimulailah aktifitas baru mempersiapkan kedatangan aku yang bagi mereka adalah kunjungan spesial. 

Dari rumahku Cileungsi, jika aku menggunakan kendaraan pribadi aku membawa bekal rendang, mie instant, saus cabai dan kecap tak boleh dilupakan,  juga ayam siap goreng, kompor gas portable dan beberapa alat masak,  kopi, gula dan tak lupa rokok buat bergadang bersama para sobatku anak tokoh (para jaro dan pu'un) Desa Sawarna. Buka tenda di pasir pantainya yang putih dan tidak gatal. Mereka sigap mengumpulkan batang kayu untuk api unggun yang melimpah bawaan sampah laut yang teronggok di beberapa titik.

Mengganti menu kota dengan menu tepian pantai.

Lepas membangun Tenda untuk keluarga ku, mereka sudah pasang tanda umpan yang ditandai dengan tancapan batang kayu, umpan dedak dicampur terasi murahan dan sedikit lumpur muara untuk memancing makhluk muara Desa Sawarna supaya berkumpul di area umpan. Biasanya udang Menjangan dan ikan Belanak bahkan kepiting dan rajungan ikut terkena jaring jala. 

Tak lupa tim lain ada yang bertugas mengumpulkan sejenis siput laut yang namanya mata lembu  siput macan dan kerang kerangan  lainnya. Mereka hidup di tepi laut, pantai berbasis karang memanjang, bukan tepian muaranya. Bagian terindahnya adalah ketika para gerilyawan sumber pencarian nafkah laut berkumpul tanda usai bekerja mencari rejeki malam dari sumber alamnya yang melimpah. 

Terkumpullah aneka rupa ikan dari jenis Belanak, Travely tanggung, udang Menjangan, Kepiting,  Kuyutug, dan makhluk air lainnya menjentik dan menggelepar menanti di bakar.
Sungguh piawai mereka para sobatku anak pantai Sawarna. 

Tak kurang 3 ember ukuran mungkin 7kg an per ember berhasil dikumpulkan para pencari rejeki malam. Sedapnya hidup waktu itu, makan hasil bakaran udang yang melimpah, kadang digoreng kadang direbus, dicocol saus sambal dan kecap. 

Ikan Belanak yang nyaris per ekor seperempat kilo yang gurih dan berlemak, kepiting dan rajungan yang manis, serta rebusan siput mata lembu dan siput macannya yang kinyis kinyis. 

Tak lupa aku mencoba kuyutug yang sensasional, makhluk laut yg rasanya persis rasa kepiting cuma ukurannya saja yang imut. Hari terakhir besok kembali ke Cileungsi, mereka kerja optimal mengumpulkan banyak oleh oleh buat dibawa pulang. Tak kurang nyaris 15kg udang segar yg sudah dikukus sebesar 7cm aku bawa. 

Dahulu aku saksikan sendiri kalau Pulo Bokor dekat Pulo Manuk itu tempat turunnya ratusan ular laut hitam putih dan menjadi Sarang mereka. Dahulu depan Tanjung Layar itu yang menghadap laut lepas adalah merupakan karang kereta, jika saat air laut surut bisa merupakan jalur gang lebar kisaran 20 meter bisa dilalui dengan berjalan kaki, asal waspada saja karena licin berlumut.

Jika saat air pasang, karang kereta depan Tanjung Layar, terendam kisaran 3meter lebih kedalaman laut,  beberapa penduduk sering mengatakan, kalau jalur gang itu banyak dilewati ikan ikan hiu. Pantainya yang mulus rata, putih bersih dan tidak gatal membentang sepanjang Pulo Manuk Desa Sawarna. Nyaris tak ada sampah plastik, botol Aqua dan lainnya.

Penghasilan penduduk adalah pembuat pisang sa?è dan gula aren sebelum dibawa kepasar Bayah, banyak berjejer meja meja dari bambu tempat menjemur pisang salè. 

Tumpukan kelapa tua menggunung siap diangkut kapan saja. Sawarna adalah surga pohon kelapa bagiku, dahulu sebelum dipecah Propinsi Banten, pengelolanya adalah orangtua Sohib sohibku yang merupakan putera asli pemegang kuasa tokoh Belanda Van Gogh. Hingga saat ini kuasa itu masih dipegang oleh keluarganya.

Kini segalanya mungkin tinggal kenangan masa lalu. 

Sawarna sedang bersolek dari seorang gadis lugu, menjadi gadis metropolitan. Infra struktur dibangun, jalan menuju Sawarna dibuka mulai dari jalan Gunung Batu Ciawi, langsung Sawarna, Kalau dahulu trayek angkutan langsung ke Bayah. Kini tak lagi, semua angkutan umun wajib mampir ke Sawarna.

Cottage dan guest house dibangun menjamur,  hiburan malam mulai ramai. Wisatawan domestik maupun Manca Negara mulai masuk.. Akulturasi mulai nampak, budaya setempat mulai tergeser, para pemudanya kini mudah mencari rejeki dari guide dadakan turis asing, hingga penyewaan ban ban untuk renang dan tak lupa kini berjejer kios kios yang menjajakan aneka keperluan wisatawan. 

Nun jauh disana di kawasan Cibayawak telah berdiri dengan megah raksasa industri pabrik semen Merah Putih, kerjasama PT Cemindo Gemilang, Perusahaan patungan antara Gama Group dengan Perusahaan Singapura WH Investment. Mulai dari lewati Gunung Batu, telah dipasang conveyor pengangkut material bahan semen, hingga Cibayawak pabrik pengolahannya. 

Jajaran pantai Karang Taraje Bayah kini sudah tinggal kenangan, di ubah fungsi menjadi pelabuhan pengangkut hasil produk berupa semen untuk pembangunan dunia. Sebentar lagi dedaunan dan genteng rumah penduduk akan memutih, terkena limbah asap pabrik semen seperti lazimnya di gunung putri  cibinong,  penyakit ispa siap siap akan menjadi langganan masyarakatnya. 

Miris memang, masyarakat dihadapkan pada situasi dilematis antara perkembangan peradaban dunia modern yang instans, atau tetap bertahan dari kejumudan dunia yang stagnasi mungkin membosankan. 

Yang pasti aku yang di ujung umur usiaku kini, baru mengenal mushroom sejenis jamur kurus yang berasal dari kotoran kerbau yang memang banyak tumbuh dikandang pesisir pantai Sawarna. Itu ternyata banyak dicari bule asing harganya lumayan tin?gi. Dan itu bisa mengakibatkan seseorang menjadi mabuk seperti menghisap ganja.

Hmmm .. buah dari kemajuan akulturasi budaya barat mampu mengikis budaya ketimuran yang mulia dan agamis. Sebuah konsekwensi yang harus dibayar mahal oleh masyarakatnya. 

Cileungsi,  1 Desember 2020.

Di dedikasikan untuk anak dan istriku
Serta para sahabat sahabatku setia.

1. Sarah Azhari Balqis.
2. Saffina Ayyar Rizqia.
3. Sheilla Nasywa.
4. Sherina Anastasya
5. Dan Ratminah istriku

Sebagai kenangan peristiwa bahwa kita pernah mendirikan tenda tepi pantai ber kawan alam Sawarna. Sebelum kejadian kejadian akulturasi budaya timur dan barat. Terima kasih pada para sohib sohibku warga Sawarna dan para Jaro serta tokoh tokohnya yang telah menjaga ku dari semua kejadian hidup di Sawarna.

1. Jaro Hudaya.
2. Kukun, Zaenal, Lempog, Ohol, Tompel Mamad, Jono Usep, kang Asep ompong, dan teman teman lainnya panjang seperti karang Tanjung Layar. Istri dan anak anak mereka, terutama Bobby almarhum anaknya Tompel Mamad yang menjadi sahabat bermain anak anakku dan menjaganya dengan baik.. kalian akan hidup selamanya dalam ingatanku.. Thanks forever..

(Imansyah Hakim Al Rasyid/wartawan,penulis,anggota PJMI)