Home Edukasi PANDANGAN HIDUP ISLAM DALAM POLITIK, EKONOMI, DAN PENDIDIKAN

PANDANGAN HIDUP ISLAM DALAM POLITIK, EKONOMI, DAN PENDIDIKAN

HIKMAH JUM’AT

275
0
SHARE
PANDANGAN HIDUP ISLAM DALAM POLITIK, EKONOMI, DAN PENDIDIKAN

Oleh: J. Faisal, M.Pd
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor


Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul  ISLAM AS THE WAY and THE PHILOSOPHY of LIFE, 
saya telah menuliskan bahwa jika kita mengaku diri kita sebagai seorang yang memeluk agama Islam, artinya secara sadar kita telah memilih Islam sebagai pandangan dan ajaran atau panduan  hidup kita. Maka wajiblah bagi kita untuk melaksanakan semua kewajiban yang ada di dalam Islam. Artinya kita harus semakin dapat  memahami bahwa Islam adalah bukan hanya sekedar agama. Islam harus dijadikan sebagai carapandang dan gaya hidup (The Style of Life ) seorang muslim. Tidak ada perbedaan pandangaan antaara hati dan otak. Keduanya harus menyatu, yaitu terisi dengan Islam. Inilah yang diartikan dengan pelaksanaan Islam secara kaffah. Artinya juga tidak ada pemisahan antara kegiatan hidup keseharian kita dengan Islam kita. Dengan kata lain, tidak ada sekulerisasi atau pemisahan ajaran Islam dengan dengan kegiatan hidup kita dalam segala aspeknya, misalnya baik itu dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. 

Semuanya harus sejalan beriringan dalam konteks keIslaman. Allah SWT telah mengatur segala cara manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia melalui Al Qur’an  dan Sunnah-sunnah Rasulullah SAW. 

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan bahwa Islam memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan agama atau peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sebuah sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: (1) Berdasarkan kepada wahyu, (2) Tidak semata-mata merupakan pikiran manusia mengenai alam fisik, dan keterlibatan manusia dalam sejarah, social, politik, dan budaya, (3) Tidak bersumber dari spekulasi filosofis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman inderawi, (4) Mencakup pandangan tentang dunia dan akhirat.

Dan di bawah ini adalah pemaparan singkat mengenai pandangan hidup Islam yang berkaitan dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan.

Pandangan Hidup Islam Dalam Politik
Islam dan politik adalah dua hal yang integral. Oleh karena itu, Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan Negara (baca: kebijakan politik), sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja. Namun, Islam juga mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kedzaliman penguasa.

Maka jika ada yang mengatakan bahwa Islam tidak usah berpolitik, adalah salah besar karena berpolitik  adalah hal yang sangat penting bagi kaum muslimin. Jadi kita harus memahami betapa pentingnya mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syari’at Islam. Terlebih lagi ‘memikirkan/memperhatikan urusan umat Islam’ hukumnya fardhu (wajib).

Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barangsiapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).“

Begitupun  dalam sejarah perjuangan para sahabat, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwasannya agama Islam memang memiliki otoritas terhadap politik. Salah satu yang menjadi bukti sejarah perpolitikan pada masa itu adalah ketika mengangkat seorang khalifah (kepala negara pengganti Rasulullah).

Dalam mengangkat seorang khalifah, para sahabat memberikan syarat kepada khalifah agar memegang teguh Al Quran dan As Sunnah. Karena mereka tahu betul bahwa politik tidak bisa dipisahkan dari agama, sehingga dalam pengangkatan khalifah harus didasarkan pada pertimbangan yang terbaik.

Jadi terbukti bahwa eksistensi politik sudah ada sejak jaman Rasulullah, bahkan jauh sebelum itu politik sudah ada sejak manusia mengenal kata memimpin dan dipimpin.

Pandangan Hidup Islam Dalam Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, secara jelas Islam telah mengatur semua kerangka metode ekonomi manusia, berupa kegiatan perdagangan, sewa, dan perniagaan lainnya sesuai  dengan sumber-sumber hukumnya dari Al Qur’an dan As sunnah. Teori-teori ekonomi yang berlandaskan prinsip syariah, akidah, dan ahlak telah diperlihatkan praktek dan aplikasinya dengan jelas dan gamblang oleh Rasulullah SAW, ketika beliau melakukan transaksi perdagangan ketika muda. Bagaimana telah tergambar dengan indahnya dan berkahnya ketika Rasulullah SAW bertransaksi dengan penuh kejujuran, dan keramahan, serta ketepatan waktu, tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai social, dan tidak semata-mata mencari keuntungan.

Hal ini sesuai dengan nilai-nilai dasar ekonomi Islam, yang terdiri dari nilai keadilan, yaitu tidak berat sebelah, khilafa, yaitu bertannggunngjawab, dan takaful, yaitu tolong-menolong, dan pastinya non ribawi. Adapun prinsip-prinsip ekonomi Islam, yaitu bekerja, kompensasi, efisiensi, profesionalisme, kecukupan, pemerataan kesempatan, persaingan sehat, keseimbangan, solidaritas, dan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

Islam memberikan jalan yang sangat luas bagi manusia dalam mencari penghidupan di dunia, bumi yang dipusakakan oleh Allah SWT ini agar dikelola dengan sebaik-baiknya dan menuai hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Dalam hal perdagangan Allah SWT telah memberikan keterangan dalam sebuah ayat Wa ahllallaahul bai’a wa haraamar ribaa’, dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Maka jelaslah bahwa perdagangan, perniagaan atau jual-beli sangat dianjurkan dan merupakan jalan yang diperintahkan oleh Allah. 
Namun perdagangan juga harus diperhatikan dalam mengimplementasikannya untuk menghindarkan manusia dari jalan yang bathil dalam pertukaran seuatu yang menjadi milik di antara sesama manusia. Allah Swt berfirman:

??? ???????? ????????? ??????? ??? ?????????? ????????????? ?????????? ???????????? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ??????? ????????

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (Q.S. An-Nisa’: 29)

Dalam melakukan perniagaan, Allah SWT  juga telah mengatur adab yang perlu dipatuhi dalam perdagangan, di mana apabila telah datang waktunya untuk beribadah, aktivitas perdangan perlu ditingalkan untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah SWT:

??????? ??????? ????????? ???? ??????? ???????????? ????????? ????????? ???????? ???? ??? ?????? ??????? ?????? ???? ????????? ?????? ???????????? ????????? ?????? ?????????????

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 11)

Dalam melakukan transaksi perdagangan Allah memerintahkan agar manusia melakukan dengan jujur dan Adil. Tata tertib perniagaan ini dijelaskan Allah seperti tercantum dalam Surat Hud 84-85. Demikian pula dalam Surat Al-An’am 152, yang mengatur tentang takaran dan timbangan dalam perniagaan.

“Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)."

Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Pandangan Hidup Islam Dalam Pendidikan
Dasar kehidupan adalah pandangan hidup. Pendidikan mempunyai tujuan yang teramat penting dalam kehidupan, sehingga  tujuannya haruslah diambil dari paandangan hidup. Jika pandangan hidup (philosophy of life) kita adalah Islam, maka tujuan pendidikan kita sebagai umat Islam haruslah diambil dari ajaran Islam, tentu saja sumber mutlaknya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Jadi pendidikan Islam adalah pendidikan yang inti ilmunya berdasarkan dari ajaran Al Qur’an dan model pembelajarannya berasal dari As sunnah Rasulullah SAW. 

Banyak sekali para ilmuwan muslim yang berasal dari abad pertengahan maupun ilmuwan muslim yang berasal dari abad 20 yang mendefinisikan arti pendidikan Islam, baik secara umum maupun secara spesifik. Tetapi pada intinya, tujuan dari pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah SWT. 

Hal ini sesuai dengan pendapat Prof. Abdul Fattah Jalal. Beliau mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Jadi, dalam Islam,  pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah SWT.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya dia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah SWT adalah beribadah kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan yang Allah firmankan dalam surat Ad-Dzaryat, ayat 56:
????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????

 
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Menurut Prof. Ahmad Tafsir, ibadah mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan atau disandarkan kepada Allah SWT. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang dihubungkan dengan Allah SWT. Dalam kerangka inilah, maka tujuan pendidikan Islam haruslah menjadikan umat muslim dan manusia pada umumnya menjadi hamba Allah SWTyang pandai beribadah kepada Allah SWT. 

Secara khusus, Prof. Syed Naquib al-Attas memaparkan konsep dan tujuan pendidikan Islam. Dalam pandangannya,  al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah (lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya. Pemilihan istilah ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas dengan menganalisis dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan pesan-pesan moralnya. Sekalipun istilah tarbiyah dan ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. 

Seperti yang diungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’. 

 Al-Attas melihat bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. 

Konseptualisasinya adalah sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik”.  (HR. Ibn Hibban). Uungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. 

Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas, antara ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. 

Itulah pandangan dan pendapat para ahli tentang bagaimana Islam mengkonsep sebuah pendidikan yang sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan As sunnah Rasulullah SAW. 

Karena itulah, masukkanlah anak-anak kita, pemuda-pemuda Islam calon pemimpin ummat ke lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-lmu keislaman yang baik dan benar, disertai dengan pembelajaran adab yang baik pula, agar kelak mereka menjadi generasi yang berilmu dan beradab yang dapat membangun dan memperkuat sebuah peradaban Islami yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jauhkanlah mereka dari lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan prinsip sekulerisme, liberalisme, dan isme-isme negative lainnya, yang berniat menghancurkan Islam dari dalam itu sendiri.
Wallahu’alam bissowab