Home Hukrim Oknum AKP Polres Jaksel diduga Menipu Ibu Rumah Tangga Alasan Urus Proyek Tanah di Senopati

Oknum AKP Polres Jaksel diduga Menipu Ibu Rumah Tangga Alasan Urus Proyek Tanah di Senopati

175
0
SHARE
Oknum AKP Polres Jaksel diduga Menipu Ibu Rumah Tangga Alasan Urus Proyek Tanah di Senopati

JAKARTA (Parahyangan-post.com) -- Perwira polisi berpangkat AKP diduga menipu ibu rumah tangga dan kini telah tahap penyidikan di Polda Metro Jaya. Noura Maringka selaku korban menjelaskan, kejadian itu dialaminya sekitar pada bulan Februari 2018 lalu. AKP Jefry Djoharam, SE dengan NRP 76940191 Perwira Pertama Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan resmi dilaporkan oleh korban.

Atas perbuatannya tersebut AKP Jefri telah diadukan di Bagian Pelayanan pengaduan Divisi Profesi dan Pengamanan Polri dengan Surat Penerimaan Pengaduan Propam Nomor: SPSP2/1834/VII/2020/BAGYANDUAN, tanggal 14 Juli 2020, dan di Polda Metro Jaya berdasarkan LP. No.4.168/VII/YAN.2.5/ 2020/SPK PMJ, tanggal 17 Juli 2020, atas dugaan Tindak Pidana Penipuan dan atau Penggelapan dan atau Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana Pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP dan atau Pasal 3, 4, 5 UU RI No. 08 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Korban mengatakan, oknum tersebut mengaku pada dirinya sebagai pacar dari putri anak mantan Wakapolri, Komjen Pol (Purn) Syafruddin yang bernama Sasqi. Jefri dalam hal ini dalam pengakuannya ditugaskan untuk mengurus proyek tanah di Jalan Senopati, Jakarta Selatan yang akan dibeli oleh H. Isyam. 

" Berhubung karena masih ada beberapa surat-surat yang perlu diurus, maka ada kebutuhan dana untuk itu. Menurut Jefri dia diperintahkan oleh Bapak Komjen Pol Purnawirawan Syafrudin untuk meminta bantuan saya (korban) mendanai pengurusan surat-surat proyek tersebut sebesar satu milyar rupiah dengan janji akan mengembalikan sebesar dua puluh milyar rupiah dalam jangka waktu satu bulan," terang Noura Maringka, Minggu (25/10/2020). 

Kemudian, tergiur iming-iming akan dikembalikan paling lambat satu bulan, maka pada bulan Maret 2018 korban menyerahkan uang sebesar seratus ribu dolar Singapura kepada Jefri. Disamping seratu ribu dolar Singapura, Jefri juga minta ditransfer ke rekening dia dan isterinya secara bertahap sebesar Rp 380.700.000,-. (tiga ratus delapan puluh juta tujuh ratus ribu rupiah).

Setelah satu tahun tidak ada kejelasan tentang pengembalian uangnya, Noura pada bulan Maret 2019 bersama suami mengajak Jefri untuk menghadap Komjen Pol. Purn. Syafrudin di kantor Kemenpan RB tak lain untuk mengkonfirmasi tentang kebenaran proyek tanah di Jalan Senopati tersebut. 

" Ternyata pada pertemuan tersebut, Bapak Komjen Pol. Purn. Syafrudin mengaku tidak kenal dengan AKP Jefry dan tidak tahu sama sekali tentang proyek tanah dimaksud itu," ungkapnya. 

Noura Maringka menambah, setelah mendapat keterangan dari Komjen Pol Purn. Syafrudin tersebut, dia melakukan konfirmasi kepada ahli waris tanah di Jalan Senopati. Dari informasi ahli waris, didapat keterangan bahwa mereka tidak kenal, tidak punya hubungan dan tidak pernah ada meminta uang atau menerima uang dari Jefri untuk biaya pengurusan surat-surat tanah.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Noura juga meminta penjelasan dari AKP Jefry, walaupun awalnya dia menyangkalnya, bertele-tele, dan berbelit-belit. Namun akhirnya dia mengakui bahwa dia memang tidak kenal dengan Komjen Pol (Purn) Syafrudin, dan bukan juga pacar anaknya.

" Jefri mengakui bahwa semua uang yang diterima dari saya (Noura) tidak digunakan untuk biaya pengurusan surat-surat tanah sebagaimana disampaikannya. Tetapi uang-uang tersebut dipergunakan untuk membiayai keperluan pribadi dia dan keluarga, seperti membeli mobil, membeli tanah dan membangun rumah di kampung isterinya di Lampung," terang korban. 

Saat ini perkara pelanggaran Kode Etik yang ditangani Subbidwabprof Bidpropam Polda Metro Jaya maupun Perkara Tindak Pidana yang ditangani Unit 2 Subdit. Indag Krimsus Polda Metro Jaya telah dalam tahap Penyidikan dan Penetapan Tersangka. Akibat perbuatan oknum ini korban menderita kerugian lebih dari Rp.1.380.700.000,- .

(didi/pp)