Home Nusantara NUANSA MALAM DI KOTA PAYAHKUMBUH

NUANSA MALAM DI KOTA PAYAHKUMBUH

381
0
SHARE
NUANSA MALAM DI KOTA PAYAHKUMBUH

PADANG, SUMATERA BARAT (Parahyangan-Post.com) - Kalau yg kita ketahui soal Padang dengan ceritera sang Malin Kundang anak durhaka yg dikutuk ibunya menjadi batu, kini sosok batu yg memang mirip dgn manusia sedang meratapi penyesalan itu terbaring dipantai air manis kota Padang.

Atau ceritera ironi sang Datuk Maringgih yang menikahi seorang anak gadis bernama Siti Nurbaya, pernikahan yang dilakukan dengan paksaan menggunakan otoritas serta fasilitas seorang tokoh penguasa kaya. 

Serta sebuah teluk di semenanjung Pulau Sumatera tiba tiba menjadi terkenal karena dinyanyikan seorang biduanita era tahun 70 an Erni Djohan, dengan lagunya Teluk Bayur. 

Dalam perjalanan menelusuri sisi sisi budaya, etnologi, serta kuliner di bagian Propinsi Sumatera Barat ini, saya dan istri berkesempatan mengunjungi seorang kawan lama yang bermukim di kota Payahkumbuah yang sedikit lagi pada saat tulisan ini dibuat berbatasan dengan Pakanbaru, kota yang saat ini dipenuhi asap kabut akibat kebakaran hutan yang terjadi disana, hingga asapnya berimbas sampai di kota Payahkumbuah. 

Dalam kendaraan yang menjemput saya dan istri sejak turun di Bandara Minangkabau Padang, selama hampir nyaris 3,5 jam, Topan sang pengemudi berceritera tentang berbagai hal
  unik terkait tempat tempat yang kami lalui. Selama perjalanan itu, banyak tempat yang menjadi ikon dan menjadi legendaris kota Padang sebagai pusatnya ibukota dari Sumbar ini. 

Memasuki Lembah Anai hari menjelang sore, hujan rintik mengiringi perjalanan, di sisi kiri dan kanan banyak menawarkan suasana pariwisata hiburan air dengan menampilkan kolam renang dengan segala bentuk pernak perniknya, khas dengan sentuhan rumah gadang dengan kerucut nya mirip rumah tongkonan di Tana Toraja. 

Sisi kiri menuju kota Payahkumbuah terlihat kerumunan kera ekor panjang dalam koloni kecil gank kelompok mereka yang turun gunung akibat kemarau panjang. Gunung tempat mereka tinggal sudah tidak mempunyai stock makanan, mengakibatkan mereka bergerombol turun ditepi jalan, mirip para pengemis ibukota dimusim lebaran. Lewati lembah anai, kiri kanan jalan banyak pedagang buah durian yang mulai menjajakan dagangannya.  

"Hmmm.. durian dikota ini sudah mulai sampai pada musimnya, walaupun baru permulaan," kata Topan sang pengemudi. 

Mestinya jalan bisa melewati kota Bukit
  Tinggi dengan ikon Jam Gadangnya yang fenomenal, tetapi driver kami meminta ijin untuk mengambil jalan pintas supaya cepat sampai di kota Payahkumbuah. Jadilah mobil kami melintasi jalan kanan kiri dengan hamparan padi di sawah yang hampir panen, air gunung yang melimpah rupanya masih cukup mengairi lahan persawahan disana. 

Dalam perjalanan mendekati kota tujuan, saya menawari Topan untuk rehat sejenak untuk mampir mencari secangkir kopi supaya tidak ngantuk. Tiba tiba sang pengemudi mengucapkan minuman khas kota Payahkumbuh yaitu kawa kopi, minuman yang dibuat dari daun kopi yang diasap dikeringkan mirip daun teh itu. 

Ingatan saya langsung menerawang ke pengetahuan tentang informasi apa dan mengapa kopi dari daun kopi yang bernama kawa ini dihidupkan kembali. Sekedar nostalgia kah? 

Konon dijaman penjajahan kolonial Belanda, para pribumi Indonesia dipaksa untuk menanam kopi di kebun kebun perkebunan kopi oleh para Belanda, para pekerja rakyat Indonesia itu yang dipekerjakan di onderneming perkebunan kopi hanya bisa melihat biji kopi hasil panenan mereka ke gudang milik kolonial Belanda, lalu biji kopi itu di angkut dan dijual ke kawasan Eropa oleh Belanda sebagai dagangan mewah minuman para bangsawan bangsawan Eropa kala itu.

Para inlander pribumi tidak kehilangan akal, mereka menciptakan minuman kopi dari daun kopi itu sendiri. Yang dinamakan minuman Kawa Kopi khas dari Payahkumbuah yang memang tanah dan ketinggian nya memungkinkan untuk kopi tumbuh subur disini.

 

 (Imansyah HR/PP)