Home Opini Mungkinkah Kugapai Cinta Mu (Allah)?

Mungkinkah Kugapai Cinta Mu (Allah)?

Oleh: Diana Bakti Siregar

378
0
SHARE
Mungkinkah Kugapai Cinta Mu (Allah)?

Keterangan Gambar : Diana Bakti Siregar

Mungkinkah Kugapai Cinta Mu (Allah)?

Oleh:  Diana Bakti Siregar

Ada sebuah hadits Rosululloh saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang memusuhi wali-Ku (orang-orang yang Ku cintai, hamba-hamba-Ku, orang-orang yang cinta kepadaKu, orang-orang yang taat kepadaKu, orang-orang yang tunduk di hadapan-Ku, dalam ibadah, dalam ruku’, dalam sujud, dalam amal sholehnya), maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Aku. Aku umumkan perang terhadapnya.” Itu kata Allah.

Orang-orang yang dicintai Allah di muka bumi ini banyak. Dulu kita kenal para aulia, para ambiya, para Rosul, itulah orang-orang yang dicintai Allah, merekalah orang yang mencintai Allah, orang-orang yang taat dan patuh pada Allah dan Rosul-Nya, mereka dekat pada Allah.

Selanjutnya, orang-orang yang dicintai Allah adalah orang-orang yang dekat pada Rosul, pada para sahabatnya, orang-orang yang menjadi pengikut para Rosul, para tabi’in. Orang-orang itu ada sampai hari ini. Mereka mengikuti jejak Rosululloh, mereka mengikuti jejak para sahabat Nabi, merekalah para aulia, para ulama, orang-orang yang sholeh, orang-orang yang dekat dengan Allah, yang taat pada Allah.

Orang-orang itu sampai hari ini masih hidup, masih ada di tengah-tengah kita. Mereka menunjukkan bagaimana hubungan baik mereka dengan Allah.  Mereka tidak melakukan kejahatan, mereka tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran, mereka jalani agama mereka dengan kepatuhan yang total, kepatuhan yang maksimal.

Orang-orang ini adalah orang-orang yang dianggap Allah, aulia, orang-orang yang dicintai Allah Ta'ala, orang-orang yang diawasi Allah, yang dirahmati Allah.

Orang-orang seperti ini, kalau mereka mengangkat tangan memohon doa kepada Allah SWT, maka dengan gampang Allah akan terima doanya. Apapun yang mereka minta.

Orang-orang ini adalah orang-orang yang istimewa di hadapan Allah ta’ala, nggak sembarangan. Di negeri ini mereka ada, di luar negeri ini juga ada. Allah sebut mereka dengan istilah aulia, para wali-wali-Nya di muka bumi ini. Dan sebutan aulia, para wali-wali ini di mata Allah swt, cirinya adalah hidup mereka tidak ada rasa takut sama sekali kecuali kepada Allah, hidup mereka tidak ada rasa sedih sama sekali untuk urusan dunia. Mereka jalani hidup ini penuh rasa tawakkal, penuh keberserahannya kepada Allah, penuh rasa keyakinannya kepada Allah swt. Ini para aulia. Mereka tidak ada rasa takut, mereka tidak ada rasa sedih.

Meski ada yang memusuhi mereka, mereka jalani saja hidup ini. Ada yang membenci mereka, mereka jalani saja hidup ini. Ada yang mengusir mereka, menyingkirkan mereka, mereka jalani saja hidup ini. Biasa saja. Para Rosul itu, seperti itu. Para ambiya itu seperti itu. Disingkirkan, diusir, dibuang jauh, mau dibunuh, mau dilakukan perbuatan-perbuatan jahat, difitnah, diejek, dituduh bermacam-macam tuduhan, para Rosul dan para ambiya itu, menjalani saja hidup ini dengan tenang, tak ada rasa takut sedikitpun dan tak ada rasa sedih dengan perlakuan-perlakuan jahat dari manusia-manusia itu.

Dia tau Allah akan membelanya.

Dia tau Allah akan menjaganya.

Dia tau Allah akan memenangkannya.

Dia tau Allah akan terus mengangkat derajatnya.

Dan kalau Allah sudah menyatakan diri akan memerangi orang-orang yang memusuhi aulia-Nya, orang-orang yang dekat denganNya, orang-orang yang taat padaNya, orang-orang mukminun, siapa yang bisa menang dalam peperangan dengan Allah?

Tentunya Allah yang akan menang. Dan Allah akan memenangkan para aulia itu. Kita bisa melihatnya dari fakta sejarah.

Kita tentu pingin tau, apa sih sebenarnya ciri-ciri seorang yang dianggap wali itu?

Ciri-cirinya adalah ketakwaan dan keimanan. Imannya kepada Allah yang begitu mendalam, dan ketaqwaannya kepada Allah yang begitu tulus dan begitu besar di hadapan Allah swt. Tidak sembarangan orang bisa mengaku dirinya wali. Itu bukan pengakuan diri pribadi. Itu adalah predikat tertentu yang Allah berikan padanya.

Dan orang-orang seperti ini nggak mudah kita kenali, kecuali kalau kita melihat perilakunya sehari-hari nampak seperti itu. Keimanannya dan ketakwaannya yang mendalam terlihat dalam kehidupannya sehari-hari.

Kalau kita ingin tau apakah orang itu wali, lihat bagaimana perilakunya, bagaimana tindak tanduk hidupnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana ibadahnya, bagaimana ketaqwaannya pada Allah. Dan bagaimana keimanannya, itu fungsi yang paling utama.

Kalau kita sudah menemukan orang yang seperti ini, kita pantas untuk menjadikan dia contoh, teladan, role model.

Dan yang penting kita ingat, kata Allah,”Siapa yang memusuhi wali-wali-Ku, aulia-aulia-Ku maka Aku nyatakan kepadanya, bahwa dia sedang berhadapan denganKu, berperang denganku.”

Selanjutnya dikatakan di hadits Qudsi tersebut,”Siapa-siapa yang mau mendekatkan dirinya kepadaKu, dengan apapun caranya ingin mendekatkan dirinya kepadaKu, maka yang paling baik dari caranya mendekatkan dirinya kepadaKu itu adalah, dia melaksanakan perintah-perintahKu.”

Kita ingin dekat kepada Allah.

Kita ingin Allah mencintai kita.

Kita ingin Allah memperhatikan kita. Kita ingin Allah sayangi kita.

Kita ingin Allah jagakan kita.

Apa yang harus kita lakukan?

Kata Allah dalam hadits qudsinya,”Laksanakan perintah-perintah wajib-Ku itu, amalkan! Jadikan sebagai perbuatan harianmu, kalau itu menjadi kewajibanmu, jangan kau tinggalkan sedikitpun. Ibadahmu ada yang wajib, laksanakan ibadah wajibmu itu, laksanakan dengan sesungguhnya dengan setulusnya. Muamalatmu ada yang wajib terhadap manusia. Laksanakan itu! Jangan tinggalkan sedikitpun. Ketaatanmu pada orang tuamu, baktimu, itu perkara yang wajib. Maka laksanakan ketaatanmu itu. Silaturahmimu itu adalah wajib. Maka laksanakan silaturahmimu itu.”

“Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan ia melakukan hal yang Aku wajibkan terhadapnya.” kata Allah. “Karena Aku sangat cinta, sangat sayang pada orang melaksankan semua tanggung jawab dan kewajibannya, aku sangat menyayanginya.”

Kalau Allah sayang, Allah cinta, maka Allah akan memberikan padanya semua yang dia minta. Karena orang itu, sudah tau diri, sudah mampu menempatkan dirinya di hadapan Allah, sadar bahwa Allah menginginkan dia tunduk pada semua kewajiban, tunduk pada semua fardhu-fardhu, untuk urusan ibadah, atau urusan muamalah terhadap manusia.

Kemudian Allah berfirman lagi yang artinya,”Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah (nafilah) kecuali Aku mencintainya.”

Amal ibadah kita ini ada yang sunnah, ada yang wajib. “Dan kalau yang sunnah-sunnah ini dilakukan dengan serius, dengan sungguh-sungguh, dengan tulus ikhlas, maka orang ini sedang membangun cintanya padaKu. Aku akan tambah mencintainya, selagi dia menambah amal-amal fardhunya dengan amal-amal sunnahnya,” kata Allah lagi.

Sunnah dalam ibadah, sunnah dalam muamalah, terus lakukan yang kita mampu. Ada sunnat muaqadah dalam sholat fardu misalnya, sebelum dan sesudah sholat fardhu, ada tahajjud, ada sunnat fajar, itu ibadah kita. Kalau kita lakukan itu, berarti kita sedang membangun cinta Allah pada kita, kita sedang menggiring cinta Allah untuk kita, meminta cinta Allah untuk kita.

Melaksanakan amal-amal nawafil, amal sunnah dalam hidup ini, sehingga Allah akan terus mencintai kita.

Kata Allah selanjutnya dalam hadits Qudsi ini,”Jika Aku sudah mencintainya dengan sikapnya tadi dalam urusan yang wajib dan dalam urusan yang sunnah, Aku adalah (yang menolong) pendengarannya saat ia mendengar.”

Telinganya akan Allah jaga. Nggak Allah biarkan telinganya mendengar perkara-perkara yang jelek. Nggak! Pendengarannya hanya akan mendengar yang baik. Nggak mau mendengar yang buruk yang mendatangkan dosa. Karena Allah menjaganya.

"Dan Aku akan menjaga penglihatannya saat ia melihat."

Jadi kalau dia melihatpun, hanya melihatnya pada yang baik, nggak mau melihat yang buruk. Allah akan rawat matanya, pandangannya. Allah akan arahkan matanya, pandangannya. Allah akan sempurnakan pandangan matanya.

Terjagalah mata, terjagalah telinga.

“Dan aku akan menjadi tangannya yang dia akan berbuat.” Tangan kita dijaga oleh Allah, kemana tangan berbuat, kemana tangan berlaku, kemana tangan bertindak, Allah akan kawal tangan ini, Allah akan jaga tangan ini, Allah akan ridhoi tangan ini, Allah nggak akan biarkan tangan ini sekehendak-kehendaknya saja berbuat, melakukan tindakan-tindakan dosa.

“Dan kakinya saat ia melangkah.” Setiap langkahnya adalah langkah yang baik, setiap langkahnya adalah langkah yang diridhoi Allah, setiap langkahnya adalah langkah yang mendatangkan pahala untuk dirinya sendiri karena Allah yang menggerakkan langkah itu. Nggak ada langkah-langkahnya yang menuju ke arah dosa, nggak ada langkah-langkahnya yang mendatangkan murka Allah, nggak ada langkah-langkahnya yang mengarah ke sana.

“Lalu, Aku berjanji jika ia meminta kepadaKu, sungguh Aku akan memberikannya.”

“Kalau dia berlindung padaku, Aku janji Aku akan jaga dia, Aku akan lindungi dia.” Itu kata Allah.

Jadi, perlakuan kita, perbuatan kita, amal ibadah kita yang fardhu dan yang sunnah ini, adalah modal kita untuk menggapai cinta Allah. Untuk menggapai perawatan Allah, pengawasan Allah, cintanya Allah kepada kita. Dan menjadikan harapan-harapan kita diwujudkan oleh Allah.

Apa harapan kita yang baik, kita tentu tau itu. Allah janji akan memberikannya kepada kita. Permintaan kita untuk dilindungi oleh Allah, Allah janjikan akan melindungi kita.***

Referensi : Habib Ahmad Almunawar (semoga Allah melimpahi guruku dengan rahmat-Nya)