Home Agama Menuai keberkahan dalam keyakinan

Menuai keberkahan dalam keyakinan

#Serial kehidupan# Bagian ke empat.

224
0
SHARE
Menuai keberkahan dalam keyakinan

Oleh: Abdan Lillaahil Ahad. *)

Kita telah banyak menyaksikan sejarah yang bertumpah ruah menghiasi langit  negrinya. Dilangit sejarah itu selalu saja ada bintang-bintang yang terang. Walaupun tetap tidak mampu menerangi gelapnya langit malam.

Begitu juga dengan cerita orang-orang unggulan. Tidak banyak jumlanya. Tapi mereka terlihat dan dikenal. Karena jumlah pahlawan selalu lebih sedikit dari pada orang biasa. 
Kita sering kali mengambil contoh sejarah dari seorang yang begitu perkasa dengan keyakinannya, bahwa Tuhannya  bukanlah berhala yang lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa itu. Dialah Ibrahim sang nabi. Keyakinannya terhadap Tuhan yang maha kuat itu telah menjadikan api yang panas tidak bisa menghanguskannya dengan seizin tuhannya. 
Bahkan berubah menjadi dingin.(QS.al anbiya 69).

Begitu juga ketika beliau meninggalkan bayinya dilembah yang tidak bisa ditumbuhi apapun. Jauh dari peradaban manusia. Dia tinggalkan juga istri yang sangat dia cintai. Dia tidak punya pilihan apapun. Pilihanya hanyalah meninggalkan mereka dilembah yang tak bertuan itu. Disamping rumah Allah yang dimuliakan(ka'bah), (QS.ibrahim37).
 
Selebihnya adalah keyakinan tanpa catatan dan hitungan yang tak pernah terlawan. Istri yang shalehah itu bertanya berkali-kali pada suaminya yang seakan gila karna mau meninggalkan mereka berdua tanpa apapun di lembah yang tandus dan panas.  Pertanyaan istri shalehah itu begini "mengapa engkau meninggalkan kami di tempat ini"?   Berkali-kali pertanyaan itu di ulang, berkali-kali itu juga Ibrahim tidak mampu menjawab dan hanya diam. Tapi kemudian pertanyaan istri shalehah itu berubah. Dan pertanyaan terakhir itu begitu cerdas.
 
"Apakah ini perintah Allah? Kalau memang ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami di sini."  Ibrahim gembira dengan pertanyaan cerdas itu.  
Dan dia menjawab : "iya. Ini adalah perintah Allah"

Itulah keajaiban dari sebuah keyakinan. Yang dampaknya baru akan di petik setelah puluhan tahun,  ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun yang akan datang. 
Bahwa merekalah pemeran utama dalam panggung sejarah itu. (QS.ibrahim 37).  

Keyakinan itu lahir dari keimanan yang dalam. Dari keyakinan itu lahirlah lagi makhluk yang lain yaitu tekad. Atau yang sering kita sebut dengan azzam. Dari azzam yang kuat itulah lahirnya gerakan yang tiada henti. Yang akhirnya menjadi keajaiban yang terukir dilangit sejarah. 

Mungkin anda terkagum-kagum dan kadang menangis terharu dan mengharu biru ketika membaca atau mendengar kisah perjuangan manusia unggulan itu. Tapi itu sesungguhnya adalah kesalahan besar dalam memahami sejarah. Bahwa sejarah para pahlawan itu bukan hanya untuk dikagumi.

Tapi untuk diikuti dan di teladani. Itu sebabnya Alquran tidak mencatat waktu terjadinya sejarah itu. Agar supaya sejarah itu mengabadi dan selalu terasa dekat. Sampai kehidupan ini berakhir. Nah begitu juga dengan pekerjaan yang sedang anda lakukan saat ini. Jam ini. Dan detik ini. Percayalah bahwa itu semua mempunyai nilai keberkahan jika anda melakukanya dengan keyakinan bahwa ini adalah perintah dari Allah. Bahwa puasa dan shalat ini adalah perintah Allah. Bahwa do'a yang kita panjatkan setiap hari juga adalah perintah Allah.
 
Sehingga do'a dan shalat tidak kehilangan makna akhiratnya. Karna sekarang orang berdoa lebih banyak  meminta kejayaan dunia. Rizki yang lancar. Pekerjaan yang bagus dan kendaraan yang mewah. Hanya sedikit saja yang menyampaikan hajat akhiratnya berupa pengampunan dosa dan syurga. Pelaku dari do'a tersebut hanya menginginkan terpelihara dari kutukan rakyat yang mereka zhalimi. Atau rekan bisnis yang mereka bohongi. Atau guru-guru yang selalu menzhalimi murid-muridnya melalui korupsi waktu. Dan murid-murid yang lugu itu merasa sangat senang dibohongi dengan guru seperti itu. Bahkan kadang guru itu menjadi guru favorite mereka semua. Kalau begini adanya, maka apakah alasan Allah untuk menurunkan keberkahan. Karena makna berkah adalah pertumbuhan dan pertambahan.
 
Berkah bisa terjadi pada waktu, ilmu, harta dan usia. Semua karya yang fenomenal juga dilatar belakangi oleh keberkahan. Dengan segala bentuknya. Nah keyakinan terhadap perintah yang agung itulah yang niscaya akan membawa keberkahan. 

Bukan hanya sesaat. Tapi berkah itu juga akan dirasakan orang lain. Bahkan seluruh alam ini. Bukan menjadikan perintah sebagai penggugur dosa dan kewajiban. Kewajibanmu memang selesai disitu. Tapi kau tidak mendapatkan dampak keberkahan yang pahalanya mengalir walaupun kau sudah menjadi tulang belulang.

Sekarang maukah anda menjadi manusia unggulan itu? Atau anda ingin menjadi pengagum manusia unggulan itu. Dua-duanya tidak salah. Tapi masing masing mempunyai nilai yang berbeda satu sama lain. Silakan anda pilih. Menjadi pengagum yang setia? Atau menjadi manusia unggulan. Menjadi pengagum yang setia tidak perlu membuang banyak waktu, harta dan  tenaga. 

Tapi menjadi manusia unggulan, ada banyak pajak yang harus di bayar. Selain waktu, harta, tenaga dan keringat, masih adalagi yaitu air mata dan cinta. Ramadhanlah waktu yang tepat untuk mewujudkan cita-cita manusia unggulan itu. Sebab manusia unggulan bukan hanya satu. Tapi siapapun berhak menjadi bintang dilangit sejarah. Termasuk juga anda.

Wallahu a'lamu..

*) Abdan Lillahahil Ahad, Adalah ustadz lulusan S1 Libya dan S2 Jordania, disamping ketua Yayasan Semesta Al Quran yang mengelola Pesantren Tahfidzul Quran 30 juzz.
Di Jakarta dan Tanjungsari Bogor.