Home Opini Menikmati Ketidakpastian

Menikmati Ketidakpastian

40
0
SHARE
Menikmati Ketidakpastian

Oleh: H. J. Faisal 
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor 

SUATU - Saat di siang hari yang panas, saya sedang mengendarai motor saya, menuju ke sebuah rumah makan padang langganan saya. Di dalam pikiran saya waktu itu, saya akan makan rendang daging kesukaan saya. Terbayang sudah rendang daging yang nikmat di kepala saya di sepanjang perjalanan saya.

Singkat cerita, sampailah saya di rumah makan padang kesukaan saya tersebut. Tetapi, apa yang terjadi, ternyata  rendang daging kesukaan saya tersebut sudah habis, ludes terjual. Dengan tenang dan penuh senyum, si uda pelayan berkata kepada saya, “Sudah habis pak rendangnya…yang lain sajo ya.” Ya sudah, apa boleh buat, akhirnya saya memilih lauk yang lain untuk makan siang saya. Meskipun bukan rendang daging, tidak apa-apalah, saya masih bisa makan lauk yang lain. Toh semua lauknya juga rasanya enak-enak di rumah makan ini, pikir saya waktu itu.

Hari inipun, sebuah ketidakpastian saya alami kembali. Saya sudah janji untuk bertemu dengan salahseorang sahabat baik saya di daerah Bogor siang ini. Tetapi tiba-tiba, sahabat saya memberi pesan kepada saya bahwasannya beliau tidak bisa menemui saya siang ini, karena beliau merasa tidak enak badan, dan mereschedule janji temu kita kembali di lain waktu. Jadi curcol (curhat colongan).

Jadi, jika kita renungkan, sebenarnya masih banyak lagi hal-hal ketidakpastian yang kita pernah alami di dalam kehidupan ini, bukan hanya tidak jadi makan rendang karena kehabisan, karena memang  hidup itu sendiri bagi manusia penuh dengan ketidakpastian.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, bahkan semenit kemudian pun kita tidak akan pernah tahu. Ada yang sudah berjerih payah mati-matian, tetapi hasil yang diperoleh sangatlah tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan. Ada yang sudah 99% yakin sukses, ternyata yang 1% lah yang terjadi. Semua sudah direncanakan sejak jauh hari, tetapi justru pada hari H terjadi sesuatu yang membuat semua rencana menjadi tidak terlaksana.

Begitupun dengan bencana pademik Covid-19 ini, misalnya. Banyak orang yang sudah merencanakan ini dan itu di tahun 2020 kemarin, tetapi semua rencana tersebut menjadi buyar dikarenakan adanya wabah penyakit yang mematikan tersebut di seluruh dunia.

Memang ketidakpastian yang  seringkali terjadi dalam kehidupan kita bukanlah sepenuhnya karena salah di kita,  tetapi ada faktor-faktor lain di luar kita, seperti faktor takdir dan faktor keberuntungan misalnya.

Kehidupan rumahtangga kita, kehidupan dunia pekerjaan kita, bermasyarakat, bahkan sampai kehidupan kita dalam bernegara sekalipun sangat sarat dengan ketidakpastian. Tetapi, terlepas dari semua faktor-faktor di atas, seperti faktor nasib, keberuntungan, atau bahkan takdir sekalipun, mengapa tidak kita nikmati saja segala macam ketidakpastian di dalam kehidupan kita ini. Artinya, jika memang kita tidak mendapatkan apa yang kita semula inginkan, kita masih bisa menikmati hal lainnya yang memang bisa kita nikmati saat itu juga, atau kita bisa menunggu sampai apa yang kita inginkan tersedia. Dengan kata lain, masih banyak hal yang masih bisa kita syukuri keberadaannya.

 

Tawakal

Kehidupan sendiri pada dasarnya adalah sebuh ketidakpastian. Mengapa demikian? Karena manusia hanya diwajibkan untuk mengusahakan sesuatu, tetapi tidak diwajibkan untuk berhasil. Hasil sepenuhnya ada di tangan Allah Subhannahu wata’alla. Inilah yang disebut dengan tawakal.

Di dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan. Oleh karena itulah, maka ketenangan hati akan sangat mudah didapatkan dalam menghadapi segala macam ketidakpastian di dalam hidup ini, dengan bertwakal.

Tetapi sebenarnya, masih banyak orang yang salah memahami dan menempatkan arti tawakal yang sesungguhnya. Sehingga tatkala kita mengingatkan mereka tentang pentingnya tawakal yang benar dalam kehidupan manusia, tidak jarang ada yang menanggapinya dengan ucapan: “Iya, tapi kan bukan cuma tawakal yng harus diperbaiki, usaha yang maksimal juga harus terus dilakukan!”.

Ucapan di atas sepintas tidak salah, akan tetapi kalau kita amati dengan seksama, kita akan dapati bahwa ucapan tersebut menunjukkan kesalahpahaman banyak orang tentang makna dan kedudukan tawakal yang sesungguhnya. Karena ucapan di atas terkesan memisahakan antara tawakal dan usaha. Padahal, menurut penjelasan para ulama, tawakal adalah bagian dari usaha, bahkan usaha yang paling utama untuk meraih keberhasilan. Allah Subhannahu wata’alla berfirman  di dalam Al Qur’anul karim, surat At Thalaaq, ayat 2 dan 3, yang artinya:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya”.(QSath-Thalaaq:2-3).

Artinya, barangsiapa yang percaya kepada Allah dalam menyerahkan (semua) urusan kepada-Nya maka Dia akan mencukupi (segala) keperluannya. Maka tawakal yang benar, merupakan sebab utama berhasilnya usaha seorang hamba, baik dalam urusan dunia maupun agama, bahkan sebab kemudahan dari Allah Ta’ala bagi hamba tersebut untuk meraih segala kebaikan dan perlindungan dari segala keburukan.

Jadi, ketidakpastian pasti dan boleh saja terjadi di dalam kehidupan kita, tetapi tidak alasan bagi kita umat muslim yang beriman untuk menghindar dari ketidakpastian. Karena ketidakpastian merupakan sebuah keniscayaan yang harus kita hadapi.

Selamat menikmati segala ketidakpastian kehidupan dengan bertawakal. Masih banyak hal yang bisa dan wajib kita syukuri. Tidak ada rendang daging, masih ada ayam bakar, gulai cincang, dan gulai tunjang.

Wallahu’alam bissowab

Jakarta, 6 Mei 2021