Home Opini Menggugat Tuhan

Menggugat Tuhan

Oleh Ismail Lutan

233
0
SHARE
Menggugat Tuhan

Keterangan Gambar : Screenshot kolom Ismail Lutan di Tabloid Eyang Agung Edisi 293/Februari 2020, hal 2

Boleh jadi banjir dan tanah longsor akibat hujan deras di tahun baru 2020 sebagai bencana besar. Karena skala dan kerusakan yang ditimbulkannya memang luas. Ada juga korban jiwa. Diantaranya mak-mak, nenek-nenek dan juga anak yang masih belia.

Tetapi ada bencana yang lebih besar lagi sesudahnya. Yaitu kebiasan masyarakat, pejabat, pemimpin  dan orang-orang yang ingin menjadi pemimpin untuk saling menyalahkan.

Seolah-olah bencana itu datangnya  dari orang yang disalahkan. Bukan  dari Tuhan Sang Pencipta, Tuhan yang Maha Kuasa.

Di Jakarta gubernurnya saling menyalahkan dengan menteri PUPR. Ada klaim bencana meluas, kerusakan membesar karena revitalisasi Sungai Ciliwung tak rampung-rampung.

Kemudian ada juga counter. Di aliran  Ciliwung yang sudah direvitaslisasi, yang dindingnya sudah  dibeton tinggi,  ternyata  banjir masih tumpah ruah ke rumah-rumah penduduk. Artinya –dengan bahasa pasar- biaya triliunan rupiah yang dikucurkan untuk normalisasi Ciliwung kagak punya hasil.

Yang lebih cilaka lagi. Ada sekelompok orang menggugat Gubernur karena dianggap tak mampu menolak hujan sehingga banjir datang, dan Jakarta terendam. Yang menuntut dan disertai demo itu sebagian kecil memang korban banjir, sebagian lagi rumahnya tak tersentuh banjir. Bahkan malah tak tinggal di kota yang gubernurnya digugat itu

Tuntutannya pun gak tanggung-tanggung.  42 miliar rupiah! Dan itu uang semua. lho… bukan uang-uangan!

Aneh bin ajaib,  hujan yang menyebabkan banjir kok gubernurnya digugat?

Kenapa mereka tidak menggugat Tuhan saja sekalian?

Karena kalau gugatan di alamatkan kepada Tuhan, pasti jelas arahnya. Karena orang beragama yakin (kalau para penggugat itu beragama)  bahwa setiap bencana apa pun yang terjadi  datangnya pasti dari Tuhan. Bahkan tidak akan gugur sehelai daun pun kecuali telah tertulis di kitab yang tebal, Lauh Mahfudz.  (terjemahan  al-Quran surat Al An Am, ayat 59).

Gubernur jelas tidak bisa mendatangkan atau menolak hujan yang menyebabkan banjir itu. Meskipun gubernurnya  pawang hujan sekalipun. Lah kog dia yang digugat?

*

Beberapa tahun lalu penulis mempunyai teman yang punya rumah di bantarang kali Ciliwung, tepatnya tidakjauh dari jembatan Kalibata arah hilir. Tiap tahun rumahnya selalu kebanjiran. Setahun bisa 3-4 bulan rumahnya kerendam.

Penulis pernah bertanya kepadanya. Kenapa tidak pindah ke tempat yang lebih aman dan menjual rumah itu.

Apa jawab teman itu?

“Ogah ahhh..”

Kenapa tidak mau? Ternyata rumahnya yang kebanjiran itu adalah lahan  penghasilannya yang lumayan.

Lah kok bisa begitu?

Ini ceritanya…Sebelum musim hujan dan banjir pasti ada yang ngontrak di lantai bawah rumahnya. Sementara dia di lantai atas. Pengontrak itu  adalah orang-orang yang  datang dari pinggiran Jakarta. Dan mereka dikordinir oleh LSM abal-abal.

Ah masa?

“Iya,” jawab teman saya itu polos.

Mereka hanya ngontrak untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. Karena pemerintah pasti menjamin mereka selama tempat tinggalnya  kerendam. Selain itu mereka juga akan mendapat sumbangan dari perusahaan besar dan  pihak-pihak lain yang peduli.

Makanya, kata kawan itu lagi, kalau banjir datang yang paling kencang berteriak di  koran yang mengklaim  “korban  tidak diperhatikan, korban ditelantarkan,  korban tidak mendapat bantuan”  adalah kaki-tangan LSM abal-abal itu.

Oooalahhh… gitu rupanya.***