Home Opini MENGAJAR ATAU MENDIDIK?

MENGAJAR ATAU MENDIDIK?

155
0
SHARE
MENGAJAR ATAU MENDIDIK?

Keterangan Gambar : J. Faisal

Oleh : H. J. FAISAL S.L
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral UIKA Bogor.

Sudah banyak tulisan dan pencerahan mengenai apa itu arti dan definisi dari pengajaran atau mengajar dan arti dari mendidik atau pendidikan.

Para ahli pendidikan juga sudah banyak yang mengungkapkan perbedaan yang hakiki dari pengajaran dan pendidikan.

Kali ini, saya juga akan mencoba untuk melihat dua perbedaan itu, dikaitkan dengan keadaan pengajaran dan pendidikan di masa pandemi ini, yang entah kapan berakhirnya.

Menurut Prof. Dr. Sidek Baba, seorang ahli pendidikan dari Malaysia, mengartikan pendidikan adalah sebuah proses transfer dan transformasi. Jika demikian, maka pertanyaan yang timbul adalah,  apakah yang dimaksud dengan proses transfer tersebut, dan apakah pula yang ditransformasi?

Proses transfer yang dimaksud dalam pendidikan adalah sebuah proses pemberian ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada murid-muridnya. Caranya melalui sistem, model dan metode pengajaran, yang umum disebut dengan proses pedagogi. Tentu saja proses ini memerlukan skill atau ketrampilan khusus dari seorang guru, agar maksud dan tujuan dari pengajaran ilmu pengetahuan tersebut, dapat tersampaikan dengan baik. 

Sedangkan proses transformasi yang dimaksud adalah sebuah proses merubah mental, fikiran, dan kejiwaan para murid-muridnya untuk menjadi lebih baik dan mempunyai akhlak yang lebih mulia. Proses transformasi ini tidak bisa dilakukan dalam sekejap saja, seperti proses transfer pengetahuan di atas. 

Proses ini memerlukan waktu yang lebih lama, dengan pertemuan yang lebih intens antara guru dengan murid-muridnya. Nasihat dan keteladanan dari sang guru merupakan kunci utama keberhasilan proses transformasi ini. Bahkan Prof. Naquib Al Attas menyamakan proses transformasi pendidikan ini dengan proses peningkatan kualitas adab dan akhlak.

Kemudian, bagaimana jika dihubungkan dengan suasana saat ini, dimana proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena pandemi Covid 19 ini sedang berlangsung? 

Menurut hemat penulis, apa yang sedang terjadi dengan proses PJJ ini hanyalah mutlak sebagai sebuah proses pengajaran semata,  dan belum bisa disebut sebagai sebuah proses pendidikan. Mengapa demikian? Karena proses pengajaran dengan metode PJJ ini tidak mempunyai unsur transformasi atau pembentukan ahlak dan jiwa siswa, dikarenakan tidak ada pertemuan yang nyata antara guru dengan siswa, sehingga proses percontohan dan proses keteladanan dari guru kepada siswa secara langsung tidak terjadi.

Proses PJJ ini hanya berisikan kegiatan memberi soal dan mengerjakan soal saja. Dapat dimaklumi, karena keterbatasan waktu dan quota internet yang dimiliki oleh para guru dan murid-muridnya itu sendiri. 

Apalagi jika proses PJJ ini dilakukan oleh para anak-anak usia SD, dimana mereka sangat membutuhkan guru dan teman-teman sebayanya untuk bermain dan bercengkrama. Belum lagi sifat bosan mereka yang cukup tinggi, sehingga dengan cepat memicu kelamahan otak dalam berfikir. Akhirnya sang anak menjadi bosan, yang pasti diiringi dengan kenaikan emosi orangtuanya.

Di sinilah saat mati surinya pendidikan Indonesia. Keadaan dimana proses transfer ilmu pengetahuan menjadi kacau, dan tidak adanya proses transformasi mental dan kejiwaan, serta akhlak untuk menjadi lebih baik. Astagfirullahaladziim...

Saat inilah, orangtua harus mengambil alih proses  pendidikan anak-anak mereka, sebagai solusi dari mati surinya pendidikan Indonesia secara formal ini. Orangtua harus mampu untuk memberikan nasihat, sekaligus mampu mencontohkan tentang kejujuran, adab dan akhlak mulia, serta nilai-nilai Illahiyah lainnya. Banyaknya waktu para siswa yang katanya 'belajar dari rumah' dengan para orangtua mereka di rumah, merupakan situasi yang masih harus disyukuri di tengah kondisi pandemi ini. Para orangtua dapat menggantikan peran para guru anak-anak mereka yang saat ini belum bisa bertatap muka langsung seperti biasanya.

Tetapi di sisi lain,  banyak juga kecurangan, dan ketidakjujuran yang terkadang justru dilakukan  oleh para orangtua siswa itu sendiri dalam mengerjakan soal dan tugas yang diberikan secara online dari para guru-guru anaknya di sekolah.

Ketidakmampuan pemerintah dalam menanggulangi wabah Covid 19 di negara ini, juga menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi anak-anak kita, agar kelak jika mereka menjadi pemimpin atau penyelenggara negara ini, mereka harus menjadi pemimpin dan penyelenggara negara yang cerdas, jujur, dan berani dalam membela rakyatnya,  dan membela kebenaran. Tidak seperti para pemimpin dan para penyelenggara pemerintahan yang ada sekarang ini. 

Semoga keadaan yang serba tidak jelas ini cepat berlalu, dan semoga proses pendidikan negara ini cepat kembali normal. Seperti lirik dalam sebuah lagu...Bad days pasti berlalu. Aamiin ya Allah ya Robbal'alamiin.

Jakarta, 3 September 2020