Home Opini Mencari Rumah Spritual

Mencari Rumah Spritual

Ismail Lutan

118
0
SHARE
Mencari Rumah Spritual

Mencari Rumah Spritual

Oleh Ismail Lutan

Agama adalah akal. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal. Ketika akal terus mencari esensi Tuhan dengan perangkat ilmu pengetahuan yang dimilikinya, maka tekadang ia dapat melampaui kebenaran wahyu. Dan pemikir yang mendeklarasikannya dicap kafir atau murtad.

Pertentangan antara sains modern sebagai produk akal,  dengan wahyu tuhan yang mutlak dan tak terbantahkan  sudah sering  terjadi dalam sejarah agama. Utamanya agama samawi  atau agama monoteis.

Ingat misalnya bagaimana  Galileo Galilei menjungkir balikkan pandangan gereja tentang bumi datar sehingga ia dihukum. Tetapi akhirnya kebenaran pemikirannya dapat dibuktikan dengan sains modern ketika manusia bisa ke angkasa dan memotret bumi dari luar atmosfir.

Namun, persaingan antara sains modern dan wahyu tuhan yang mutlak, pada titik tertentu akan bertemu. Ada semacam kompromi oleh tokoh-tokoh yang berendah hati untuk mempersamakan hasil pemikirannya dengan wahyu yang mutlak itu. Sehingga apa yang dihasilkan oleh produk pikirannya  diakui sebagai  pembenaran wahyu tuhan yang belum tercatat.  

Namun dalam perjalanan waktu berikutnya persaingan itu akan muncul kembali. Dan penjaga  otoritas kebenaran tuhan akan mencap kembali orang-orang yang berbeda pandangan dengan kebenaran wahyu yang dijaganya sebagai orang kafir atau murtad.

Begitulah seterusnya. Pertentangan akal dan wahyu selalu ada!

Bagi penggemar film-film bergenre post modern, seperti The Name of The Rose karya Umberto Eco, atau Da Vinci Code dan Angels and Demonds karya Dan Brown akan melihat bagaimana kuatnya pertentangan antara gereja sebagai pemegang otoritas kebenaran wahyu dengan perkembangan sains yang tak terbendung. Mereka melakukan segala cara untuk mempertahankan keyakinannya.

*

Buku karya Denny JA berjudul Sprituality of Happiness, Spritualitas Baru abad 21 Narasi Ilmu Pengetahuan,  seakan-akan mempertemukan sains modern dan kebenaran wahyu tuhan yang mutlak. Sehingga agama dan sains berjalan seiring dan saling melengkapi. Buku ini merangsang kita  berpikir kritis untuk  mencari hakikat hidup dan kebahagiaan.

Denny, dalam bukunya itu, seolah-olah mendapatkan ‘teman’ selain agama untuk mencapai tujuan hidup.  Yang bisa membuat penganutnya menemukan kebahagiaan. Rumus yang dikemukakannya adalah  3P+2S.

3 P adalah Personal relationship, Positivity dan Passion. Sedangkan 2 S yang dimaksud adalah Small winning dan Spritual blue diamonds.

Denny berangkat dari cabang ilmu baru yang tumbuh pesat sejak tahun 1950, yakni Neuroscience. Menurut ilmu ini, sumber kebagagiaan ada di otak. Bukan di hati, seperti yang selama ini diyakini oleh pemeluk agama samawi, utama Islam. Berdasarkan sebuah hadis Rasulullah, yang berbunyi (terjemahan bebas) “di dalam tubuh manusia  terdapat  segumpal daging. Jika daging itu rusak maka rusaklah semuanya dan jika daging itu bagus maka baguslah semuanya.”

Di dalam otak, menurut neuroscience, terdapat rumah spiritual (parietal cortex). Jika aktif di bagian ini maka rasa religiolitas, renungan spiritual akan menemukan jawabannya.

Pertanyaan pamungkasnya adalah apakah rumus sakti Deny, 3P+2S mampu menemukan rumah spiritual yang ada dalam otak itu?

Sangat menarik untuk didiskusikan!***