Home Opini MAYORITAS MARJINAL

MAYORITAS MARJINAL

421
0
SHARE
MAYORITAS MARJINAL

Oleh: J. Faisal 
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

 

Terinspirasi dari tulisan dan pemikiran Mas Hersubeno Arif yang mempertanyakan, apa yang akan dilakukan oleh umat Islam Indonesia setelah tiga kali reuni akbar 212 di Jakarta, dimana terakhir dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2019 yang lalu? 

Berbagai fakta keadaan umat Islam Indonesia secara umum telah digambarkan dengan gamblang oleh beliau dalam tulisannya tersebut. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, fakta yang dibeberkan oleh Mas Hersubeno Arif memang benar adanya menurut pandangan saya pribadi. 

Lemahnya daya saing umat Islam Indonesia dalam segala lini kehidupan, baik itu ekonomi, politik, pendidikan, dan teknologi, merupakan sebuah fenomena yang sudah terjadi sejak
 Indonesia merdeka. Selama 75 tahun kehidupan umat Islam di Indonesia terasa semakin melemah dalam persatuan dan semangat kesatuannya dalam menegakkan agama ini. Padahal dulu ketika bangsa ini masih berjuang secara fisik melawan penjajah Belanda dan Jepang, umat Islam menjadi umat yang paling depan dalam berperang melawan para penjajah tersebut. ‘Arti’ mayoritas kita selalu tampak dan menjadi kebanggaan. Islam menjadi sebuah keyakinan dan agama pemersatu yang kuat dalam perjuangan. 

Tetapi saat ini, Islam bukan lagi menjadi kebanggaan. Kebanggaan itu telah digantikan posisinya oleh teknologi, gaya hidup, kekayaan, dan kekuasaan. Hasilnya sudah pasti diketahui, maka umat Islam akan bersaing sesama umat Islam sendiri dalam mendapatkan kebanggaan hidup yang semu tersebut, yaitu berupa kekayaan, kekuasaan, teknologi, dan bentuk hedonisme lainnya. Jika Islam tidak lagi dijadikan kebanggaan bersama, maka tidak ada lagi yang namanya persatuan, yang ada hanyalah persaingan dan kompetisi yang tidak jelas.
 Memang benar kita menang dalam hal jumlah sehingga menjadi kaum mayoritas, tetapi kita justru menjadi mayoritas yang marjinal, dan bukanlah mayoritas yang menguasai. 

Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya. Jika perlu kita harus menjadi umat yang bisa menguasai dunia dengan harta dan ilmu yang kita miliki. Tetapi, jika Islam masih menjadi kebanggaan dan pemersatu, maka umat Islam seharusnya menjadi paham, bahwa dengan ilmu, harta, juga jabatan dan kekuasaan yang dimiliki tersebut seharusnya bisa menjadi alat untuk menegakkan agama ini dengan bersatu dan saling tolong- menolong sesama muslim. Bukannya untuk saling bersaing dan menjatuhkan sesama muslim. 

Reuni 212 seharusnya memang tidak sekedar hanya dijadikan sebagai ajang reuni semata. Atau hanya menjadi ajang laga untuk menunjukkan bahwa Islam itu masih banyak pemeluknya dan masih menjadi mayoritas dinegeri ini, tetapi itu semua kosong dalam kualitas. Umat Islam dapat melanjutkan reuni tersebut menjadi sebuah penggalangan kekuatan umat dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan nasionalisme. 

Dalam hal ekonomi, reuni 212 seharusnya dapat membangun sebuah ‘kerajaan’ ekonomi baru yang lebih Islami demi kemajuan umat Islam itu sendiri. Ekonomi yang bebas riba, dan bebas kapitalisme. Ekonomi yang berdasarkan praktek-praktek perekonomian yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Umat Islam harus memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni dalam menjalankan roda perekonomian umat. Euphoria 212 mart misalnya, seharusnya dikelola dengan lebih professional lagi. Jika perlu harus terus dikembangkan ke sector riil lainnya, seperti perumahan Islami, pendidikan Islam, dan lainnya. Wujudkan konsep-konsep untuk menguasai ekonomi Indonesia dalam genggaman umat Islam ke dalam tindakan nyata, tidak hanya terhenti konsep-konsep tersebut di atas kertas saja. Arahkan
  umat untuk berbicara dan berdiskusi tentang ekonomi, pendidikan, dan politik Islami, selain berbicara tentang masalah surga dan neraka. 

Saat ini umat Islam sedang difitnah dan diadudomba dengan isu-isu radikalisme. Harus dipahami bahwa isu radikalisme hanyalah akal-akalan pemfitnah yang ingin membenturkan umat Islam satu sama lain. Radikalisme di sini tentu saja diartikan dengan umat Islam yang senang melakukan kekerasan, memberontak terhadap aturan pemerintah, dan menolak ideology Pancasila sebagai dasar Negara. Kita dapat katakan bahwa itu semua hanyalah fitnah murahan yang seharusnya dicerna oleh umat Islam sebagai tantangan pemikiran. Kemerdekaan Negara ini saja diperjuangkan oleh umat Islam, kemerdekaan ini juga diisi oleh umat Islam dengan hal-hal yang positif dan sudah terbukti dalam banyak hal, jadi bagaimana mungkin umat Islam selalu dicurigai dan identikkan dengan sifat-sifat radikalisme di atas. Bisa jadi, isu radikalisme adalah isu-isu pesanan musuh Islam dari luar bangsa ini untuk membenturkan umat Islam dan membuat umat Islam merasa takut dengan agamanya sendiri. 

Umat Islam saat ini harus cerdas dalam membaca situasi kebangsaan yang saat ini sedang terjadi, dan mampu memberikan solusi atas segala permasalahannya. Saat ini umat Islam sedang menghadapi serangan ideology dari berbagai macam arah, baik dari kalangan Islam itu sendiri, terlebih lagi dari kalangan luar Islam. Pemahaman liberalism, sekularisme, pluralism, multikulturalisme, relativisme, dan yang lebih nyata, komunisme adalah merupakan ideologi-ideologi yang selalu ingin menghancurkan Islam. Karena itu umat Islam harus berpendidikan dan mempunyai pemahaman yang benar tentang Islam itu sendiri agar bisa memerangi ideology-ideologi sesat tersebut (
Ghazwul Fikr).  Karena jika umat Islam tidak cerdas dan berpendidikan, maka bukanlah mustahil jika Islam sebagai agama hanya akan menjadi slogan semata atau hanya menjadi tulisan isian kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) umatnya saja. 

Sehingga yang terjadi adalah umat mengaku beragama Islam tetapi bertingkahlaku dan bertindak di luar aturan Islam, dengan kata lain tingkahlaku dan tindakannya akan sangat menyimpang dari Islam. Inilah sebenarnya tujuan utama musuh-musuh Islam, menjadikan umat Islam terpisah dengan Islamnya. Masih belum sadar juga saudaraku? 

Sampai bertemu di reuni 212 berikutnya. Semoga umat Islam bisa berubah menjadi lebih baik, lebih bersatu, lebih kuat dan lebih cerdas. Aamiin 

Wallahu’alam bissowab