Home Opini Kritisi Mengapa Kemiskinan Tidak Pernah Habis-habis di Indonesia

Kritisi Mengapa Kemiskinan Tidak Pernah Habis-habis di Indonesia

Parni Hadi, Inisiator dan Ketua Pembina Dompet Dhuafa :

389
0
SHARE
Kritisi Mengapa Kemiskinan Tidak Pernah Habis-habis di Indonesia

Keterangan Gambar : Parni Hadi, Pendiri Dompet Dhuafa


"Jangan terlalu lama dan banyak berpidato, tapi ayooo ... lakukan aksi." _ Parni Hadi Pendiri Dompet Dhuafa

Saya bertanya sudah lama Indonesia mencoba memerangi kemiskinan ? Koq masih banyak orang miskin, mengapa ? pasti ada yang salah dalam penanganannya.

Jadi saya pikir dan saya pernah lakukan di tahun 2016, bagaimana kita kritis mengapa kemiskinan tidak pernah habis-habis di Indonesia, apa salah metodenya ? apa salah manusianya ? atau ada hal lainnya.

Saya bahagia karena Dompet Dhuafa sudah memulai karya besar ini, tolong dikritisi dan beri masukan. Kita diskusi bersama-sama dan kita pecahkan masalah ini bersama-sama.

Saya ingin menyampaikan, pak Harto dengan Orde Barunya memulai mengentaskan kemiskinan, serius melaksanakan program mengentaskan kemiskinan, tetapi masyarakat masih miskin tidak habis-habis, begitu banyak masyarakat miskin, tetapi kita harus akui pemerintah pun berusaha mati-matian dan meyakinkan bahwa pembangunan untuk mengentaskan kemiskinan.

Saya mengamati proses pengentasan kemiskinan dimulai dengan Pro-Blem, Pro-Pertumbuhan, lalu masuk musim cinta atau peduli lingkungan dimulai, Pro-enviroment. Setelah itu tetap toh masih banyak orang miskin. Karena semua lalu di Pro -yekkan, ini kacau. Kita tidak pernah berhasil mengentaskan masyarakat miskin. Maka hari ini saya ingin agar di Poverty Outlook diskusinya membahas kritis

Pemerintah sudah berupaya maka kita harus kritisi, mengapa sebagai pengemban amanah, pengemban pelaksana tugas negara belum juga berhasil mengentaskan kemiskinan. Upaya yang telah pemerintah lakukan harus kita hargai. 

Dompet Dhuafa sahabat siapa saja, esok atau lusa.  Dompet Dhuafa akan bekerjasama dengan kabupaten-kabupaten, salah satunya yang akan dilaksanakan dengan kabupaten Magetan. Jadi kita kembangkan, kita mulai dari sebuah kawasan, kita uji coba dengan support dari Bupatinya. Kemudian programnya di kloning dan kita sukseskan.

Saya pikir selama ini mengikuti, mendampingi, dan mengamati Dompet Dhuafa, kita berpikir dengan keras dan ada apa dengan pengiatan kita, menurut saya penggiatan kita ini yang charity, kita ubah dengan penggiatan pemberdayaan, masyarakat miskin harus melakukan pemberdayaan atau empowerment. 

Maka saya mencoba benar-benar mempersiapkan perilaku entrepreneur. Semangatnya ingin menolong orang tapi harus membentuk orang itu menjadi entreneurship. Kita kembangkan semangat kedermawanan tetapi dengan muatan harus spirit menciptakan kewirausahaan. Maka saya kembangkan prophetic philanthoropreneur, kebebasan sosial sehingga biar kita makin canggih.

Makanya saya meminta jangan banyak program, cukup kembangkan jiwa kewirausahaan, kita bina mereka dan dampingi terus-menerus. Jangan dilepas sebelum mereka mampu berdiri sendiri dalam berwirausaha.

Kita juga harus multitasking, karena kita harus memulai bahwa orang harus bisa mengerjakan lebih dari satu kerja. Untuk mandiri saya meminta kepada tim untuk tolong mandiri kan mereka kaum dhuafa menjadi wirausaha yang mandiri. Mandiri kita beri modal, pancingan, logo, kita beri pendampingan agar mereka menjadi wirausaha yang mandiri dan jangan jadi koruptor.

Karena korupsi adalah musuh nomer satu dan selama masih ada korupsi, susah kita. Dan repotnya bila masyarakat miskin belajar korupsi, maka mindsetnya kita rubah menjadi wirausahawan yang mandiri serta jujur, dan saya yakin bisa.

#proyekpengentasankemiskinan