Home Opini KETENANGAN DALAM ALUNAN DEGUNG SABILULUNGAN.

KETENANGAN DALAM ALUNAN DEGUNG SABILULUNGAN.

139
0
SHARE
KETENANGAN DALAM ALUNAN  DEGUNG SABILULUNGAN.

Oleh : Imansyah Hakim Al Rasyid.
Wartawan, penulis dan pengurus PJMI.

 
Di ujung abad ke 19.. kala itu kisaran tahun 1980 an, disaat bumi masih bersahabat,  Kawasan Megamendung saat pertama kali kendaraan yang waktu itu masih langka,  cuaca berkabut mulai terasa, dingin dan menyegarkan.

Masuk kawasan Gunung Mas, restoran Rindu Alam, pastinya badan tambah menggigil diselimuti kabut.

Tujuan saya waktu itu ke Perkebunan Teh Ciseureuh lewat Hanjawar, Loji dan lanjut menapaki jalan hancur hancuran menuju Perkebunan Teh Ciseureuh di desa Batulawang.

Jalan menuju kesana tak bisa tidak waktu itu harus melalui jalur puncak, berlibur kerumah family dari ibu yang menikahi perempuan asal Ciseureuh dirumah panggung,  milik perkebunan untuk para pegawainya.

Depan rumah dibuatkan kolam dengan ikan mas air gunung menggelontor dengan derasnya,  sementara ditepian ditumbuhi pohon alpukat yang kerimbunan dedaunannya ditumpangi lebatnya pohon labu siam.

Ciseureuh berkabut, suhu bisa mencapai dibawah 5 derajat waktu itu minyak goreng menggumpal seperti keju belanda. Saya bisa melihat sendiri asap kabut keluar disela sela tanah sekeliling punggung bukit, seperti makhluk halus keluar dari persembunyiannya. Pokoknya dingin menggiriskan.

Teringat saya, waktu dulu kalau kita mau ke Arca yang sekarang masuk Desa Sukawangi, itu kami harus berjalan kaki menaiki punggung bukit disela sela tanaman teh, lalu turun bukit hingga pohon teh berganti menjadi pohon pohon cemara, maka sampailah kami ke kampung Arca, mengunjungi family keluarga.

Tak dinyana seiring berjalannya waktu, kini kalau saya mau ke Ciseureuh bisa melewati Jonggol, Sukamakmur, dan pastinya melewati hutan tanaman cemara disinilah kampung Arca berada.

Perkebunan teh ciseureuh hingga punggung bukit kampung Arca yang dulunya bagian dan batas dari perkebunan teh kini tinggal kenangan, tanaman teh nya sudah berganti dengan tanaman kopi sebagian, serta tanaman sayuran, seperti sawi putih, pokcoy, kol, wortel, daun bawang, seledri, tomat, cabai, dan lain sebagainya. Tumbuh subur, berjajar rapi menanti saatnya dipanen.

Rupanya kampung Arca bukan hanya menyajikan hasil bumi berupa sayuran, ternyata terdapat satu komunitas padepokan seni budaya khas 'urang sunda' yaitu seni musik dan tari, degung, calung, yang erat kaitannya dengan musik berbahan baku bambu dimainkan secara kompak harmonis dan dinamis.

Ditangani seorang aktifis perempuan bernama Lala Daniati yang asli urang sunda kelahiran kampung Arca, kesenian musik dan tari Degung dan Calung asal kampung Arca ini diharapkan dapat merubah spectrum baru tentang budaya kearifan lokal yang bersahaja dan bersahabat dengan alam lingkungan,  yang saat ini mulai tergeser dengan budaya budaya vandalisme, berupa gadget, game online yang  meruak masuk tanpa filter dan dapat merusak alam fikir pemuda yang masih polos.

Kearifan lokal telah terbukti dapat bertahan ratusan tahun, menjadikan manusianya hidup rukun, gotong royong, bahu membahu dalam setiap permasalahan bangsa dan negara.
Sedangkan kebudayaan masa kini berupa gadget, game online,  lebih cenderung menjadikan manusianya individualistis, picik dan egois serta keterikatan tiada henti,  sebab game online memang sengaja diciptakan untuk agenda seperti itu.

Melalui padepokan Giriwangi, besutan ibu Lala Daniati yang dibantu bapak Rahman selaku wakil ketua FWKS serta suami Lala sendiri Tunggul Yani, diharapkan tradisi kesenian Degung dan Calung khas Bogor Timur ini, diharapkan dapat menangkal budaya budaya asing yang dapat merusak generasi muda bangsa.

Wallahu A'lamu.