Home Opini Kedelai Mahal, Dampak Refocusing Anggaran Covid-19?

Kedelai Mahal, Dampak Refocusing Anggaran Covid-19?

244
0
SHARE
Kedelai Mahal, Dampak Refocusing Anggaran Covid-19?

Oleh: Nama: Erlita Nur Safitri,
Alumnus Universitas Pancasila 


Belakangan ini harga tempe, tahu dan olahan kedelai lainnya mengalami kenaikan harga. Hal ini disebabkan tingginya harga kedelai dan persediannya juga minim. Menurut Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menjelaskan dua penyebab harga kedelai impor mahal di Indonesia, yakni cuaca buruk El Nina di Argentina, Amerika Selatan, yang mengakibatkan harga kedelai dari 12 dolar AS menjadi 18 dolar AS dan permintaan kedelai tinggi, terutama dari Cina (kompas.com 19/2/2022).

Begitu juga Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo angkat suara, pihaknya kesulitan menggenjot produksi kedelai dalam negeri karena anggaran yang dipangkas imbas akibat kebijakan refocusing akibat pandemi Covid-19. Faktor lainnya yang membuat harga kedelai tinggi, karena petani dalam negeri tidak terlalu tertarik untuk menanam kedelai akibat harga jual yang murah. "Kenapa impornya lebih besar karena harga di luar jauh lebih murah, sementara petani kita baru bisa untung kalau dibeli di atas Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per kilo, barulah dia akan untung," katanya (suara.com 14/02/2022)

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syafiruddin pun menyampaikan jika kualitas produksi kedelai lokal mampu memenuhi standar mutu tahu dan tempe maka akan dibeli dengan harga Rp9.000- Rp9.500 per kilogram. Mutu yang dimaksud antara lain umur panen yang sesuai, keseragaman warna, tidak tercampur kotoran, dan sebagainya sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan di lab uji. Lalu pemerintah membatasi impor kedelai GMO/Transgenik maksimum 2 juta ton. Karena kebutuhan 1 juta ton diharapkan nantinya dapat terpenuhi dari target produksi kedelai lokal. Hal ini menurutnya dapat dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas produksi kedelai lokal (suara.com 28/02/2022).

Menurut Adh, 2021 ini hingga semester I investasi industri makanan dan minuman meningkat 84%, dan ini menunjukkan kebutuhan bahan baku semakin besar dan meningkat. Jika pemenuhan bahan baku di hulu tidak sinkron dengan kebutuhan maka Indonesia akan semakin tergantung dengan impor (cnbcindonesia.com 5/8/2022).

Fakta di atas diketahui bahwa saat ini kita masih sangat tergantung pada impor. Nyaris semua bahan pangan seperti jagung, kedelai, susu, gula hingga garam pun semuanya serba impor. Di level internasional, Indonesia pun didapuk sebagai peringkat ketiga negara terbesar pengimpor pangan. Namun, benarkah kedelai mahal, dampak refocusing anggaran Covid-19? Dalih refocusing anggaran Covid-19 sebagai salah satu alasan mahalnya harga kedelai terdengar kurang bijak terlontarkan. Betapa tidak, kedua masalah tersebut merupakan urusan yang wajib pemerintah selesaikan, yakni menangani wabah dan menstabilkan harga. Bahkan situasi pandemi masih saja dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan mendapatkan keuntungan maksimal, seperti kasus korupsi bansos Covid-19 oleh Mensos.

Dengan berbagai kisruh bahan pangan ini membuktikan bahwa pemerintah tidak serius mengatur dan membuat solusi atas permasalahan yang terjadi. Pemerintah telah gagal menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, khususnya mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Penguatan sektor pangan, khususnya di tengah pandemi, menjadi hal yang sangat krusial. Pemerintah semestinya menjadikan agenda ini sebagai fokus utama. Bukan justru sibuk mengurus proyek IKN dan membangun infrastruktur yang faedahnya tidak langsung dirasakan masyarakat, bahkan justru menambah berat beban keuangan negara.

Berbeda jika adanya penerapan sistem pemerintahan Islam. Sistem pemerintahan Islam dijalankan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Dalam menjalankan roda pemerintahannya semua berdasarkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di dalam Islam, seorang pemimpinnya pun haruslah amanah dalam menjalankan kewajibannya dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Semua dilakukan harus dilandasi keimanan kepada Allah SWT, sehingga setiap perbuatannya akan kembali lagi ke jalan Allah SWT.

Islam telah menetapkan seperangkat aturan yang menjamin negara mewujudkan ketahanan, bahkan kedaulatan pangan. Sistem ekonomi Islam memiliki konsep yang khas tentang kepemilikan, pengelolaan, dan distribusi kekayaan. Semuanya bertumpu pada prinsip keadilan hakiki, yang memperhatikan ‘nasib’ orang per orang, yang berbeda dengan kapitalisme neoliberal yang menuhankan prinsip kebebasan.

Dengan rusaknya sistem sekuler demokrasi kapitalisme ini tampak dengan jelas bahwa Islam lah satu-satunya solusi yang dapat menyelesaikan segala macam permasalahan. Sudah saatnya kita menegakkan syariat Islam. Sebab ketika Islam diterapkan, Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi.(*)